News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Filosofi dan Simbolisme Kehidupan dalam Tumpeng Nasi Kuning

Ina Herdiyana • Jumat, 10 April 2026 | 10:21 WIB
Sumber foto: FoodSpot
Sumber foto: FoodSpot

RadarBangkalan.id Tumpeng nasi kuning merupakan filosofi kuliner Indonesia, di mana makanan bukan sekadar pemuas lapar, melainkan simbol doa, rasa syukur, dan harmoni antara manusia dengan Sang Pencipta. 

Bentuknya yang kerucut menjulang tinggi terinspirasi dari bentuk gunung, yang dalam kepercayaan masyarakat tradisional dianggap sebagai tempat suci bersemayamnya para leluhur dan sumber keberkahan.

​Warna kuning keemasan pada nasinya dihasilkan dari kunyit alami, yang melambangkan kemuliaan, kekayaan, dan moral yang luhur.

Baca Juga: Pickles: Menjaga Kesegaran melalui Asam dan Garam 

Secara teknis, nasi kuning untuk tumpeng dimasak dengan santan dan rempah daun seperti daun salam dan serai untuk menghasilkan tekstur yang gurih, sedikit lengket agar mudah dibentuk, dan aroma yang menggugah selera. 

Bentuk kerucut ini diletakkan di atas tampah yang dialasi daun pisang, dikelilingi oleh tujuh jenis lauk-pauk, angka tujuh atau pitu dalam bahasa Jawa melambangkan pitulungan atau pertolongan. 

Lauk-pauk yang menyertai tumpeng pun dipilih bukan tanpa alasan. Biasanya terdapat unsur dari darat seperti ayam goreng, laut seperti ikan teri atau bandeng, dan bumi seperti sayuran urap atau kentang. 

Kehadiran telur rebus yang disajikan utuh dengan kulitnya melambangkan bahwa segala sesuatu harus direncanakan dengan matang, sedangkan sayur urap melambangkan kemampuan untuk menafkahi keluarga.

Baca Juga: Aston Villa Bungkam Bologna 3-1 di Leg Pertama, Ollie Watkins Jadi Bintang

Tradisi memotong pucuk tumpeng untuk diberikan kepada orang yang paling dihormati merupakan simbol penghormatan dan kerendahan hati dalam sebuah perayaan atau kenduri. (Athoya Hanin)

 

Editor : Ina Herdiyana
#Tumpeng #nasi kuning #simbol doa #rasa syukur #manusia dengan Sang Pencipta