News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Fufu: Kelezatan Tekstur Kenyal yang Menjadi Ikon Kuliner Afrika

Ina Herdiyana • Jumat, 1 Mei 2026 | 12:25 WIB
Sumber foto: Einfach Kochen
Sumber foto: Einfach Kochen

RadarBangkalan.id Fufu adalah makanan pokok yang sangat penting dan ikonik di wilayah Afrika Barat dan Tengah, yang menjadi sumber karbohidrat utama bagi jutaan orang.

Hidangan ini memiliki tekstur yang sangat unik, yaitu kenyal, lembut, dan padat, menyerupai adonan roti namun lebih elastis.

Secara tradisional, fufu dibuat dengan cara menumbuk bahan berpati seperti singkong, ubi jalar, atau pisang raja yang telah direbus hingga teksturnya berubah menjadi gumpalan halus yang tidak lengket di tangan.

Baca Juga: Kuliner Khas Madura: Resep Martabak Mini Renyah dengan Pembuatan yang Mudah

Karakteristik utama fufu terletak pada cara pembuatannya yang membutuhkan kekuatan fisik dan kesabaran.

Di banyak negara seperti Ghana, Nigeria, dan Kamerun, proses menumbuk fufu di dalam lesung kayu besar merupakan aktivitas sosial yang sering melibatkan kerja sama antaranggota keluarga.

Seiring dengan modernitas, kini tersedia versi instan berupa tepung fufu yang cukup diaduk dengan air panas di atas kompor, namun versi tradisional tetap dianggap memiliki tekstur dan cita rasa yang paling autentik.

Dalam tradisi kuliner Afrika, fufu tidak pernah dinikmati sendirian karena rasanya yang cenderung tawar dan netral.

Baca Juga: Ikan Sapu-Sapu Jadi Ancaman Nyata bagi Keseimbangan Lingkungan

Ia selalu disajikan bersama sup atau semur yang kaya rempah dan berkuah kental, seperti sup kacang tanah, sup okra, atau egusi soup. Cara menikmatinya pun sangat khas dan memiliki etikanya sendiri.

Biasanya fufu dimakan menggunakan tangan kanan dengan cara mencubit sedikit adonan, membentuknya menjadi bola kecil, membuat cekungan di tengahnya dengan jempol, lalu menggunakannya sebagai sendok untuk menyenduk kuah dan daging.

Salah satu keunikan fufu adalah cara menelannya, di mana secara tradisional fufu tidak dikunyah, melainkan langsung ditelan agar tekstur lembutnya bisa meluncur halus di tenggorokan.

Hal ini dilakukan agar rasa dominan yang dirasakan berasal dari kuah sup yang menyertainya, sementara fufu memberikan rasa kenyang yang tahan lama.

Baca Juga: Revolusi Higienitas: Bagaimana Sabun Mengubah Peradaban Manusia

Sebagai simbol ketahanan pangan dan warisan budaya, fufu bukan sekadar makanan, melainkan elemen yang menyatukan masyarakat dalam momen kebersamaan di meja makan. (Athoya Hanin)

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#Fufu #khas Afrika #karbohidrat #Makanan Pokok #kuliner