News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Fermentasi Ikan Tradisional: Mengubah Hasil Sungai Menjadi Umami Alami

Ina Herdiyana • Kamis, 7 Mei 2026 | 12:26 WIB
Sumber foto: Facebook
Sumber foto: Facebook

RadarBangkalan.id – Ikan air tawar ikonik yang sangat dihargai dalam tradisi kuliner Sumatera dan Kalimantan.

Fermentasi pada jenis ikan ini merupakan teknik pengawetan kuno yang lahir dari kebutuhan untuk menyimpan hasil tangkapan yang melimpah di sungai-sungai besar. 

Melalui proses biologis yang terkontrol, tekstur daging ikan yang lembut bertransformasi menjadi produk dengan aroma tajam dan cita rasa umami yang sangat kuat, menciptakan dimensi rasa yang tidak bisa didapatkan dari ikan segar.

Baca Juga: Rambut Rontok Bikin Khawatir? Masker Telur dan Yogurt Jadi Perawatan Alami yang Bisa Dicoba

Ciri khas fermentasi ikan ini terletak pada keseimbangan antara penggunaan garam dan nasi sebagai bahan fermentasi, dan waktu simpan.

Secara tradisional, ikan dibersihkan dan dicampur dengan garam kristal untuk mendukung pertumbuhan bakteri baik (Lactobacillus). 

Proses ini dilakukan di dalam wadah tertutup rapat selama beberapa hari hingga beberapa minggu.

Hasilnya adalah produk seperti pekasam atau wadi, di mana daging ikan menjadi lebih kenyal dan memiliki aroma asam-gurih yang sangat menggugah selera bagi penikmatnya.

Baca Juga: Warga Bangkalan Protes Jalan Rusak Parah, Pemkab Dinilai Abai

Selama proses fermentasi berlangsung, terjadi pemecahan protein ikan menjadi asam amino sederhana yang lebih mudah diserap oleh tubuh.

Selain meningkatkan nilai cerna, fermentasi juga berfungsi sebagai pengawet alami yang menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk sehingga ikan dapat disimpan dalam waktu lama tanpa lemari pendingin. 

Secara tampilan, ikan hasil fermentasi ini biasanya memiliki warna yang sedikit lebih gelap dan tekstur yang tidak lagi amis, tetapi memiliki aroma fermentasi khas yang menandakan keberhasilan proses pengolahan tradisional tersebut.

​Di era modern, olahan fermentasi ikan seperti ini tetap menjadi primadona karena kemampuannya meningkatkan nafsu makan.

Baca Juga: Pria di Mojokerto Diduga Bunuh Ibu Mertua dan Lukai Istri karena Cemburu

Biasanya, ikan hasil fermentasi diolah kembali dengan cara digoreng bersama irisan bawang merah dan cabai, atau dimasak dengan santan untuk menyeimbangkan rasa asin dan asamnya. 

Meskipun kini ikan pede asli semakin langka dan dilindungi, teknik fermentasi ini tetap lestari menggunakan jenis ikan sungai lainnya.

Ini membuktikan bahwa warisan rasa dari teknik pengawetan leluhur memiliki tempat abadi dalam selera masyarakat Nusantara. (Athoya Hanin)

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#ikan sungai #umami alami #Fermentasi #tradisional