RadarBangkalan.id – Buah carica menjadi salah satu komoditas khas pegunungan yang semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Buah yang banyak tumbuh di kawasan dataran tinggi Dieng ini tidak hanya terkenal karena rasanya yang unik, tetapi juga karena nilai ekonominya yang cukup tinggi bagi warga setempat.
Carica sering disebut sebagai “pepaya gunung” karena masih satu keluarga dengan pepaya.
Baca Juga: Membanggakan! Siswa SDN Banyubunih 1 Raih Juara I O2SN Kids Atletik Tingkat Kabupaten Bangkalan
Namun, ukuran buah ini lebih kecil dengan tekstur yang lebih padat dan aroma yang khas.
Tanaman carica sendiri tumbuh optimal di dataran tinggi bersuhu dingin, sehingga cukup sulit dibudidayakan di wilayah panas atau dataran rendah.
Di kawasan dataran tinggi Dieng, buah carica telah lama menjadi bagian dari identitas daerah. Wisatawan yang datang berkunjung umumnya menjadikan olahan carica sebagai oleh-oleh wajib.
Produk yang paling populer adalah manisan carica dalam sirup yang dikemas dalam botol maupun cup siap konsumsi.
Baca Juga: Kasus Penganiayaan di Bangkalan, Tim Pengacara Korban Minta Berkas Tiga Tersangka Segera P21
Selain memiliki cita rasa manis dan sedikit asam yang menyegarkan, carica juga dikenal mengandung berbagai nutrisi seperti vitamin C, vitamin A, serta serat yang baik bagi tubuh.
Kandungan tersebut membuat buah ini kerap dikonsumsi sebagai camilan segar sekaligus pelengkap makanan penutup.
Meski demikian, budi daya carica memiliki tantangan tersendiri. Tanaman ini sangat bergantung pada kondisi iklim pegunungan yang sejuk.
Perubahan cuaca ekstrem dan menurunnya kualitas lahan disebut dapat memengaruhi hasil panen para petani. (Farah Arisanti)
Editor : Ina Herdiyana