JAKARTA – Bahaya merokok bagi kesehatan sudah bukan sekadar omongan belaka. Fakta ilmiah dari berbagai jurnal medis hingga laporan kasus kesehatan menunjukkan bahwa rokok jadi salah satu penyebab utama berbagai penyakit serius.
Namun begitu, menghentikan kebiasaan merokok secara total bukan hal yang mudah. Terlebih bagi mereka yang sudah kecanduan berat. “Lebih baik tidak makan daripada tidak merokok,” jadi ungkapan yang sering dilontarkan perokok garis keras.
Pertanyaannya, adakah alternatif yang lebih aman? Jawabannya: ada. Yakni produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin. Sayangnya, produk-produk ini masih kerap dipersepsikan sama bahayanya dengan rokok konvensional.
Namun anggapan itu mulai runtuh setelah muncul laporan dari Office for Health Improvement and Disparities (OHID) tahun 2022 dan Royal College of Physicians tahun 2024 di Inggris. Keduanya menyebutkan bahwa produk tembakau alternatif lebih rendah risiko dan lebih efektif membantu perokok dewasa mengurangi konsumsi rokok.
Profesor Caitlin Notley, ahli adiksi dari Universitas East Anglia, menyebut produk ini memang tidak sepenuhnya bebas risiko. Namun, tingkat bahayanya jauh lebih rendah dibandingkan rokok biasa.
“Pendekatan berhenti total tidak selalu berhasil. Banyak perokok gagal di tengah jalan. Produk tembakau alternatif memberi opsi realistis untuk mengurangi bahaya,” kata Prof. Notley, dikutip Selasa (20/5).
Sayangnya, lanjutnya, produk-produk ini sering kali dibayangi stigma negatif, bahkan dituduh sama beracunnya dengan rokok. Hal ini, menurutnya, justru bisa menghalangi para perokok untuk mencoba alternatif yang lebih aman.
Studi King’s College London mengungkap bahwa tingkat keberhasilan berhenti merokok menggunakan produk tembakau alternatif mencapai 64,9 persen, lebih tinggi dibandingkan metode berhenti tanpa bantuan yang hanya 58,6 persen.
Laporan itu juga menyatakan bahwa sejak 2013, produk tembakau alternatif telah membantu 30 ribu hingga 50 ribu perokok setiap tahunnya untuk berhenti merokok.
Bahkan, dalam jangka waktu enam bulan, produk ini lebih efektif dibanding terapi pengganti nikotin.
Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan, menyebut berhenti merokok total bukan hal gampang karena gejala putus nikotin. Maka, produk alternatif bisa jadi jalan tengah yang lebih realistis.
“Oleh karena itu, kami mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan pengurangan risiko seperti yang dilakukan Inggris. Edukasi publik yang akurat juga sangat penting,” tegas Paido.
Menurutnya, kampanye negatif dan misinformasi justru jadi penghambat terbesar. Banyak orang masih percaya bahwa vape sama bahayanya dengan rokok, padahal tidak demikian menurut kajian ilmiah.
Selain itu, penyalahgunaan produk tembakau alternatif untuk konsumsi narkoba juga memperburuk citra. Padahal, lanjut Paido, produk ini ditujukan hanya untuk perokok dewasa, bukan untuk non-perokok atau anak-anak.
“Perlu penegakan hukum yang tegas dan edukasi yang masif. Penting untuk menegaskan bahwa produk ini bukan alat penyalahgunaan, tapi solusi alternatif untuk mengurangi bahaya merokok,” tandasnya.
Editor : Mohammad Sugianto