News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Cegah dan Sembuhkan Kusta, Jangan Tunggu Sampai Terlambat! Edukasi Dini dan Pengobatan Tepat Bisa Putus Mata Rantai Penularan

Ina Herdiyana • Jumat, 11 Juli 2025 | 04:52 WIB
Ilustrasi penyakit kusta yang menjadi perhatian Kementerian Kesehatan saat ini.
Ilustrasi penyakit kusta yang menjadi perhatian Kementerian Kesehatan saat ini.

RadarBangkalan.id – Penyakit kusta masih menjadi momok di sejumlah daerah, termasuk di Madura, yang masuk dalam wilayah endemis.

Padahal, penyakit ini bisa dicegah dan disembuhkan sepenuhnya jika ditangani dengan cepat dan tepat.

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kusta merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

Penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi, dan saluran pernapasan atas. Penularannya terjadi melalui kontak erat dan berkepanjangan, terutama lewat percikan cairan dari hidung atau mulut penderita yang belum diobati.

Gejala kusta sering kali tak disadari karena muncul secara perlahan. Tanda-tandanya antara lain bercak putih atau merah pada kulit yang mati rasa, kesemutan, atau mati rasa di tangan dan kaki, serta kelemahan otot.

Jika tidak segera ditangani, infeksi ini bisa menyebabkan kerusakan saraf permanen, bahkan kelumpuhan.

Pemerintah pusat hingga daerah gencar mendorong upaya deteksi dini melalui sosialisasi, skrining massal, dan pemberdayaan kader kesehatan.

Upaya itu sejalan dengan program nasional Eliminasi Kusta yang menargetkan Indonesia bebas penyakit tersebut.

Salah satunya dengan memacu puskesmas untuk lebih aktif mencari dan menangani penderita.

Seperti baru-baru ini, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memberikan tantangan dengan hadiah ratusan juta bagi puskesmas yang mampu menemukan penderita terbanyak di Sampang.

Penyakit kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) yang disediakan pemerintah secara gratis.

Baca Juga: Tips Diet Aman dan Sehat: Cara Turunkan Berat Badan Tanpa Ganggu Metabolisme Tubuh

Terapi ini berlangsung antara 6–12 bulan tergantung tingkat keparahan. Selain itu, pasien juga perlu dukungan keluarga dan lingkungan.

Sebab, stigma masih menjadi hambatan besar dalam penanganan kusta. Banyak penderita memilih diam dan menyembunyikan penyakitnya karena takut dikucilkan.

Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kusta bukan penyakit kutukan. ”Ini infeksi yang bisa disembuhkan. Jadi, penderita tidak boleh dikucilkan. Sebaliknya, harus diberi ruang untuk pulih dan berdaya,” ujarnya.

Dia juga mengajak masyarakat untuk aktif melapor jika menemukan gejala mencurigakan. ”Lebih cepat ditemukan, lebih cepat diobati. Dan kita bisa bersama-sama memutus mata rantai penularan,” tandasnya. (*)

Editor : Ina Herdiyana
#menkes #kusta #kemenkes #eduksi dini #pengobatan #penyakit #penularan #Mata rantai