News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Makanan Kaleng Ternyata Mengandung BPA Lebih Tinggi Dibanding Galon Air Minum, Ini Penjelasan Ahli

Mohammad Sugianto • Minggu, 10 Agustus 2025 | 21:46 WIB

 

Ilustrasi Seorang peneliti memeriksa kandungan BPA pada kemasan makanan kaleng dan galon plastik untuk memastikan keamanan pangan
Ilustrasi Seorang peneliti memeriksa kandungan BPA pada kemasan makanan kaleng dan galon plastik untuk memastikan keamanan pangan

Radarbangkalan.id – Berbagai penelitian mengungkap bahwa kandungan Bisphenol A (BPA) pada makanan kaleng jauh lebih tinggi dibandingkan galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) untuk wadah air minum. Fakta ini diungkap melalui riset yang dipublikasikan di Pubmed.gov, berdasarkan survei di Amerika Serikat (AS) dan Kanada.

Hasil penelitian menunjukkan, 60–70 persen produk makanan kaleng mengandung BPA, termasuk merek-merek besar. Konsentrasi BPA pada sampel makanan kaleng di AS tercatat mencapai 730 nanogram/gram (ng/g), sedangkan survei di Kanada menemukan kandungan BPA pada tuna kaleng rata-rata 137 ng/g bahkan mencapai puncak hingga 534 ng/g.

Di Indonesia, BPOM melalui Peraturan Nomor 20 Tahun 2019 telah menetapkan ambang batas BPA pada kemasan pangan, termasuk kaleng, sebesar 0,6 bpj atau 600 mikrogram/kg. Namun, riset yang sama menunjukkan bahwa migrasi BPA dari galon guna ulang berbahan polikarbonat berada di kisaran 0,128–0,145 ng/g, yang berarti jauh di bawah tingkat pada makanan kaleng. Bahkan beberapa penelitian menemukan tidak ada cemaran BPA yang berpindah dari galon guna ulang ke dalam air.

Menurut para peneliti di AS dan Kanada, konsumsi makanan kaleng merupakan jalur utama paparan BPA dibandingkan sumber lain seperti plastik, debu, atau thermal paper struk belanja. BPA dapat larut ke dalam makanan saat dipanaskan atau disimpan dalam waktu lama.

Sebuah studi dari Harvard School of Public Health (2011) membuktikan, konsumsi sup kaleng selama lima hari berturut-turut dapat meningkatkan kadar BPA dalam urin hingga 1.000 persen. Hal ini membuktikan bahwa paparan BPA dari makanan kaleng adalah nyata dan berdampak langsung pada tubuh manusia.

Ironisnya, di Indonesia narasi publik lebih sering menyasar galon air minum sebagai sumber utama BPA, sementara makanan kaleng yang menurut riset justru menjadi penyumbang terbesar nyaris luput dari perhatian.

Spesialis gizi klinik dr. Karin Wiradarma menegaskan, makanan kaleng merupakan sumber utama paparan BPA pada manusia.

“Sebuah studi menemukan BPA di 73 persen makanan kaleng, sementara pada makanan segar dan beku hanya sekitar 7 persen,” jelasnya.

Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi Prof. Ahmad Sulaeman dari IPB juga menyebut kandungan BPA pada kemasan kaleng lebih mengkhawatirkan dibanding galon air minum.

“Makanan kaleng bisa disimpan lama di toko atau rumah sebelum dikonsumsi. Kontak antara makanan dengan lapisan plastik epoksi yang mengandung BPA menjadi lebih lama,” tutupnya.

 

Editor : Mohammad Sugianto
#tips kesehatan #BPA #bisphenol a #galon air isi ulang