RadarBangkalan.id – Daun katuk adalah daun dari tanaman bernama ilmiah Sauropus androgynus. Bagi banyak ibu menyusui, daun katuk dianggap dapat membantu proses produksi ASI setelah melahirkan.
Dalam tradisi masyarakat, daun katuk kerap diolah menjadi sayur bening atau tumisan hangat yang disantap secara rutin. Kepercayaan ini bukan tanpa alasan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa daun katuk mengandung senyawa aktif yang diduga mampu merangsang hormon prolaktin dan oksitosin, yakni dua hormon penting dalam proses produksi dan pengeluaran ASI.
Selain dikenal sebagai galactagogue alami, daun katuk juga kaya nutrisi. Kandungan protein nabati, zat besi, kalsium, vitamin A, vitamin C, serta serat menjadikannya sayuran yang baik untuk kesehatan secara menyeluruh.
Zat besi yang terkandung di dalamnya juga membantu mencegah anemia pasca melahirkan, vitamin A baik untuk kesehatan mata, sementara vitamin C dan antioksidan berperan dalam menjaga daya tahan tubuh.
Tak heran jika di berbagai daerah, daun katuk menjadi menu wajib bagi ibu yang baru melahirkan.
Bahkan, kini daun katuk juga tersedia dalam bentuk kapsul atau ekstrak sebagai suplemen praktis.
Meskipun kaya manfaat, daun katuk sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan cara dimasak.
Konsumsi daun katuk mentah dalam jumlah berlebihan pernah dikaitkan dengan gangguan paru-paru dalam beberapa kasus.
Untuk ibu menyusui, konsumsi dalam bentuk sayur matang atau sesuai anjuran tenaga kesehatan merupakan pilihan paling aman. (Farah Arisanti)
Editor : Ina Herdiyana