News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Garam Himalaya, Sisa Laut Purba yang Terjaga Jutaan Tahun

Ina Herdiyana • Jumat, 3 April 2026 | 18:27 WIB
Garam Himalaya. Sumber foto: Hallo Sehat
Garam Himalaya. Sumber foto: Hallo Sehat

RadarBangkalan.id Garam Himalaya atau garam yang berwarna merah muda populer karena kandungan mineralnya dan karakteristiknya yang unik.

Garam ini diekstraksi dari Tambang Garam Khewra yang terletak di kaki pegunungan Himalaya, Pakistan. 

Berbeda dengan garam laut yang diproses melalui penguapan air laut, garam ini merupakan sisa-sisa deposit laut kuno yang terkubur selama jutaan tahun di bawah lapisan bumi sehingga sering dianggap lebih murni dari polutan modern.

Baca Juga: Jumat Agung 2026 Libur Nasional? Ini Tanggal, Makna, dan Jadwal Misa Lengkap

Warna khas yang berkisar dari putih tulang hingga merah muda gelap berasal dari kandungan mineral mikro yang ada di dalamnya. 

Selain natrium klorida, garam ini mengandung sisa-sisa zat besi, magnesium, kalsium, dan kalium.

Mineral-mineral inilah yang memberikan pigmen alami sekaligus rasa yang sedikit berbeda dibandingkan garam dapur biasa.

Garam ini pertama ditemukan menurut catatan sejarah dan cerita rakyat setempat yaitu di wilayah Punjab yang sekarang Pakistan, sekitar tahun 326 SM.

Baca Juga: Duduk Perkara Kasus Amsal Sitepu: Dari Proyek Video Desa hingga Sorotan Nasional

Saat itu, pasukan Alexander Agung sedang beristirahat di wilayah pegunungan setelah pertempuran sengit.

Di beberapa cerita dibutkan bahwa bukan para prajurit yang kali pertama menyadari keberadaan garam tersebut, melainkan kuda-kuda mereka.

Saat dilepaskan untuk mencari makan, kuda-kuda tersebut, termasuk Bucephalus, kuda milik Alexander Agung, terlihat menjilati batu-batu di sekitar area perkemahan. 

Para prajurit yang penasaran kemudian mencoba mencicipi batu tersebut dan menyadari bahwa batu-batu itu sebenarnya adalah kristal garam murni yang membeku di bawah tanah.

Baca Juga: Jelang 2027, Pemkab Bangkalan Harus Pangkas Belanja Pegawai hingga 30 Persen

Lokasi penemuan legendaris ini sekarang dikenal sebagai Tambang Garam Khewra, yang merupakan tambang garam terbesar kedua di dunia. 

Sejak penemuan yang tidak disengaja oleh pasukan Alexander itu, deposit garam ini mulai ditambang secara tradisional dan menjadi komoditas berharga yang diperdagangkan melintasi berbagai kerajaan selama berabad-abad.

Salah satu nilai jual utama garam ini adalah metode penambangannya yang sering dilakukan secara manual untuk menjaga keutuhan mineralnya.

Garam Himalaya umumnya tidak melalui proses pemutihan atau penambahan zat anti-penggumpal yang sering ditemukan pada garam meja industri sehingga sering dipilih oleh mereka yang mencari alternatif pangan yang lebih alami.

Pemanfaatan garam ini meluas hingga ke sektor gaya hidup dan dekorasi. Karena kemampuannya menahan suhu dengan stabil, lempengan besar garam Himalaya sering digunakan sebagai alas memasak atau penyajian makanan. 

Selain itu, lampu yang terbuat dari bongkahan garam ini populer digunakan sebagai elemen dekorasi ruangan karena pendar cahayanya yang memberikan suasana hangat dan tenang.

Meskipun sering dianggap lebih sehat, secara kimiawi garam Himalaya tetap terdiri atas sekitar 98% natrium klorida.

Perbedaan kandungan mineral mikronya sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan harian tubuh.

Karena itu, penggunaannya tetap perlu diperhatikan agar tidak melebihi batas konsumsi harian yang disarankan untuk menjaga kesehatan tekanan darah. Athoya Hanin

 

Editor : Ina Herdiyana
#garam himalaya #sisa laut purba #terjaga #jutaan tahun