News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Sejarah Berat Jemaah Haji Nusantara di Masa Kolonial, Dari Karantina hingga Ancaman Wabah

Ubaidillah • Kamis, 21 Mei 2026 | 06:26 WIB
Jemaah haji asal Mandailing, Sumatera Utara, di Konsulat Jenderal Belanda di Jeddah pada 1884.
Foto: dok. Tropenmuseum
Jemaah haji asal Mandailing, Sumatera Utara, di Konsulat Jenderal Belanda di Jeddah pada 1884. Foto: dok. Tropenmuseum

 

RadarBangkalan.id - Perjalanan ibadah haji bagi masyarakat Nusantara pada masa kolonial menyimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Selain membutuhkan waktu perjalanan sangat panjang, para jemaah juga harus menghadapi risiko penyakit menular, kondisi transportasi yang buruk, hingga ancaman keselamatan jiwa selama perjalanan menuju Tanah Suci.

Pada masa itu, pemerintah kolonial menerapkan sistem karantina ketat terhadap jemaah haji yang kembali dari Arab Saudi. Pulau Onrust dan Pulau Rubiah dijadikan lokasi isolasi utama untuk mencegah penyebaran penyakit menular ke wilayah Hindia Belanda.

Baca Juga: Daya Tahan Tubuh Lemah? Ini 11 Cara Alami Meningkatkan Imun

Berdasarkan buku Haji: Ibadah yang Mengubah Sejarah Nusantara karya Kyota Hamzah, jumlah jemaah haji asal Nusantara mengalami penurunan drastis pada 1916. Kondisi tersebut dipicu merebaknya wabah global seperti flu dan kolera yang banyak menyerang para jemaah sepulang dari ibadah haji.

Perjalanan Laut yang Penuh Risiko

Pada medio 1860-an, jemaah Nusantara mulai menggunakan kapal uap untuk menuju Tanah Suci. Dalam buku Sejarah Manasik & Haji karya Halimi Zuhdy disebutkan terdapat tiga maskapai kapal Belanda yang melayani perjalanan saat itu, yaitu Nederland, Rotterdamsche Lloyd, dan Blue Funnel Line.

Baca Juga: Nafsu Makan Sulit Dikontrol? Ini 10 Cara Efektif Menurunkannya

Namun, kondisi perjalanan laut jauh dari kata nyaman. Kapal sering kali dipenuhi penumpang dalam kondisi sesak tanpa memperhatikan kesehatan maupun sanitasi. Banyak jemaah dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit dan buruknya kondisi selama pelayaran.

Catatan sejarah menunjukkan angka kematian pada dekade 1920-an mencapai sekitar dua hingga lima orang dari setiap seribu jemaah. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar sepuluh orang per seribu jemaah pada era 1930-an.

Karantina Ketat di Pulau Onrust dan Rubiah

Setelah tiba kembali dari Tanah Suci, jemaah diwajibkan menjalani isolasi kesehatan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit seperti kolera, pes, hingga flu Spanyol.

Pemerintah kolonial menerbitkan aturan resmi bernama Quarantaine Ordonnantie pada 1911 sebagai dasar hukum pengawasan kesehatan pelabuhan.

Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis di Bangkalan Disorot, Makanan Balita Baru Tiba Sore Hari

Melalui aturan tersebut, jemaah haji asal Jawa ditempatkan di Pulau Onrust dan Pulau Kuiper, sedangkan jemaah asal Sumatera menjalani karantina di Pulau Rubiah.

Masa karantina berlangsung sekitar lima hingga sepuluh hari. Namun, durasi tersebut dapat diperpanjang apabila ditemukan indikasi penyakit hingga jemaah benar-benar dinyatakan pulih.

Ancaman Perampokan dan Perdagangan Budak

Tantangan jemaah haji pada masa kolonial tidak hanya berhenti di perjalanan laut. Sebelum memasuki wilayah Arab Saudi, jemaah terlebih dahulu diwajibkan menjalani karantina di Pulau Kamaran di Laut Merah.

Setelah itu, mereka harus melapor ke Konsulat Belanda di Jeddah sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Makkah.

Baca Juga: Wartawan Bangkalan Diancam Dibunuh Lewat WhatsApp usai Soroti Dugaan Pemotongan Dana PIP

Dalam perjalanan tersebut, ancaman perampokan oleh kelompok tertentu hingga risiko perdagangan budak menjadi momok yang menghantui keselamatan para jemaah.

Pulau Rubiah Kini Jadi Wisata Sejarah

Menurut catatan Kementerian Agama Republik Indonesia, bekas pusat karantina di Pulau Rubiah kini berubah fungsi menjadi destinasi wisata sejarah.

Baca Juga: Video “Guru Bahasa Inggris vs Murid” Viral di TikTok dan X, Benarkah Ada Part 2 di Telegram?

Kompleks karantina yang dahulu berdiri di atas lahan sekitar 10 hektare itu kini hanya menyisakan dua bangunan tua yang tidak terawat. Lokasinya berada sekitar 150 meter dari dermaga pulau.

Pulau Rubiah disebut sebagai fasilitas karantina haji pertama sekaligus paling mewah pada masanya sejak dibangun pada 1920 untuk menampung jemaah asal Sumatera. Sementara itu, jemaah asal Jawa menjalani karantina di Pulau Onrust di kawasan Kepulauan Seribu.

Editor : Ubaidillah
#sejarah haji #karantina pulau rubiah #masa kolonial #sejarah haji Nusantara masa kolonial #karantina haji Indonesia