RadarBangkalan.id - Gelombang panas ekstrem tengah melanda sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Thailand dan Malaysia. Suhu tinggi yang terus meningkat membuat otoritas setempat mengeluarkan peringatan kesehatan terkait risiko heatstroke atau serangan panas.
Di Bangkok, Thailand, indeks panas yang menggabungkan suhu udara dan kelembapan dilaporkan menembus angka lebih dari 52 derajat Celsius pada Senin (4/5/2026). Kondisi tersebut masuk kategori bahaya ekstrem dan dinilai dapat mengancam kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Heatstroke Bisa Sebabkan Kejang hingga Hilang Kesadaran, IDAI Ungkap Tanda Awalnya
Pemerintah Thailand meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala heatstroke. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain suhu tubuh tinggi, kebingungan, pusing, hingga keringat berlebihan.
“Panasnya gila. Rasanya seperti matahari bekerja sangat keras,” ujar warga Bangkok, Suwannee Jonyanata, dikutip dari The Independent Singapore.
Untuk membantu masyarakat menghadapi suhu panas ekstrem, pemerintah Bangkok membuka lebih dari 200 fasilitas umum berpendingin udara atau AC yang dapat digunakan warga untuk berlindung sementara dari cuaca panas.
Baca Juga: Viral di Instagram, Wanita Bekasi Derita TB Tulang sampai Harus Cuci Darah
Sementara itu di Malaysia, cuaca panas dilaporkan telah menyebabkan korban jiwa. Seorang pelari berusia 41 tahun meninggal dunia di Penang usai mengikuti ajang atletik di tengah suhu tinggi.
Korban lainnya adalah seorang balita berusia dua tahun di Kelantan yang ditemukan meninggal dunia setelah tertinggal di dalam kendaraan.
Kementerian Kesehatan Malaysia pada Selasa (5/5/2026) melaporkan sedikitnya 56 kasus heatstroke terjadi di berbagai wilayah negara tersebut.
Baca Juga: Kurang Tidur Bisa Sebabkan Obesitas? Ini Penjelasan Medisnya
Pemerintah Malaysia juga mengingatkan bahwa paparan panas berkepanjangan dapat memicu dampak serius bagi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Suhu di wilayah utara Malaysia diperkirakan mencapai 37 derajat Celsius dalam pekan ini. Menyikapi kondisi tersebut, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pemerintah telah meminta pelaksanaan operasi penyemaian awan di Kedah, Perlis, dan sejumlah daerah lain yang mengalami krisis air.
Baca Juga: Bisakah Melahirkan Normal Tanpa Rasa Sakit? Ini Penjelasan Medisnya
Gelombang panas di Asia Tenggara ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama sekitar 20 persen distribusi energi dunia membuat sejumlah negara menghadapi kenaikan harga bahan bakar.
Kondisi tersebut memaksa beberapa negara melakukan penghematan energi, termasuk mengurangi penggunaan pendingin ruangan di sejumlah fasilitas.
Baca Juga: Wajah Bengkak Ternyata Tanda Gagal Ginjal, Wanita Bekasi Kini Cuci Darah 2 Kali Seminggu
Meski musim hujan mulai datang di beberapa wilayah, suhu panas diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Fenomena Super El Niño disebut berpotensi membuat suhu di Asia Tenggara terasa lebih panas selama beberapa bulan mendatang.
Editor : Ubaidillah