News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Viral Istilah UPF, Benarkah Semua Ultra-Processed Food Tidak Sehat?

Ubaidillah • Minggu, 24 Mei 2026 | 07:03 WIB
Apakah UPF otomatis tidak sehat, dan sebaliknya non-UPF pasti sehat? Foto: iStock
Apakah UPF otomatis tidak sehat, dan sebaliknya non-UPF pasti sehat? Foto: iStock

RadarBangkalan.id - Istilah ultra-processed food (UPF) belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak orang mulai menghindari makanan yang dianggap terlalu diproses, seperti mi instan, nugget, sosis, hingga berbagai produk kemasan lainnya.

Di sisi lain, muncul anggapan bahwa makanan non-UPF otomatis lebih sehat dibanding pangan olahan. Perdebatan semakin ramai setelah sarden kalengan disebut bukan termasuk kategori UPF.

Baca Juga: 5 Posisi Seks Minim Suara saat Menginap di Rumah Mertua

Namun, pakar teknologi pangan dari IPB University, Purwiyatno Hariyadi, menilai persepsi tersebut tidak bisa disederhanakan begitu saja.

Menurutnya, konsep UPF hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmiah karena definisinya belum sepenuhnya konsisten.

“Pertama, istilah tersebut belum terdefinisi dengan baik, sehingga penerapannya sering kali bias, multitafsir, dan tidak konsisten,” ujarnya saat dihubungi detikcom.

Baca Juga: Panu di Wajah dan Leher Susah Hilang? Ini Cara Mengatasinya dengan Benar

Tidak Semua UPF Otomatis Tidak Sehat

Prof Purwiyatno menjelaskan, masyarakat sering langsung menganggap makanan yang masuk kategori UPF pasti buruk bagi kesehatan.

Padahal, pangan olahan memiliki kandungan gizi dan karakteristik yang sangat beragam. Beberapa produk justru dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat.

Baca Juga: Dokter Sebut Wajah Sembap Bisa Jadi Gejala Gagal Ginjal Stadium Akhir

“Begitu suatu pangan dicap sebagai UPF, pangan tersebut sering serta-merta dipersepsikan sebagai pangan yang tidak menyehatkan. Padahal, bisa saja produk tersebut mengandung komponen gizi yang diperlukan,” jelasnya.

Ia mencontohkan sejumlah produk seperti susu UHT, pangan fortifikasi, hingga produk olahan lokal dari UMKM yang aman dan bergizi ikut terkena stigma negatif hanya karena dianggap UPF.

Baca Juga: Heatstroke Bisa Sebabkan Kejang hingga Hilang Kesadaran, IDAI Ungkap Tanda Awalnya

Penilaian Makanan Tak Bisa Hanya Berdasarkan Label UPF

Menurut Prof Purwiyatno, masyarakat sebaiknya tidak menilai suatu makanan hanya dari label UPF atau panjang daftar bahan pada kemasan.

Ada beberapa aspek lain yang jauh lebih penting untuk diperhatikan, seperti:

Ia menekankan bahwa dampak makanan terhadap kesehatan sangat bergantung pada konteks pola makan secara keseluruhan.

Baca Juga: Viral di Instagram, Wanita Bekasi Derita TB Tulang sampai Harus Cuci Darah

“Yang lebih penting adalah keamanan pangannya, komposisi dan kandungan gizinya, seberapa banyak dan seberapa sering pangan tersebut dikonsumsi,” katanya.

Bukan Sekadar Ada Gula atau Garam

Menurutnya, keberadaan gula, garam, lemak, maupun bahan tambahan pangan tidak otomatis membuat suatu produk menjadi buruk.

Hal yang lebih penting adalah jumlah konsumsi dan bagaimana makanan tersebut masuk dalam pola makan sehari-hari.

Begitu pula dengan kandungan positif seperti protein, vitamin, dan mineral. Manfaatnya tetap dipengaruhi oleh porsi dan keseimbangan asupan makanan lainnya.

Baca Juga: Wajah Bengkak Ternyata Tanda Gagal Ginjal, Wanita Bekasi Kini Cuci Darah 2 Kali Seminggu

Karena itu, Prof Purwiyatno menyarankan masyarakat lebih fokus pada pola makan yang beragam, seimbang, dan tidak berlebihan dibanding hanya terpaku pada label UPF atau non-UPF.

 

Editor : Ubaidillah
#Sarden #kolom gizi #sarden kalengan #upf #ultra processed food