RadarBangkalan.id - Kolesterol tinggi sering disebut sebagai "silent killer" karena umumnya tidak menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Namun pada sebagian orang, kondisi ini dapat memunculkan tanda fisik yang terlihat, salah satunya di area kaki.
Salah satu gejala yang dapat muncul adalah xanthoma tendon, yaitu penumpukan kolesterol pada jaringan tendon. Kondisi ini biasanya terlihat sebagai benjolan kecil atau nodul yang tumbuh perlahan di bawah kulit.
Baca Juga: Pria Ini Nekat Buka 'Pabrik Sperma' Ilegal di Media Sosial, Klaim Sudah Punya 180 Anak
Para ahli menyebut tendon Achilles sebagai lokasi yang paling sering mengalami xanthoma tendon. Tendon ini merupakan jaringan yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit.
Penebalan Tendon Achilles Bisa Menjadi Petunjuk
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Lipids in Health and Disease menemukan bahwa penebalan tendon Achilles dapat menjadi salah satu tanda awal xanthoma tendon.
Baca Juga: Bocah 7 Tahun Kena Gagal Ginjal Stadium 5, Awalnya Dikira Penyakit Biasa
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 205 peserta berusia 18 hingga 75 tahun dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok dengan kadar kolesterol normal, kolesterol tinggi, dan hiperkolesterolemia herediter.
Para peneliti menggunakan radiografi digital untuk mengukur ketebalan tendon Achilles pada seluruh peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok dengan kadar kolesterol tinggi memiliki tendon Achilles yang lebih tebal dibandingkan mereka yang memiliki kadar kolesterol normal.
Baca Juga: Viral Tren Strava Fridge, Profesor IPB Ungkap Bahaya Sering Buka-Tutup Kulkas Minimarket
Temuan tersebut mengindikasikan adanya hubungan antara penumpukan kolesterol dan perubahan struktur tendon pada kaki.
Hubungan Kolesterol Tinggi dengan Penyakit Jantung
Kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk membantu pembentukan sel-sel sehat. Namun, kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat yang terlalu tinggi dapat menumpuk di dinding pembuluh darah.
Penumpukan tersebut dapat menyebabkan aterosklerosis, yaitu penyempitan pembuluh darah akibat plak kolesterol. Kondisi ini meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk serangan jantung dan stroke.
Karena prosesnya sering berlangsung tanpa gejala, banyak orang baru mengetahui kadar kolesterolnya tinggi setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.
Baca Juga: Minuman Manis Bisa Picu Gagal Ginjal, Kemenkes Soroti Konsumsi Tinggi pada Anak
Pentingnya Pemeriksaan Kolesterol Secara Berkala
Para ahli menekankan bahwa tes darah tetap menjadi metode paling akurat untuk mengetahui kadar kolesterol dalam tubuh.
Pemeriksaan rutin sangat dianjurkan bagi individu berusia di atas 40 tahun, memiliki berat badan berlebih, menderita diabetes atau hipertensi, serta memiliki riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi atau penyakit jantung.
Selain pemeriksaan berkala, pengendalian kolesterol juga dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup, seperti:
Baca Juga: Waspadai 5 Gejala Kanker Darah di Kulit yang Sering Dianggap Sepele
- Mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans.
- Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran.
- Mengonsumsi kacang-kacangan, biji-bijian, serta gandum utuh.
- Rutin berolahraga.
- Menjaga berat badan ideal.
- Menghindari kebiasaan merokok.
Dengan deteksi dini dan pola hidup sehat, risiko komplikasi akibat kolesterol tinggi dapat ditekan secara signifikan.
Baca Juga: Susah BAB Selama 23 Tahun, Hasil Rontgen Wanita Taiwan Ini Bikin Merinding
Editor : Ubaidillah