RadarBangkalan.id - Penyakit perlemakan hati atau fatty liver dikenal sebagai salah satu gangguan kesehatan yang kerap berkembang tanpa disadari. Kondisi ini bahkan sering disebut sebagai silent killer karena penumpukan lemak di organ hati dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala yang jelas.
Akibatnya, banyak penderita baru mengetahui adanya masalah pada hati setelah menjalani pemeriksaan kesehatan atau saat kondisi sudah berkembang menjadi lebih serius.
Baca Juga: Diwarnai 3 Kartu Merah, Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0
Dokter spesialis penyakit dalam, Rino Alvani Gani, menjelaskan bahwa fatty liver pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan keluhan yang spesifik.
Menurutnya, gejala biasanya mulai dirasakan ketika kerusakan hati sudah memasuki fase yang lebih berat dan memerlukan penanganan medis segera.
"Jika sudah muncul nyeri atau keluhan di area hati, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda penyakit telah berkembang lebih serius," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Tak Cuma Rugikan Ekonomi, Korupsi Ternyata Berdampak pada Kesehatan Mental
Fatty Liver Banyak Menyerang Usia Produktif
Prof Rino mengungkapkan bahwa kasus perlemakan hati di Indonesia cukup memprihatinkan karena banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Baca Juga: Rahasia Kopi Lebih Sehat, Tambahkan Bumbu Dapur Ini untuk Bantu Turunkan Risiko Diabetes
Berdasarkan data yang dimiliki, mayoritas penderita berada pada rentang usia 30 hingga 50 tahun. Namun, kondisi ini juga dapat terjadi pada kelompok usia yang lebih muda, terutama mereka yang mengalami obesitas sejak kecil.
Baca Juga: Klaim Membengkak, BPJS Kesehatan Butuh Suntikan Dana Rp 20 Triliun
Menurutnya, kasus fatty liver pada usia di bawah 20 tahun memang relatif jarang ditemukan. Meski demikian, risiko tetap meningkat pada anak dan remaja dengan berat badan berlebih atau obesitas.
Penumpukan lemak yang terjadi secara terus-menerus di hati dapat memicu peradangan dan berpotensi berkembang menjadi gangguan hati yang lebih serius apabila tidak ditangani sejak dini.
Skrining Hati Kini Tersedia dalam Program CKG
Untuk meningkatkan deteksi dini penyakit hati, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menyediakan pemeriksaan kesehatan hati dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa pemeriksaan fungsi hati dilakukan melalui tes darah sebagai bagian dari skrining kesehatan dasar.
Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mendeteksi risiko gangguan hati, termasuk kemungkinan terjadinya pengerasan hati atau kelainan fungsi organ hati sebelum muncul gejala yang lebih berat.
Baca Juga: Harga Obat Mulai Naik Imbas Rupiah Melemah, Menkes Budi Buka Suara
Menurut Nadia, program CKG dirancang untuk menjangkau masyarakat yang masih sehat agar dapat mengetahui lebih awal apabila terdapat faktor risiko atau gangguan kesehatan yang tersembunyi.
Pentingnya Deteksi Dini Fatty Liver
Perlemakan hati sering kali tidak menunjukkan tanda yang jelas pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan kesehatan rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan hati sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Selain pemeriksaan berkala, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, serta mengendalikan kadar gula darah dan kolesterol dapat membantu menurunkan risiko terjadinya fatty liver.
Deteksi dini menjadi kunci utama karena sebagian besar penderita tidak menyadari adanya gangguan hati hingga penyakit berkembang ke tahap lanjut.
Baca Juga: Cara Mengatasi Anak Takut Dokter Gigi, Coba Program First Dental Visit dari Medikids
Editor : Ubaidillah