News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Hampir Separuh Pasien Gagal Ginjal Disebut Tidak Mendapat Layanan Cuci Darah, Ini Solusi Kemenkes

Ubaidillah • Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:42 WIB
Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth
Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth

 

RadarBangkalan.id - Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menyoroti masih adanya ketimpangan dalam sistem pelayanan dialisis bagi pasien gagal ginjal di Indonesia.

Ketua KPCDI Tony Richard Samosir mengungkapkan bahwa masih banyak pasien gagal ginjal stadium akhir yang belum mendapatkan akses layanan cuci darah secara optimal.

Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan

Berdasarkan evaluasi KPCDI, sekitar 48 persen pasien gagal ginjal stadium akhir disebut belum mendapatkan pelayanan dialisis. Kondisi tersebut dinilai menyebabkan puluhan ribu pasien meninggal setiap tahun karena keterbatasan akses layanan.

"Sistem jaminan kesehatan saat ini belum memberikan rasa keadilan bagi pasien. Berdasarkan data evaluasi, pemanfaatan CAPD di Indonesia masih berjalan di bawah 2 persen selama lebih dari satu dekade, sementara Hemodialisis (HD) mendominasi hingga 98 persen," ujar Tony dalam acara Indonesia Peritoneal Dialysis Patient Forum (INDOPD Forum) 2026 di Jakarta.

Baca Juga: Kenali Gejala Kanker Usus Besar yang Sering Diabaikan, Bisa Menyerang Usia Muda

Hemodialisis Masih Mendominasi Layanan Cuci Darah

Saat ini, metode Hemodialisis (HD) atau cuci darah menggunakan mesin di rumah sakit masih menjadi pilihan utama bagi pasien gagal ginjal.

Sementara itu, metode Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), yaitu metode cuci darah melalui rongga perut yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah, masih memiliki tingkat penggunaan yang sangat rendah.

Baca Juga: Kanker Payudara Ternyata Bisa Menyerang Pria, Kisah Tyler Mane Buka Kesadaran Baru

Menurut KPCDI, penggunaan CAPD di Indonesia masih berada di bawah 0,1 persen dibandingkan metode HD.

Ketimpangan tersebut dinilai berdampak pada kualitas hidup pasien karena sebagian besar masih harus datang ke fasilitas kesehatan secara rutin untuk menjalani terapi.

Pasien yang menjalani hemodialisis umumnya harus datang ke rumah sakit beberapa kali dalam sebulan untuk menjalani proses cuci darah.

Baca Juga: Diwarnai 3 Kartu Merah, Meksiko Awali Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan 2-0

Dugaan Hambatan Pengembangan CAPD

Tony juga menyoroti dugaan adanya hambatan dalam pengembangan layanan CAPD di sejumlah fasilitas kesehatan.

Menurutnya, rumah sakit cenderung lebih banyak menggunakan metode HD karena berkaitan dengan sistem klaim layanan kesehatan yang selama ini berjalan.

Berbeda dengan HD yang mengharuskan pasien datang ke rumah sakit, CAPD memungkinkan pasien melakukan terapi secara mandiri di rumah dengan pemantauan tenaga kesehatan.

Dari sisi pembiayaan, data yang disampaikan KPCDI menunjukkan alokasi anggaran tahun 2025 untuk hemodialisis mencapai sekitar Rp13,5 triliun, sementara CAPD sekitar Rp270 miliar.

Baca Juga: Tak Cuma Rugikan Ekonomi, Korupsi Ternyata Berdampak pada Kesehatan Mental

Kemenkes Dorong Perluasan Layanan CAPD

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merespons persoalan tersebut dengan mendorong penguatan layanan CAPD di berbagai wilayah Indonesia.

Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalusia mengatakan sistem pelayanan kesehatan perlu lebih berorientasi pada kebutuhan pasien.

Baca Juga: Rahasia Kopi Lebih Sehat, Tambahkan Bumbu Dapur Ini untuk Bantu Turunkan Risiko Diabetes

"Kita harus membangun sistem yang lebih preventif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pasien, bukan pada kepentingan bisnis rumah sakit," ujarnya.

Namun, salah satu tantangan terbesar pengembangan CAPD adalah pemerataan layanan.

Saat ini layanan hemodialisis sudah tersedia hampir di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Sementara layanan CAPD baru tersedia di 119 dari total 514 kabupaten dan kota.

Untuk memperluas akses, Kemenkes memperkuat jejaring layanan uronefrologi melalui program pengampuan di berbagai rumah sakit, mulai dari rumah sakit madya hingga rumah sakit paripurna.

Baca Juga: Harga Obat Mulai Naik Imbas Rupiah Melemah, Menkes Budi Buka Suara

Transplantasi Ginjal Jadi Pilihan Jangka Panjang

Selain memperluas layanan dialisis mandiri, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas transplantasi ginjal.

Transplantasi ginjal dinilai menjadi salah satu pilihan terbaik untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal dalam jangka panjang dibandingkan terapi dialisis seumur hidup.

Baca Juga: Cara Mengatasi Anak Takut Dokter Gigi, Coba Program First Dental Visit dari Medikids

Editor : Ubaidillah
#dialisis #pasien gagal ginjal #gagal ginjal #cuci darah