RadarBangkalan.id - Keinginan memiliki tubuh lebih ramping membuat seorang wanita berusia 25 tahun di Hangzhou menjalani pola diet ekstrem. Namun, metode tersebut justru berujung pada masalah kesehatan serius setelah ia didiagnosis mengalami pankreatitis akut atau peradangan pada pankreas.
Wanita yang dikenal dengan nama samaran Qingqing itu sebelumnya memiliki berat badan 55 kilogram dengan tinggi badan 1,5 meter. Demi menurunkan berat badan, ia menerapkan pola makan sangat ketat dengan menahan lapar selama enam hari dan makan bebas pada satu hari terakhir atau yang dikenal sebagai cheat day.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
Dalam waktu satu bulan, berat badannya memang turun sekitar 7,5 kilogram hingga mencapai 47,5 kilogram. Namun, hasil cepat tersebut harus dibayar dengan kondisi kesehatan yang memburuk.
Menahan Lapar 6 Hari, Lalu Makan Besar di Cheat Day
Selama enam hari dalam seminggu, Qingqing membatasi konsumsi kalori kurang dari 800 kalori per hari. Ia menghindari makanan pokok dan hanya mengonsumsi makanan seperti sayuran rebus, dada ayam, serta buah rendah gula.
Baca Juga: BGN Evaluasi Insentif Dapur MBG Rp6 Juta per Hari, Berpotensi Diubah atau Dihentikan
Masalah muncul ketika memasuki hari bebas makan.
Setelah hampir seminggu membatasi asupan makanan, Qingqing mengonsumsi satu ember besar ayam goreng pada siang hari. Tidak berhenti di situ, malam harinya ia kembali menyantap dua bungkus mi instan super pedas.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
Beberapa jam kemudian, ia mengalami nyeri hebat yang terasa menusuk di bagian perut, pinggang, hingga punggung. Ia juga mengalami muntah berulang yang tidak kunjung membaik.
Kondisi tersebut membuatnya harus dilarikan ke The First Affiliated Hospital of Zhejiang University School of Medicine untuk mendapatkan perawatan medis.
Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan
Bagaimana Diet Ekstrem Bisa Memicu Pankreatitis Akut?
Pankreas merupakan organ yang berperan penting dalam sistem pencernaan karena menghasilkan enzim untuk membantu memecah makanan, terutama lemak, protein, dan karbohidrat.
Dokter menjelaskan bahwa pola makan ekstrem seperti yang dilakukan Qingqing dapat memberikan tekanan besar pada sistem pencernaan.
Baca Juga: Kenali Gejala Kanker Usus Besar yang Sering Diabaikan, Bisa Menyerang Usia Muda
Saat seseorang menjalani diet sangat ketat dalam waktu lama, tubuh beradaptasi dengan kondisi rendah asupan makanan. Aktivitas produksi enzim pencernaan juga menyesuaikan karena tidak banyak makanan yang perlu diproses.
Namun, ketika tubuh tiba-tiba menerima makanan dalam jumlah besar, terutama makanan tinggi lemak dan kalori, pankreas harus bekerja lebih keras dalam waktu singkat untuk menghasilkan enzim pencernaan.
Pada kondisi tertentu, proses tersebut dapat memicu aktivasi enzim di dalam pankreas sebelum waktunya. Enzim yang seharusnya membantu mencerna makanan justru dapat merusak jaringan pankreas dan menyebabkan peradangan.
Baca Juga: Kanker Payudara Ternyata Bisa Menyerang Pria, Kisah Tyler Mane Buka Kesadaran Baru
Tren Diet Ketat dan Revenge Eating Makin Banyak Terjadi
Dokter menyebut kasus seperti Qingqing semakin sering ditemukan pada usia muda akibat tren diet ekstrem yang diikuti pola makan berlebihan setelah periode pembatasan makanan.
Pola ini sering disebut sebagai revenge eating, yaitu kondisi ketika seseorang makan dalam jumlah sangat besar sebagai respons setelah lama menahan diri dari makanan tertentu.
Baca Juga: Tak Cuma Rugikan Ekonomi, Korupsi Ternyata Berdampak pada Kesehatan Mental
Masalahnya, tubuh tidak selalu mampu beradaptasi dengan perubahan pola makan yang terjadi secara drastis.
Alih-alih mendapatkan hasil sehat dalam jangka panjang, diet ekstrem justru dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme dan masalah pada organ pencernaan.
Gejala Pankreatitis Akut yang Perlu Diwaspadai
Pankreatitis akut dapat muncul dengan beberapa tanda, seperti:
- Nyeri hebat pada bagian atas perut yang dapat menjalar hingga punggung.
- Mual dan muntah yang terus-menerus.
- Perut terasa nyeri saat disentuh.
- Demam atau peningkatan denyut jantung pada kondisi tertentu.
Jika mengalami gejala tersebut, terutama setelah makan dalam jumlah besar atau memiliki riwayat pola makan ekstrem, seseorang perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Baca Juga: Rahasia Kopi Lebih Sehat, Tambahkan Bumbu Dapur Ini untuk Bantu Turunkan Risiko Diabetes
Diet Sehat Tidak Harus Dilakukan dengan Cara Ekstrem
Penurunan berat badan yang aman umumnya dilakukan melalui perubahan pola makan secara bertahap, dengan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
Baca Juga: Klaim Membengkak, BPJS Kesehatan Butuh Suntikan Dana Rp 20 Triliun
Pembatasan kalori yang terlalu ekstrem dan pola makan "balas dendam" setelahnya dapat memberikan tekanan besar pada tubuh.
Baca Juga: Harga Obat Mulai Naik Imbas Rupiah Melemah, Menkes Budi Buka Suara
Kasus Qingqing menjadi pengingat bahwa hasil cepat dari diet tidak selalu berarti lebih sehat. Menjaga keseimbangan asupan makanan dan menerapkan pola hidup yang konsisten tetap menjadi kunci utama dalam mengelola berat badan.
Editor : Ubaidillah