RadarBangkalan.id - Gejala awal kanker sering kali sulit dikenali karena menyerupai keluhan ringan yang biasa terjadi sehari-hari. Namun, penelitian terbaru menemukan petunjuk menarik yang mungkin dapat membantu mendeteksi kanker lebih dini, yaitu melalui kandungan dalam feses.
Para ilmuwan menemukan bahwa perubahan komposisi bakteri usus yang terdapat dalam tinja dapat menjadi tanda adanya kanker pankreas, bahkan sebelum muncul gejala berat.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
Temuan ini menjadi perhatian karena kanker pankreas termasuk salah satu jenis kanker yang sering terlambat diketahui akibat gejalanya yang samar.
Mengapa Kanker Pankreas Sulit Terdeteksi?
Salah satu jenis kanker pankreas yang paling sering ditemukan adalah pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC).
Kanker ini berkembang pada saluran pankreas yang terhubung langsung dengan usus kecil. Karena adanya hubungan antara pankreas dan sistem pencernaan, perubahan biologis akibat kanker dapat meninggalkan jejak yang kemudian ditemukan dalam feses.
Baca Juga: BGN Evaluasi Insentif Dapur MBG Rp6 Juta per Hari, Berpotensi Diubah atau Dihentikan
Selama ini, banyak pasien baru mengetahui dirinya terkena kanker pankreas ketika penyakit sudah berkembang lebih lanjut.
Gejala yang muncul sering kali tidak spesifik, seperti:
- Kelelahan berkepanjangan.
- Penurunan kondisi tubuh.
- Gangguan metabolisme energi.
- Nyeri yang tidak jelas penyebabnya.
Karena dianggap sebagai keluhan biasa, pemeriksaan sering terlambat dilakukan.
Baca Juga: 4 Laga Piala Dunia 2026 Hari Ini, Jerman vs Curacao dan Belanda vs Jepang Jadi Sorotan
Bukan Bentuk Feses, tetapi Bakteri di Dalamnya
Penelitian terbaru tidak berfokus pada bentuk, warna, atau tekstur tinja. Hal yang dianalisis adalah mikrobioma usus, yaitu kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam saluran pencernaan.
Melalui teknologi sekuensing genetik 16S rRNA, ilmuwan dapat mengetahui jenis dan jumlah bakteri yang terdapat dalam sampel feses.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien kanker pankreas memiliki komposisi mikrobioma usus yang berbeda dibandingkan orang sehat.
Salah satu temuan penting adalah jumlah dan keragaman bakteri usus pada pasien kanker pankreas cenderung lebih rendah.
Perubahan tersebut membentuk pola tertentu yang dapat dianggap sebagai "sidik jari biologis" untuk membedakan pasien kanker pankreas dengan individu tanpa penyakit tersebut.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
AI Membantu Mendeteksi Kanker dari Sampel Feses
Dalam penelitian internasional yang melibatkan peneliti dari Finlandia dan Iran pada 2025, pola bakteri dalam feses digunakan untuk melatih sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hasilnya menunjukkan bahwa model AI mampu mengenali kemungkinan kanker pankreas berdasarkan profil mikrobioma usus yang diperoleh dari sampel tinja.
Meski masih membutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum digunakan secara luas, temuan ini membuka peluang baru dalam upaya menemukan kanker pankreas pada tahap lebih awal.
Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan
Mikrobioma Usus Jadi Fokus Baru Dunia Medis
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai mikrobioma usus berkembang pesat.
Teknologi seperti shotgun metagenomic sequencing memungkinkan ilmuwan memetakan materi genetik dari berbagai bakteri yang hidup di dalam usus secara lebih detail.
Pendekatan ini mengubah cara para peneliti melihat tubuh manusia. Tubuh tidak lagi dipandang sebagai sistem yang berdiri sendiri, melainkan sebagai ekosistem kompleks yang berinteraksi dengan triliunan mikroorganisme.
Selain kanker pankreas, penelitian mengenai mikrobioma juga mulai dikembangkan untuk memahami berbagai kondisi lain, seperti:
Baca Juga: Tak Cuma Rugikan Ekonomi, Korupsi Ternyata Berdampak pada Kesehatan Mental
- Kanker kolorektal.
- Penyakit Parkinson.
- Penyakit kronis tertentu.
Feses Bisa Menjadi Petunjuk Kesehatan yang Selama Ini Diabaikan
Temuan mengenai hubungan antara mikrobioma usus dan penyakit menunjukkan bahwa hal-hal sederhana seperti sampel feses dapat memberikan informasi medis yang berharga.
Baca Juga: Rahasia Kopi Lebih Sehat, Tambahkan Bumbu Dapur Ini untuk Bantu Turunkan Risiko Diabetes
Namun, para ahli menegaskan bahwa pemeriksaan berbasis mikrobioma masih berada dalam tahap pengembangan dan belum menggantikan metode diagnosis kanker yang sudah digunakan saat ini.
Meski begitu, penelitian ini memberikan harapan baru bagi deteksi dini kanker pankreas, penyakit yang selama ini dikenal sulit ditemukan sebelum mencapai stadium lanjut.
Ke depan, analisis bakteri usus berpotensi menjadi salah satu alat tambahan untuk membantu dokter menemukan penyakit lebih cepat dan meningkatkan peluang pengobatan.
Baca Juga: Klaim Membengkak, BPJS Kesehatan Butuh Suntikan Dana Rp 20 Triliun
Editor : Ubaidillah