RadarBangkalan.id - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan dampak terhadap harga obat-obatan di Indonesia.
Kondisi ini tidak hanya berpengaruh bagi masyarakat yang membutuhkan obat, tetapi juga dapat menekan keberlangsungan industri farmasi, terutama pelaku usaha kecil dan menengah.
Pengamat kesehatan global dari Global health Dicky Budiman mengatakan, salah satu risiko terbesar dari pelemahan rupiah adalah meningkatnya biaya produksi obat akibat harga bahan baku yang banyak masih bergantung pada impor.
Menurutnya, sebagian industri farmasi dengan skala kecil dan menengah dapat mengalami kesulitan karena tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk membeli bahan baku dengan harga lebih mahal.
"Sebagian industri farmasi menengah ke bawah bisa terpaksa gulung tikar karena tidak mampu membeli bahan baku obat," ujar Dicky.
Baca Juga: Rutin Minum Kopi Setiap Hari Ternyata Punya Banyak Efek untuk Tubuh, Ini Daftarnya
Apotek Kecil Berpotensi Mengalami Tekanan Berlapis
Selain produsen obat, sektor apotek juga berpotensi terkena dampak dari kenaikan biaya.
Baca Juga: Benarkah Golongan Darah O Lebih Panjang Umur? Ini Fakta di Balik Kaitannya dengan Kesehatan
Menurut Dicky, apotek menghadapi tekanan karena harus membeli obat dari distributor dengan harga lebih tinggi, sementara menaikkan harga jual kepada pasien bukan perkara mudah.
"Bagi apotek, tekanannya akan berlapis karena harga beli obat naik dari distributor, sementara harga jual ke pasien sulit dinaikkan," jelasnya.
Baca Juga: Dokter Anak dr Ratna Dituntut 4,5 Tahun Penjara, IDAI Soroti Dugaan Kriminalisasi Tenaga Medis
Kondisi tersebut dapat menyebabkan modal kerja apotek semakin berat karena mereka harus menyediakan stok obat dengan biaya yang lebih besar.
Di sisi lain, apotek kecil juga harus bersaing dengan jaringan apotek besar yang memiliki modal lebih kuat dan daya tawar lebih tinggi terhadap distributor.
Solusi untuk Melindungi Apotek Kecil
Dicky menilai diperlukan sejumlah langkah agar apotek kecil tetap dapat bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
Salah satunya adalah memberikan kemudahan akses kredit usaha bagi apotek kecil agar memiliki modal tambahan untuk menjaga operasional.
Baca Juga: Viral Siti Zahro Idap Kista Ovarium 29 Cm, Dokter Ungkap Penyebab dan Gejalanya
Selain itu, sistem distribusi obat juga perlu diperbaiki agar apotek dapat memperoleh harga lebih kompetitif.
Menurutnya, pembelian langsung dari Pedagang Besar Farmasi (PBF) tanpa terlalu banyak rantai distribusi dapat membantu menjaga margin keuntungan apotek.
Digitalisasi Apotek Perlu Didorong
Transformasi digital juga dinilai dapat menjadi salah satu solusi bagi apotek kecil.
Baca Juga: Viral Siti Zahro Idap Kista Ovarium 29 Cm, Dokter Ungkap Penyebab dan Gejalanya
Apotek lokal dapat didorong untuk bergabung dengan platform telemedicine dan e-farmasi sehingga mampu meningkatkan jumlah transaksi serta memperluas jangkauan layanan.
Dengan sistem digital, apotek kecil memiliki peluang untuk bersaing lebih baik dengan jaringan besar.
Perlunya Perlindungan bagi Usaha Farmasi Kecil
Dicky juga menekankan pentingnya peran organisasi profesi untuk memperjuangkan kebijakan yang melindungi apotek kecil.
Menurutnya, organisasi seperti Ikatan Apoteker Indonesia dan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia dapat berperan dalam memberikan masukan kebijakan kepada pemerintah.
Selain itu, ia menyebut pembatasan ekspansi apotek waralaba besar di wilayah tertentu dapat menjadi salah satu opsi untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil.
"Ini juga sebenarnya sudah diterapkan di beberapa negara untuk melindungi usaha kecil," katanya.
Baca Juga: Tanda Awal Kanker Pankreas Bisa Terlihat dari Feses? Ini Temuan Penelitian Terbaru
Kenaikan harga obat akibat pelemahan rupiah menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Tidak hanya soal biaya bagi pasien, tetapi juga keberlangsungan rantai industri kesehatan mulai dari produsen hingga penyedia layanan obat.
Editor : Ubaidillah