News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Apa yang Terjadi pada Tubuh Pemain Bola Jika Kurang Minum 90 Menit? Ini Bahayanya

Ubaidillah • Rabu, 17 Juni 2026 | 06:38 WIB
Main bola tanpa minum, bisakah? Foto: Getty Images/MihailDechev
Main bola tanpa minum, bisakah? Foto: Getty Images/MihailDechev

 

RadarBangkalan.id - Dalam pertandingan sepakbola profesional, menjaga kondisi tubuh bukan hanya soal strategi, teknik, dan stamina. Kebutuhan cairan juga menjadi faktor penting yang menentukan performa pemain selama 90 menit pertandingan.

Tanpa hidrasi yang cukup, tubuh pesepakbola dapat mengalami gangguan serius karena kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar, terutama saat bermain dengan intensitas tinggi atau di tengah cuaca panas.

Baca Juga: Harga Obat Berpotensi Naik 20 Persen, Ini Jenis Obat yang Paling Terdampak Rupiah Melemah

Air bukan hanya berfungsi sebagai pelepas rasa haus, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga kerja otot, suhu tubuh, serta kemampuan konsentrasi pemain di lapangan.

Dehidrasi Bisa Mengganggu Fungsi Tubuh

Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan cairan lebih banyak dibandingkan jumlah cairan yang masuk. Kondisi ini membuat keseimbangan cairan dan elektrolit terganggu.

Pada pemain sepakbola, kehilangan cairan dapat terjadi melalui keringat selama pertandingan. Jika tidak segera diganti, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan fisik maupun mental pemain.

Mengutip National Health Service (NHS) Inggris, beberapa tanda dehidrasi pada orang dewasa meliputi:

Baca Juga: Tragedi Keluarga Mahasiswa UGM Tewas di Tenda, Dokter Ungkap Bahaya Gas CO yang Bisa Membunuh Diam-diam

Baca Juga: Rutin Minum Kopi Setiap Hari Ternyata Punya Banyak Efek untuk Tubuh, Ini Daftarnya

Pada atlet profesional, dehidrasi dapat menyebabkan penurunan kemampuan berlari, berkurangnya fokus, hingga meningkatnya risiko cedera otot.

Baca Juga: Benarkah Golongan Darah O Lebih Panjang Umur? Ini Fakta di Balik Kaitannya dengan Kesehatan

Cuaca Panas Membuat Risiko Semakin Besar

Kombinasi antara aktivitas fisik berat dan suhu tinggi dapat memperparah kondisi dehidrasi.

Saat bermain di cuaca panas, tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap normal. Keringat yang keluar dalam jumlah besar menyebabkan kehilangan cairan dan mineral penting seperti natrium.

Jika kondisi ini tidak segera ditangani, pemain dapat mengalami gangguan akibat panas seperti heat exhaustion atau bahkan heat stroke.

Baca Juga: Dokter Anak dr Ratna Dituntut 4,5 Tahun Penjara, IDAI Soroti Dugaan Kriminalisasi Tenaga Medis

Heat exhaustion dapat menyebabkan:

Sementara heat stroke merupakan kondisi yang lebih berbahaya karena dapat menyebabkan suhu tubuh meningkat drastis dan membutuhkan penanganan medis segera.

Baca Juga: Viral Siti Zahro Idap Kista Ovarium 29 Cm, Dokter Ungkap Penyebab dan Gejalanya

Pentingnya Hydration Break di Sepakbola

Melihat risiko tersebut, jeda minum atau hydration break menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keselamatan pemain.

Pada Piala Dunia 2026, FIFA menerapkan hydration break selama tiga menit di setiap babak, tepatnya pada menit ke-22 babak pertama dan kedua.

Baca Juga: Tanda Awal Kanker Pankreas Bisa Terlihat dari Feses? Ini Temuan Penelitian Terbaru

Kebijakan ini diterapkan untuk membantu pemain mengembalikan cairan tubuh, terutama karena turnamen berlangsung pada periode musim panas di beberapa wilayah Amerika Utara.

Sebelumnya, jeda minum biasanya hanya diberikan ketika kondisi cuaca dianggap terlalu panas berdasarkan indikator tertentu. Namun kini FIFA menerapkannya secara wajib di seluruh pertandingan.

Pemain yang Berpuasa Juga Menghadapi Tantangan Hidrasi

Masalah hidrasi juga menjadi perhatian ketika pemain harus bertanding saat menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Bermain sepakbola dengan intensitas tinggi tanpa makan dan minum dalam waktu lama memiliki risiko tersendiri, terutama ketika pertandingan berlangsung dalam suhu panas.

Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya

Salah satu contoh terjadi pada final Liga Champions 2018 ketika sejumlah pemain Muslim menghadapi dilema antara menjalankan puasa atau menjaga kondisi fisik untuk pertandingan.

Mantan pemain Liverpool, Mohamed Salah, kala itu memilih tidak berpuasa menjelang laga final. Keputusan tersebut dilakukan setelah berdiskusi dengan tim nutrisi dan staf medis agar kondisi fisiknya tetap optimal.

Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya

Hidrasi Jadi Kunci Performa Pemain

Dalam sepakbola modern, menjaga hidrasi sudah menjadi bagian dari persiapan profesional. Pemain tidak hanya membutuhkan latihan fisik, tetapi juga strategi pemenuhan cairan sebelum, selama, dan setelah pertandingan.

Tubuh yang cukup cairan mampu bekerja lebih optimal, menjaga konsentrasi, serta mengurangi risiko gangguan kesehatan selama berada di lapangan.

Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan

Karena itu, hydration break bukan sekadar waktu untuk minum, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan dan kualitas permainan sepakbola.

Editor : Ubaidillah
#hydration break #hidrasi #dehidrasi #piala dunia 2026 #piala dunia