RadarBangkalan.id - Gelaran Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan ketat antarnegara, tetapi juga menghadapi tantangan besar di luar aspek teknis. Ancaman kali ini datang dari kondisi cuaca ekstrem akibat meningkatnya suhu global.
Dari total 104 pertandingan yang akan berlangsung, analisis terbaru World Weather Attribution (WWA) memperkirakan sekitar 25 persen laga atau satu dari empat pertandingan berpotensi digelar dalam kondisi suhu yang melewati batas aman bagi tubuh manusia.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Gagal Cetak Gol, Portugal Hanya Raih Satu Poin Lawan RD Kongo
Situasi tersebut membuat risiko stres panas pada pemain meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia 1994 yang juga berlangsung di Amerika Serikat.
Mengukur Bahaya Panas dengan Indikator WBGT
Untuk mengetahui tingkat risiko panas terhadap manusia, para ilmuwan menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT).
Berbeda dengan pengukuran suhu biasa, WBGT tidak hanya melihat suhu udara. Indikator ini juga memperhitungkan faktor lain seperti:
Baca Juga: Jalan Kaki 30 Menit Setiap Hari Ternyata Bisa Beri 5 Manfaat Besar untuk Tubuh
- Kelembapan udara.
- Paparan radiasi matahari.
- Kecepatan angin.
- Dampak panas yang dirasakan langsung oleh tubuh.
Indikator ini dianggap lebih akurat untuk menilai risiko gangguan kesehatan akibat suhu tinggi, terutama pada aktivitas fisik berat seperti pertandingan sepak bola.
Baca Juga: Kenali Tahapan Kanker Usus Besar dari Stadium 0 hingga 4, Ini Perubahan Feses yang Perlu Diwaspadai
Batas Aman Suhu bagi Pemain Sepak Bola
Asosiasi pemain sepak bola internasional FIFPro telah menetapkan sejumlah batasan terkait kondisi panas ekstrem.
Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan
- WBGT 26 derajat Celsius menjadi batas awal yang mengharuskan adanya tindakan pendinginan tambahan dan peningkatan fasilitas hidrasi bagi pemain.
- WBGT 28 derajat Celsius masuk kategori risiko tinggi. Pada kondisi ini, pertandingan direkomendasikan untuk ditunda atau dihentikan demi mencegah kejadian serius seperti heat stroke.
Panas ekstrem menjadi perhatian karena pemain sepak bola harus berlari dengan intensitas tinggi selama 90 menit, sementara tubuh terus menghasilkan panas metabolik yang memperbesar risiko kelelahan akibat suhu lingkungan.
Baca Juga: Makan Keju Setiap Hari, Apa yang Terjadi pada Tubuh? Ini 6 Dampaknya
Sejumlah Kota Tuan Rumah Masuk Zona Risiko
Peta risiko WWA menunjukkan beberapa kota tuan rumah Piala Dunia 2026 memiliki potensi tinggi mengalami suhu ekstrem selama periode turnamen yang berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli.
Beberapa wilayah yang mendapat perhatian khusus antara lain:
Baca Juga: Tanda Awal Kanker Pankreas Bisa Terlihat dari Feses? Ini Temuan Penelitian Terbaru
- Miami.
- Kansas City.
- Philadelphia.
- Dallas.
- Houston.
- Atlanta.
- Boston.
- New York.
- Monterrey, Meksiko.
Kota-kota tersebut diprediksi memiliki peluang tinggi mengalami suhu di atas ambang risiko panas selama penyelenggaraan turnamen.
Ahli meteorologi Rubén del Campo menjelaskan bahwa sejak Piala Dunia 1994, suhu rata-rata global telah meningkat sekitar 0,5 hingga 0,7 derajat Celsius.
Baca Juga: Dokter Anak dr Ratna Dituntut 4,5 Tahun Penjara, IDAI Soroti Dugaan Kriminalisasi Tenaga Medis
Meski terlihat kecil, kenaikan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam sistem iklim bumi dan memperbesar kemungkinan terjadinya gelombang panas ekstrem.
Baca Juga: Harga Obat Berpotensi Naik 20 Persen, Ini Jenis Obat yang Paling Terdampak Rupiah Melemah
Stadion dengan Risiko Stres Panas Tinggi
Ancaman panas juga diperkuat oleh penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 10 dari 16 stadion tuan rumah Piala Dunia 2026 memiliki risiko sangat tinggi memicu stres panas bagi pemain maupun penonton.
Beberapa stadion dengan tingkat kerentanan tertinggi berada di:
- Arlington, Texas.
- Houston, Texas.
- Stadion BBVA di Monterrey, Meksiko.
Direktur Institut Penelitian Olahraga Canberra University, Julien Périard, mengingatkan bahwa perhitungan risiko panas bahkan belum sepenuhnya memasukkan faktor tambahan seperti produksi panas tubuh akibat olahraga intensitas tinggi dan pakaian pemain yang menghambat proses penguapan keringat.
Hydration Break Diterapkan FIFA
Untuk mengurangi risiko kesehatan, FIFA memastikan adanya aturan jeda hidrasi selama tiga menit di pertengahan setiap babak pada seluruh pertandingan Piala Dunia 2026.
Kebijakan tersebut bertujuan memberi kesempatan pemain untuk minum dan melakukan pendinginan singkat.
Baca Juga: Benarkah Golongan Darah O Lebih Panjang Umur? Ini Fakta di Balik Kaitannya dengan Kesehatan
Namun, sejumlah pakar menilai jeda hidrasi saja belum cukup untuk menghadapi ancaman panas ekstrem.
Mereka mendorong langkah tambahan seperti:
- Mengurangi durasi pemanasan di bawah paparan panas.
- Memperbaiki sistem pendinginan stadion.
- Menambah kesiapan tim medis darurat.
- Memperketat pemantauan kondisi pemain selama pertandingan.
Kesimpulan
Piala Dunia 2026 menghadapi tantangan besar dari perubahan iklim yang semakin nyata. Selain strategi dan kemampuan teknis, faktor ketahanan fisik terhadap suhu ekstrem bisa menjadi penentu dalam perjalanan sebuah tim.
Dengan kondisi panas yang semakin meningkat, perlindungan kesehatan pemain dan penonton menjadi aspek penting agar turnamen sepak bola terbesar dunia tetap berlangsung aman.
Editor : Ubaidillah