RadarBangkalan.id - Tren olahraga marathon semakin populer di kalangan masyarakat perkotaan. Banyak orang kini menjadikan lari jarak jauh sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus tantangan untuk mencapai target pribadi.
Namun, di balik manfaat olahraga tersebut, terdapat risiko serius yang perlu dipahami, terutama bagi pelari yang memaksakan kemampuan tubuh tanpa persiapan memadai.
Baca Juga: Pelari Pemula Rentan Alami Rhabdomyolysis, Olahraga Berlebihan Bisa Picu Gagal Ginjal
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah rhabdomyolysis atau rabdomiolisis, yaitu kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan berat sehingga berpotensi menyebabkan gangguan fungsi ginjal.
Apa Itu Rhabdomyolysis?
Rhabdomyolysis merupakan kondisi ketika sel-sel otot rangka mengalami kerusakan atau kematian secara cepat. Akibatnya, berbagai zat dari dalam otot seperti mioglobin dan elektrolit dilepaskan ke aliran darah.
Dalam jumlah besar, mioglobin dapat membebani ginjal karena organ tersebut harus menyaring zat tersebut dari darah. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi Acute Kidney Injury (AKI) atau gagal ginjal akut.
Pada olahraga normal, kerusakan otot sebenarnya merupakan bagian dari proses pembentukan otot. Saat seseorang berolahraga, serat otot mengalami robekan kecil yang kemudian diperbaiki tubuh sehingga menjadi lebih kuat.
Baca Juga: Ismael Kone Patah Kaki di Piala Dunia 2026, Dokter Jelaskan Kenapa Pemain Tak Langsung Merasa Sakit
Namun, ketika seseorang melakukan aktivitas terlalu berat, terlalu lama, atau memaksakan tubuh melewati batas kemampuan, kerusakan yang terjadi bisa jauh lebih besar dan berbahaya.
Kelelahan Akut Bisa Jadi Alarm Tubuh
Dokter spesialis penyakit dalam dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, mengatakan tubuh sebenarnya sudah memberikan tanda ketika mengalami tekanan berlebihan saat olahraga.
Salah satu tanda utama yang harus diperhatikan adalah rasa lelah ekstrem.
Baca Juga: Bukan Pertanda Rezeki, Ini Alasan Mata Sering Kedutan Menurut Dokter Mata
"Dia kelelahan, dipaksakan kok itu. Sudah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," ujar dr Tunggul.
Menurutnya, banyak kasus rhabdomyolysis terjadi karena seseorang mengabaikan sinyal tubuh dan tetap melanjutkan aktivitas meskipun kondisi fisiknya sudah menurun.
Selain rasa lelah berat, perubahan warna urine juga dapat menjadi tanda adanya gangguan akibat kerusakan otot.
Urine yang berubah menjadi lebih gelap dapat terjadi karena adanya mioglobin yang keluar dari jaringan otot dan masuk ke saluran pembuangan tubuh.
Baca Juga: Kanker Usus Buntu Meningkat pada Generasi Muda, Risiko Milenial hingga 4 Kali Lipat Lebih Tinggi
Pelari Pemula Lebih Berisiko
Pelari pemula menjadi salah satu kelompok yang perlu lebih berhati-hati karena sering kali belum memiliki adaptasi fisik yang cukup.
Baca Juga: Pelari Marathon Kolaps hingga Cuci Darah, Kenali Bahaya Rhabdomyolysis Akibat Olahraga Ekstrem
Kesalahan yang sering terjadi adalah langsung meningkatkan intensitas latihan tanpa proses bertahap.
Pemanasan yang tidak dilakukan secara gradual, kurang latihan dasar, serta memaksakan target waktu dapat meningkatkan risiko cedera otot berat.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Kenali Perbedaan Susu UHT, Susu Bubuk, dan Susu Kental Manis
Meski begitu, bukan berarti pelari berpengalaman sepenuhnya aman. Atlet atau pelari yang sudah terbiasa menempuh jarak jauh tetap bisa mengalami rhabdomyolysis jika melakukan aktivitas ekstrem tanpa memperhatikan kondisi tubuh.
Dehidrasi dan Cuaca Panas Bisa Memperburuk Kondisi
Selain intensitas olahraga yang terlalu berat, kurangnya asupan cairan juga dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal.
Dehidrasi membuat ginjal bekerja lebih keras dan dapat memperburuk dampak dari pelepasan mioglobin akibat kerusakan otot.
Baca Juga: Ciri-Ciri Jamu Asli Vs Oplosan, Kenali Sebelum Dikonsumsi agar Tidak Tertipu
Cuaca panas ekstrem juga menjadi faktor tambahan yang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko tubuh mengalami tekanan panas atau heatstroke.
Memaksakan diri berlari dalam kondisi tersebut dapat membuat tubuh kehilangan kemampuan untuk beradaptasi.
Apakah Ginjal Bisa Pulih Kembali?
Kabar baiknya, gangguan ginjal akibat rhabdomyolysis masih memiliki peluang untuk pulih jika mendapatkan penanganan cepat.
dr Tunggul menjelaskan, tingkat keparahan Acute Kidney Injury menentukan apakah pasien membutuhkan tindakan seperti dialisis atau tidak.
Baca Juga: Dapur MBG Bakal Dibagi Kelas A, B, C, Insentif SPPG Tidak Lagi Sama
Pada kondisi AKI ringan hingga sedang, fungsi ginjal dapat kembali normal tanpa cuci darah. Namun, pada kondisi yang lebih berat, pasien mungkin membutuhkan dialisis sementara.
Semakin cepat mendapatkan penanganan medis, semakin besar peluang pemulihan fungsi ginjal.
Tips Aman Melakukan Marathon
Agar olahraga tetap memberikan manfaat tanpa membahayakan tubuh, pelari perlu memperhatikan beberapa hal:
Baca Juga: Aneh tapi Nyata, Pria Ini Punya Otak Sangat Kecil Akibat Hidrosefalus namun Tetap Bisa Bekerja
- Tingkatkan jarak dan intensitas latihan secara bertahap.
- Lakukan pemanasan sebelum olahraga berat.
- Pastikan tubuh cukup terhidrasi.
- Jangan abaikan rasa lelah ekstrem.
- Berhenti jika muncul gejala seperti pusing, sesak, nyeri dada, atau perubahan warna urine.
- Prioritaskan kesehatan dibanding mengejar target waktu.
Olahraga memang penting untuk menjaga kebugaran, tetapi kemampuan mendengarkan sinyal tubuh menjadi faktor utama agar aktivitas fisik tetap aman.
Baca Juga: Serangan Jantung Saat Tidur Bisa Terjadi, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan
Editor : Ubaidillah