RadarBangkalan.id - Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat terhadap perempuan berinisial YTR (29) di Jawa Barat mengungkap rangkaian kekerasan yang diduga berlangsung selama berbulan-bulan.
Korban disebut mengalami luka serius hingga kehilangan penglihatan pada kedua matanya dan mengalami cacat fisik permanen akibat dugaan penyiksaan yang dilakukan tersangka Taufik Hidayat.
Baca Juga: Pria 44 Tahun di Prancis Hidup Normal Meski Hasil MRI Tunjukkan Otaknya Sangat Kecil
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat menyebut dugaan kekerasan tersebut terjadi di empat lokasi berbeda sejak 2024. Korban dan tersangka diketahui sebelumnya berkenalan melalui aplikasi kencan sebelum akhirnya tinggal bersama.
Kronologi Dugaan Kekerasan di Empat Lokasi
Dugaan kekerasan pertama terjadi saat korban dan tersangka tinggal di kawasan Cicaheum, Kota Bandung, pada Mei hingga September 2024.
Dalam periode tersebut, korban disebut mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan dan tindakan penyiksaan menggunakan rokok.
Baca Juga: Kebiasaan Pagi Jeff Bezos yang Membantu Menjaga Fokus dan Produktivitas
Setelah berpindah ke rumah kos lain pada September 2024 hingga Januari 2025, intensitas kekerasan diduga meningkat. Mata kiri korban mengalami cedera berat setelah dipukul menggunakan besi hingga menyebabkan kehilangan penglihatan.
Kekerasan kemudian berlanjut ketika keduanya tinggal di kawasan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Berdasarkan keterangan korban, mata kanan korban dipukul menggunakan helm hingga mengalami kebutaan total. Selain itu, lutut korban juga mengalami luka akibat benda tajam sehingga membuat korban kesulitan berjalan.
Di lokasi terakhir, yakni sebuah rumah kos di kawasan Cileunyi, korban diduga disekap di dalam kamar dan mengalami pemukulan berulang kali menggunakan helm hingga mengalami luka berat.
Polisi menyebut korban kemudian ditemukan dalam kondisi tidak berdaya.
Baca Juga: Carbohydrate Mouth Rinse, Teknik yang Dipakai Atlet untuk Menjaga Performa
Tersangka Minta Maaf dalam Konferensi Pers
Dalam konferensi pers di Mapolda Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat (26/6/2026), Taufik Hidayat akhirnya dihadirkan di hadapan publik.
Saat diberi kesempatan berbicara, Taufik menyampaikan permintaan maaf atas perbuatannya.
"Saya minta maaf," ujar Taufik.
Ahli Jelaskan Pola Perilaku Pelaku Kekerasan Ekstrem
Psikiater Lahargo Kembaren menilai penyekapan dan penyiksaan yang berlangsung lama menunjukkan adanya perilaku kekerasan ekstrem.
Baca Juga: 5 Hewan Paling Cerdas di Dunia, Kemampuan Otaknya Hampir Menyaingi Manusia
Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan perilaku tanpa empati, kontrol yang sangat dominan terhadap korban, serta pelanggaran berat terhadap hak korban.
Meski karakteristik seperti itu dapat ditemukan pada seseorang dengan gangguan kepribadian antisosial atau perilaku psikopatik, ia menegaskan tidak semua pelaku kekerasan mengalami kondisi tersebut.
Pelaku Kekerasan Bisa Terlihat Baik di Awal Hubungan
Menurut dr Lahargo, salah satu hal yang sering membuat korban sulit menyadari bahaya adalah perubahan perilaku pelaku yang terjadi secara bertahap.
Baca Juga: Kemenkes Tutup Klinik Kecantikan Ilegal di Bali, Diduga Libatkan Tenaga Medis Asing Tanpa Izin
Pada awal hubungan, pelaku kekerasan bisa terlihat sangat perhatian, romantis, dan protektif. Mereka sering membangun kedekatan emosional dengan cepat sehingga korban merasa aman.
Namun, perilaku tersebut dapat berubah menjadi sikap posesif dan mengontrol.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Mengatur pergaulan korban dengan keluarga atau teman.
- Mengontrol komunikasi dan aktivitas sehari-hari.
- Membatasi kebebasan dalam mengambil keputusan.
- Melakukan manipulasi emosional setelah terjadi konflik.
Dalam beberapa kasus, kekerasan juga dapat membentuk siklus berulang, yaitu pelaku menyakiti korban kemudian meminta maaf sehingga korban kembali bertahan dalam hubungan tersebut.
Baca Juga: Bukan Pertanda Rezeki, Ini Alasan Mata Sering Kedutan Menurut Dokter Mata
Karena itu, ahli mengingatkan bahwa tanda bahaya dalam hubungan tidak selalu dimulai dari kekerasan fisik, tetapi bisa muncul melalui perilaku mengontrol berlebihan dan hilangnya kebebasan korban secara perlahan.
Editor : Ubaidillah