RadarBangkalan.id - Keluhan seperti nyeri ulu hati, perut kembung, rasa begah setelah makan, atau gangguan pencernaan sering dianggap sebagai masalah maag biasa. Banyak orang memilih mengonsumsi obat maag yang dijual bebas tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, kebiasaan mendiagnosis kondisi sendiri atau self-diagnosis dapat berisiko. Pasalnya, sejumlah penyakit serius memiliki gejala yang mirip dengan gastritis atau maag, mulai dari batu empedu, pankreatitis, hingga kanker kolorektal atau kanker usus besar.
Baca Juga: Pria 44 Tahun di Prancis Hidup Normal Meski Hasil MRI Tunjukkan Otaknya Sangat Kecil
Menurut para ahli kesehatan, masalah terbesar bukan hanya munculnya gejala, tetapi bagaimana seseorang menafsirkan gejala tersebut. Tidak sedikit pasien baru mencari pertolongan medis setelah penyakit berkembang ke tahap lebih berat.
Kanker Usus Sering Disangka Maag Biasa
Konsultan bedah umum dan kolorektal, Dr Nurhashim Haron, mengungkapkan bahwa cukup banyak pasien kanker kolorektal awalnya mengira keluhan yang dialami hanya gangguan lambung.
Sekitar 40 hingga 50 persen pasien kanker kolorektal yang datang kepadanya sebelumnya merasa mengalami maag atau gastritis.
Baca Juga: Kebiasaan Pagi Jeff Bezos yang Membantu Menjaga Fokus dan Produktivitas
Masalahnya, sebagian pasien baru melakukan pemeriksaan setelah gejala berlangsung lama. Akibatnya, banyak kasus ditemukan ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut.
Selain itu, tren kanker kolorektal juga mulai bergeser. Jika sebelumnya lebih banyak ditemukan pada usia 55 hingga 65 tahun, kini kasus pada kelompok usia 40-an bahkan lebih muda mulai meningkat.
Baca Juga: Carbohydrate Mouth Rinse, Teknik yang Dipakai Atlet untuk Menjaga Performa
Salah satu kasus yang pernah ditemukan adalah pasien yang awalnya hanya mengeluhkan perut kembung. Pemeriksaan lambung memang menunjukkan adanya peradangan, tetapi pemeriksaan lanjutan menggunakan kolonoskopi menemukan tumor di usus besar yang sudah berkembang.
Baca Juga: Kemenkes Tutup Klinik Kecantikan Ilegal di Bali, Diduga Libatkan Tenaga Medis Asing Tanpa Izin
Perubahan Pola BAB Jadi Tanda yang Perlu Diperhatikan
Masyarakat disarankan tidak mengabaikan perubahan kebiasaan buang air besar (BAB). Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Frekuensi BAB berubah dari biasanya.
- Bentuk feses menjadi lebih tipis.
- Perubahan tekstur atau konsistensi feses.
- Muncul darah atau lendir pada feses.
- Diare berkepanjangan atau sembelit kronis.
- Rasa BAB tidak tuntas meski sudah buang air besar.
Gejala tersebut sering kali dianggap hanya akibat stres, pola makan, atau gangguan lambung. Padahal, perubahan tersebut dapat menjadi tanda adanya masalah pada saluran pencernaan.
Baca Juga: 5 Hewan Paling Cerdas di Dunia, Kemampuan Otaknya Hampir Menyaingi Manusia
Batu Empedu Juga Bisa Menyerupai Gejala Maag
Selain kanker usus, batu empedu juga sering menyebabkan keluhan yang mirip dengan gastritis.
Pasien dengan batu empedu dapat merasakan gangguan pencernaan, rasa tidak nyaman di perut, hingga sensasi panas seperti pada penderita maag.
Namun, terdapat beberapa perbedaan. Nyeri akibat batu empedu biasanya terasa lebih tajam dan berada di sisi kanan perut. Rasa sakit juga dapat menjalar hingga punggung dan disertai gejala lain seperti:
- Mual dan muntah.
- Kulit atau mata menguning.
- Nyeri setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Jika tidak ditangani, batu empedu dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi berat hingga meningkatkan risiko gangguan serius pada kandung empedu.
Baca Juga: Kanker Usus Besar Meningkat pada Anak Muda, Waspadai 4 Tanda Awalnya
Jangan Abaikan Gejala yang Berulang
Keluhan pencernaan yang muncul sesekali mungkin tidak selalu menandakan penyakit berat. Namun, jika gejala terus berulang, semakin memburuk, atau disertai perubahan pola BAB, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan medis.
Deteksi dini dapat membantu menemukan penyebab penyakit lebih cepat sehingga pilihan pengobatan menjadi lebih efektif.
Baca Juga: Bukan Pertanda Rezeki, Ini Alasan Mata Sering Kedutan Menurut Dokter Mata
Editor : Ubaidillah