RadarBangkalan.id - Sakit perut bagian atas atau nyeri di area ulu hati sering disebut masyarakat sebagai sakit maag. Namun, istilah tersebut sebenarnya mencakup berbagai gangguan pencernaan yang memiliki penyebab dan penanganan berbeda.
Dalam dunia medis, keluhan yang sering dianggap sebagai maag dapat berkaitan dengan beberapa kondisi, seperti dispepsia, GERD (gastroesophageal reflux disease), dan gastritis. Ketiganya memang memiliki gejala yang mirip, tetapi terdapat perbedaan pada penyebab maupun bagian tubuh yang mengalami gangguan.
Baca Juga: Pria 44 Tahun di Prancis Hidup Normal Meski Hasil MRI Tunjukkan Otaknya Sangat Kecil
Perbedaan Maag, GERD, dan Gastritis
1. Maag (Dispepsia)
Maag merupakan istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan bagian atas. Dalam istilah medis, kondisi yang paling sering dikaitkan dengan maag adalah dispepsia.
Dispepsia adalah kumpulan gejala berupa rasa sakit atau tidak nyaman pada area perut bagian atas ketika sistem pencernaan sedang memproses makanan.
Baca Juga: Kebiasaan Pagi Jeff Bezos yang Membantu Menjaga Fokus dan Produktivitas
Gejala maag yang umum terjadi antara lain:
• Nyeri atau rasa terbakar di ulu hati
• Perut terasa penuh setelah makan
• Cepat merasa kenyang
• Mual hingga muntah
• Perut kembung
Baca Juga: Carbohydrate Mouth Rinse, Teknik yang Dipakai Atlet untuk Menjaga Performa
Keluhan biasanya muncul beberapa menit hingga beberapa jam setelah makan. Penyebabnya dapat berkaitan dengan pola makan tidak teratur, stres, serta konsumsi makanan atau minuman tertentu seperti makanan pedas, asam, dan berlemak.
Baca Juga: Kemenkes Tutup Klinik Kecantikan Ilegal di Bali, Diduga Libatkan Tenaga Medis Asing Tanpa Izin
2. GERD
GERD atau gastroesophageal reflux disease merupakan kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan sehingga menyebabkan iritasi.
Gangguan ini terjadi akibat melemahnya otot katup di bagian bawah kerongkongan atau lower esophageal sphincter (LES). Normalnya, otot tersebut berfungsi mencegah isi lambung kembali naik.
Gejala GERD yang sering muncul meliputi:
• Sensasi panas atau terbakar di dada (heartburn)
• Rasa asam atau pahit di mulut
• Nyeri dada
• Tenggorokan terasa mengganjal
• Sulit menelan
• Perut kembung
GERD biasanya lebih terasa ketika seseorang berbaring atau tidur setelah makan.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko GERD antara lain:
Baca Juga: 5 Hewan Paling Cerdas di Dunia, Kemampuan Otaknya Hampir Menyaingi Manusia
• Berat badan berlebih atau obesitas
• Kehamilan
• Bertambahnya usia
• Konsumsi obat tertentu seperti obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)
• Gangguan pergerakan lambung seperti gastroparesis
• Hernia hiatus
• Kebiasaan langsung berbaring setelah makan
Berbeda dengan maag yang lebih sering menimbulkan keluhan di area perut, GERD lebih khas dengan sensasi panas yang menjalar hingga dada atau tenggorokan.
Baca Juga: Bukan Pertanda Rezeki, Ini Alasan Mata Sering Kedutan Menurut Dokter Mata
3. Gastritis
Gastritis adalah kondisi ketika lapisan pelindung dinding lambung mengalami peradangan.
Lapisan lendir pada lambung berfungsi melindungi jaringan dari cairan pencernaan. Jika lapisan tersebut melemah atau mengalami kerusakan, asam lambung dapat menyebabkan iritasi dan peradangan.
Gejala gastritis meliputi:
• Nyeri atau rasa perih seperti terbakar di ulu hati
• Perut kembung
• Mual dan muntah
• Nafsu makan menurun
• Sering cegukan
• Cepat merasa kenyang
Beberapa penyebab dan faktor risiko gastritis antara lain:
Baca Juga: Kanker Usus Besar Meningkat pada Anak Muda, Waspadai 4 Tanda Awalnya
• Infeksi bakteri Helicobacter pylori
• Penggunaan obat pereda nyeri secara rutin, terutama NSAID
• Usia lanjut karena lapisan lambung semakin menipis
• Konsumsi alkohol berlebihan
Cara Mengetahui Gangguan Lambung yang Dialami
Gejala maag, GERD, dan gastritis dapat terlihat mirip sehingga pemeriksaan medis diperlukan apabila keluhan sering muncul atau tidak kunjung membaik.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan endoskopi untuk melihat langsung kondisi kerongkongan, lambung, dan saluran pencernaan bagian atas.
Melalui endoskopi, dokter dapat mengetahui adanya peradangan, luka, maupun gangguan lain yang menyebabkan keluhan lambung.
Baca Juga: Pelari Pemula Rentan Alami Rhabdomyolysis, Olahraga Berlebihan Bisa Picu Gagal Ginjal
Pemeriksaan ini membantu dokter menentukan penyebab pasti dan memberikan pengobatan yang sesuai, terutama pada pasien dengan keluhan yang sering kambuh.
Editor : Ubaidillah