Kemenkes Klarifikasi Lonjakan Kasus HIV di Sidoarjo, Deteksi Dini Meningkat Bukan Berarti Penularan Naik

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 08:30 WIB
ilustrasi (Foto: thinkstock)
ilustrasi (Foto: thinkstock)

 

RadarBangkalan.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI meluruskan informasi yang beredar terkait meningkatnya jumlah kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo. Kemenkes menegaskan bahwa bertambahnya kasus yang ditemukan bukan berarti penularan HIV meningkat, melainkan dipengaruhi oleh semakin luasnya layanan skrining sehingga lebih banyak orang mengetahui status kesehatannya lebih awal.

Berdasarkan data Kemenkes, sejak 2001 hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 1.183 kasus HIV kumulatif ditemukan pada kelompok usia 0-24 tahun di Kabupaten Sidoarjo. Data tersebut merupakan akumulasi temuan selama lebih dari dua dekade, bukan jumlah kasus baru dalam satu tahun.

Baca Juga: Penyebab Peradangan Kulit yang Perlu Diwaspadai, dari Alergi hingga Penyakit Autoimun

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menjelaskan bahwa HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral (ARV). Karena itu, masyarakat diimbau tidak takut menjalani tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau mendapat rekomendasi dari tenaga kesehatan.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak takut melakukan tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau direkomendasikan oleh tenaga kesehatan," ujar Andi dalam keterangannya, Sabtu (25/7/2026).

Penjelasan tersebut disampaikan menyusul viralnya video yang menyebut 522 pelajar di Kabupaten Sidoarjo terpapar HIV/AIDS. Informasi tersebut memicu kekhawatiran di tengah masyarakat sehingga Kemenkes melakukan klarifikasi dan verifikasi terhadap data yang beredar.

Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Paparan Berita Buruk, Hindari Doomscrolling Berlebihan

Sebagai tindak lanjut, Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes menggelar supervisi program HIV di Kabupaten Sidoarjo. Tim melakukan kunjungan ke Delta Crisis Center (DCC), yang menjadi salah satu sumber data dalam pemberitaan, guna memastikan validitas informasi yang beredar di masyarakat.

Baca Juga: 4 Minuman yang Disebut Bisa Memperpanjang Umur, Teh Hijau hingga Air Putih

Selain memverifikasi data, supervisi juga bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan HIV, deteksi dini, layanan pengobatan, hingga pendampingan bagi orang dengan HIV (ODHIV). Kemenkes juga memperkuat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo agar penanganan kasus berjalan optimal.

Baca Juga: Hipoglikemia Bisa Terjadi pada Orang Tanpa Diabetes, Ini Penyebab dan Gejalanya

Kemenkes menekankan bahwa meningkatnya cakupan skrining merupakan indikator positif karena lebih banyak masyarakat dapat mengetahui status HIV lebih dini. Dengan diagnosis yang cepat, pasien dapat segera memperoleh terapi ARV sehingga kualitas hidup tetap terjaga sekaligus menurunkan risiko penularan kepada orang lain.

Masyarakat juga diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan menghindari stigma terhadap penyandang HIV. Edukasi, deteksi dini, serta akses pengobatan menjadi kunci utama dalam pengendalian HIV di Indonesia.

Baca Juga: Dokter Jelaskan Perbedaan Penyakit Jantung Bawaan pada Anak dan Sakit Jantung Orang Dewasa

Editor : Ubaidillah
penularan hiv skrining hiv hiv sidoarjo kemenkes ri