Wanita Ini Minum 10 Cangkir Kopi Sehari, Berujung Didiagnosis Gangguan Irama Jantung

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 06:20 WIB
Foto ilustrasi: Getty Images/Chinnapong
Foto ilustrasi: Getty Images/Chinnapong

 

RadarBangkalan.id - Kebiasaan mengonsumsi kopi secara berlebihan dapat berdampak serius pada kesehatan jantung. Seorang wanita asal New York, Amerika Serikat, didiagnosis mengalami aritmia atau gangguan irama jantung setelah bertahun-tahun mengonsumsi hingga 8-10 cangkir kopi setiap hari.

Wanita bernama Rachel Finley, kini berusia 32 tahun, mengaku mulai bergantung pada kafein saat masih berusia awal 20-an. Jadwal kuliah yang padat, pekerjaan paruh waktu di restoran hingga larut malam, serta aktivitas sosial yang tinggi membuatnya menjadikan kopi sebagai sumber energi utama setiap hari.

Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Ngorok Saat Tidur, Dokter Sebut Sleep Apnea Bisa Sebabkan Kematian

Rachel mengungkapkan bahwa lingkungan kerjanya saat itu membuat konsumsi kafein berlebihan terasa normal. Selain minum kopi dalam jumlah besar, ia juga mengonsumsi pil berkafein ketika tidak sempat menikmati kopi saat bekerja.

"Bekerja di restoran membuat banyak perilaku tidak sehat dinormalisasi. Saya dulu peminum berat dan juga mengonsumsi pil yang mengandung kafein kalau tidak sempat minum kopi di tempat kerja," ujarnya seperti dikutip dari Newsweek.

Padahal, batas konsumsi kafein yang dianggap aman bagi kebanyakan orang dewasa adalah sekitar 400 miligram per hari atau setara dengan empat cangkir kopi seduh.

Baca Juga: Fenomena Bediding Bikin Suhu di Jawa Makin Dingin, BMKG Ungkap Penyebab dan Daerah Terparah

Seiring waktu, Rachel mulai merasakan berbagai keluhan kesehatan. Ia sering mengalami jantung berdebar-debar, dada terasa berat, serta kesulitan tidur pada malam hari. Meski sempat mengurangi konsumsi kopi, dampak jangka panjangnya baru terlihat beberapa tahun kemudian.

Saat berusia 26 tahun, Rachel merasa tubuhnya tetap lelah meski sudah tidur selama 8 hingga 10 jam setiap malam. Kondisi tersebut mendorongnya menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut hingga akhirnya dirujuk ke dokter spesialis jantung.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Rachel mengalami aritmia, yaitu gangguan pada ritme detak jantung. Dokter menilai kondisi tersebut berkaitan dengan riwayat konsumsi kafein berlebihan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Penyebab Peradangan Kulit yang Perlu Diwaspadai, dari Alergi hingga Penyakit Autoimun

"Saya menangis tersedu-sedu saat keluar dari ruangan dokter jantung. Dia memberi tahu kalau saya harus mengubah gaya hidup atau berisiko meninggal di usia muda. Itu benar-benar tamparan keras bagi saya," kenangnya.

Setelah diagnosis tersebut, Rachel memutuskan mengubah pola hidupnya secara drastis. Ia berhenti mengonsumsi minuman berkafein dan beralih ke kopi decaf atau kopi tanpa kafein. Selain itu, ia rutin menjalani pemeriksaan kesehatan jantung setiap tahun.

Perubahan gaya hidup tersebut membuat gejala yang sebelumnya sering muncul berangsur membaik. Rachel kini aktif mengingatkan masyarakat, khususnya anak muda, agar tidak mengabaikan dampak konsumsi kopi berlebihan maupun minuman energi yang tinggi kafein.

Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Paparan Berita Buruk, Hindari Doomscrolling Berlebihan

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tanda-tanda kelebihan kafein. Gejala yang dapat muncul antara lain jantung berdebar, peningkatan denyut jantung, tekanan darah tinggi, insomnia, kecemasan berlebihan, sakit perut, hingga pusing.

Para ahli menekankan bahwa kopi tetap dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat jika dikonsumsi dalam jumlah wajar. Namun, konsumsi berlebihan dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk masalah pada sistem kardiovaskular.

Baca Juga: Hipoglikemia Bisa Terjadi pada Orang Tanpa Diabetes, Ini Penyebab dan Gejalanya

Editor : Ubaidillah
konsumsi kopi kerusakan jantung aritmia gejala kelebihan kafein efek samping kafein