Jangan Anggap Sepele Ngorok Saat Tidur, Bisa Jadi Tanda Sleep Apnea yang Mematikan

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Pawel Kacperek)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Pawel Kacperek)

 

RadarBangkalan.id - Banyak orang menganggap ngorok saat tidur sebagai hal yang normal, bahkan sering dikaitkan dengan tidur yang nyenyak. Namun, para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan mendengkur yang disertai henti napas berulang bisa menjadi tanda sleep apnea, gangguan tidur serius yang berisiko memicu penyakit jantung hingga kematian.

Dokter spesialis kesehatan tidur dr Andreas Prasadja, RPSGT menjelaskan bahwa kondisi yang paling berbahaya adalah ketika seseorang tiba-tiba berhenti bernapas saat tidur akibat saluran napas yang tersumbat. Penderita biasanya tidak menyadari kejadian tersebut karena terjadi saat sedang tertidur.

Baca Juga: Wanita Ini Minum 10 Cangkir Kopi Sehari, Berujung Didiagnosis Gangguan Irama Jantung

Menurut dr Andreas, saat henti napas terjadi, kadar oksigen dalam tubuh akan menurun dan memaksa jantung bekerja lebih keras. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Yang bahaya itu saat ngorok berhenti mendadak lalu tercekik. Saluran napas tertutup sehingga terjadi henti napas saat tidur. Setelah beberapa detik, tubuh akan berusaha bernapas kembali tanpa penderita benar-benar sadar,” jelasnya.

Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Ngorok Saat Tidur, Dokter Sebut Sleep Apnea Bisa Sebabkan Kematian

Meski tidak selalu menimbulkan gejala yang dirasakan saat malam hari, penderita sleep apnea umumnya bangun dalam kondisi tidak segar, mudah lelah, dan sering mengantuk di siang hari. Pada usia muda, gejala tersebut sering kali tertutupi oleh konsumsi kafein yang berlebihan.

Dr Andreas menyoroti kebiasaan mengonsumsi kopi dalam jumlah banyak sebagai salah satu tanda yang patut dicurigai. Menurutnya, seseorang yang membutuhkan lebih dari enam cangkir kopi per hari kemungkinan mengalami rasa kantuk berlebihan atau hipersomnia akibat kualitas tidur yang buruk.

Baca Juga: Fenomena Bediding Bikin Suhu di Jawa Makin Dingin, BMKG Ungkap Penyebab dan Daerah Terparah

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya menyarankan pemeriksaan tidur atau sleep study. Dalam prosedur ini, pasien akan dipasang berbagai sensor selama tidur untuk memantau frekuensi henti napas, kadar oksigen dalam darah, serta aktivitas jantung.

Baca Juga: Penyebab Peradangan Kulit yang Perlu Diwaspadai, dari Alergi hingga Penyakit Autoimun

Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi dokter untuk menentukan tingkat keparahan sleep apnea dan memilih terapi yang sesuai. Penanganan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko komplikasi serius, termasuk hipertensi, gangguan irama jantung, stroke, hingga serangan jantung.

Karena itu, masyarakat disarankan tidak menganggap remeh kebiasaan ngorok, terutama jika disertai jeda napas, tersedak saat tidur, mengantuk berlebihan di siang hari, atau sering terbangun dalam kondisi lelah. Pemeriksaan dini dapat membantu mencegah dampak kesehatan yang lebih serius di kemudian hari.

Baca Juga: 4 Minuman yang Disebut Bisa Memperpanjang Umur, Teh Hijau hingga Air Putih

Editor : Ubaidillah
ngorok hipersomnia sleep study bahaya ngorok saat tidur serangan jantung