RadarBangkalan.id - Anggapan bahwa terlalu sering makan telur dapat menyebabkan bisulan masih banyak dipercaya masyarakat Indonesia. Mitos ini kembali menjadi perbincangan setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menceritakan pengalaman masa kecilnya yang terbiasa mengonsumsi telur hingga mengalami bisulan.
Namun, benarkah telur menjadi penyebab bisul? Dokter Spesialis Gizi Klinik menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak didukung oleh bukti medis.
Baca Juga: BPOM Resmi Terapkan Nutri-Level Mulai 2026, Ini Arti Kode Warna A-D pada Minuman Kemasan
Bisul Disebabkan Infeksi Bakteri, Bukan Konsumsi Telur
Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, Sp.GK, menjelaskan bahwa bisul terjadi akibat infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada folikel rambut atau kelenjar kulit.
Menurutnya, telur tidak memiliki hubungan langsung dengan munculnya bisul.
"Bisulan disebabkan karena adanya inflamasi di folikel rambut akibat bakteri Staphylococcus aureus, bukan karena telur," jelas dr. Yaze.
Baca Juga: Wanita Ini Minum 10 Cangkir Kopi Sehari, Berujung Didiagnosis Gangguan Irama Jantung
Secara medis, bakteri tersebut masuk melalui luka kecil, pori-pori kulit, atau area kulit yang mengalami iritasi. Setelah berkembang, bakteri memicu peradangan yang ditandai dengan benjolan merah, nyeri, dan berisi nanah.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko bisul antara lain:
- Kebersihan kulit yang kurang terjaga.
- Diabetes yang tidak terkontrol.
- Daya tahan tubuh yang menurun.
- Obesitas.
- Gesekan berulang pada kulit.
- Luka atau lecet pada permukaan kulit.
Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi telur dapat secara langsung menyebabkan bisul.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Ngorok Saat Tidur, Dokter Sebut Sleep Apnea Bisa Sebabkan Kematian
Mengapa Telur Sering Dikaitkan dengan Bisulan?
Menurut dr. Yaze, salah satu alasan munculnya anggapan tersebut adalah karena sebagian orang memiliki alergi terhadap telur.
Reaksi alergi telur dapat menyebabkan gatal-gatal, ruam kemerahan, biduran (urtikaria), pembengkakan, hingga gangguan pencernaan.
Karena kulit terasa gatal, penderita sering menggaruk area tersebut secara berlebihan. Garukan yang terus-menerus dapat menimbulkan lecet atau luka kecil yang kemudian menjadi pintu masuk bakteri penyebab bisul.
Dengan kata lain, jika seseorang mengalami bisul setelah mengonsumsi telur, kemungkinan besar penyebabnya bukan telur secara langsung, melainkan infeksi bakteri yang terjadi setelah kulit mengalami iritasi atau luka akibat garukan.
Baca Juga: Fenomena Bediding Bikin Suhu di Jawa Makin Dingin, BMKG Ungkap Penyebab dan Daerah Terparah
Perbedaan Alergi Telur dan Bisul
Alergi telur dan bisul merupakan dua kondisi yang berbeda.
Alergi telur terjadi ketika sistem imun bereaksi terhadap protein dalam telur dan menimbulkan gejala seperti:
- Gatal-gatal.
- Ruam merah.
- Biduran.
- Pembengkakan bibir atau wajah.
- Mual dan muntah.
- Diare.
- Sesak napas pada kasus berat.
Baca Juga: Penyebab Peradangan Kulit yang Perlu Diwaspadai, dari Alergi hingga Penyakit Autoimun
Sementara itu, bisul merupakan infeksi bakteri yang menyebabkan:
- Benjolan merah dan nyeri.
- Pembengkakan pada kulit.
- Terbentuknya nanah.
- Rasa hangat pada area yang terinfeksi.
Karena mekanismenya berbeda, alergi telur tidak bisa disamakan dengan bisul.
Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Paparan Berita Buruk, Hindari Doomscrolling Berlebihan
Telur Justru Kaya Protein dan Nutrisi Penting
Alih-alih menjadi penyebab penyakit, telur justru termasuk salah satu makanan paling bergizi.
Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), satu butir telur ayam mengandung sekitar 6–7 gram protein berkualitas tinggi serta berbagai nutrisi penting lainnya seperti:
- Kolin.
- Vitamin A.
- Vitamin D.
- Vitamin B12.
- Riboflavin.
- Selenium.
- Fosfor.
- Berbagai vitamin dan mineral esensial.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients tahun 2023 juga menunjukkan bahwa protein telur memiliki nilai biologis tinggi sehingga sangat efektif digunakan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan.
Selain itu, kolin dalam telur berperan penting dalam menjaga fungsi otak, sistem saraf, dan metabolisme tubuh.
Baca Juga: Hipoglikemia Bisa Terjadi pada Orang Tanpa Diabetes, Ini Penyebab dan Gejalanya
Apakah Aman Makan Telur Setiap Hari?
Menurut dr. Yaze, konsumsi telur setiap hari aman bagi orang yang sehat dan tidak memiliki alergi telur.
Ia menjelaskan bahwa mengonsumsi satu butir telur per hari atau sekitar 5–7 butir per minggu masih termasuk aman untuk kebanyakan orang.
Baca Juga: 4 Minuman yang Disebut Bisa Memperpanjang Umur, Teh Hijau hingga Air Putih
Konsumsi telur secara rutin juga dapat membantu:
- Memenuhi kebutuhan protein harian.
- Menjaga massa otot.
- Memberikan rasa kenyang lebih lama.
- Mendukung pengendalian berat badan.
- Menjaga kesehatan otak dan saraf.
Karena itu, masyarakat tidak perlu menghindari telur hanya karena khawatir mengalami bisulan. Selama tidak memiliki alergi dan dikonsumsi dalam jumlah wajar, telur justru dapat menjadi bagian penting dari pola makan sehat.
Editor : Ubaidillah