RadarBangkalan.id - Kehamilan sering dianggap sebagai masa ketika wanita harus membatasi aktivitas fisik. Namun, pandangan tersebut tidak selalu benar. Dengan kondisi kesehatan yang baik dan pengawasan medis yang tepat, sebagian ibu hamil tetap dapat menjalani olahraga secara rutin, bahkan dengan intensitas yang cukup tinggi.
Perbincangan mengenai olahraga saat hamil kembali mencuat setelah Nabila Qadrianty, ibu asal Indonesia, berhasil menyelesaikan ajang ketahanan fisik Hyrox Osaka saat usia kehamilannya mencapai 24 minggu. Prestasi tersebut bahkan membuatnya mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang, Bisa Jadi Tanda Saraf Kejepit L4-L5
Bumil Tidak Boleh Asal Meniru
Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr Niken P Pangastuti, SpOG KFER, mengingatkan bahwa ibu hamil tidak boleh langsung meniru aktivitas olahraga berat yang dilakukan orang lain tanpa memahami kondisi tubuh masing-masing.
Menurutnya, faktor terpenting adalah riwayat kebugaran dan kebiasaan berolahraga sebelum kehamilan terjadi.
"Keikutsertaan dalam kompetisi seperti Hyrox hanya memungkinkan jika tubuh memang sudah terbiasa dengan latihan berat jauh sebelum hamil," jelas dr Niken.
Artinya, olahraga intens selama kehamilan bukan sesuatu yang bisa dilakukan secara mendadak oleh seseorang yang sebelumnya tidak aktif berolahraga.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Telur Disebut Bikin Bisulan, Ini Penjelasan Dokter
Kondisi Fisik Setiap Bumil Berbeda
dr Niken menegaskan bahwa kemampuan fisik setiap ibu hamil sangat berbeda sehingga tidak bisa disamakan.
Meski secara umum ibu hamil dianjurkan melakukan aktivitas fisik ringan hingga sedang, sebagian wanita dengan tingkat kebugaran tinggi mungkin masih mampu menjalani latihan yang lebih berat tanpa mengalami masalah.
"Tiap orang tidak bisa kita samakan. Mungkin dia memang stamina tubuhnya sangat kuat. Selama kondisi kehamilan baik dan tubuh masih mampu menoleransi aktivitas tersebut, biasanya masih aman," ujar dr Niken.
Baca Juga: BPOM Resmi Terapkan Nutri-Level Mulai 2026, Ini Arti Kode Warna A-D pada Minuman Kemasan
Kesehatan Janin Harus Menjadi Prioritas
Sebelum melakukan olahraga berat selama kehamilan, pemeriksaan rutin ke dokter kandungan menjadi hal yang wajib dilakukan.
Menurut dr Niken, olahraga intens hanya dapat dipertimbangkan apabila:
- Kondisi kehamilan tergolong sehat.
- Tidak ada komplikasi kehamilan.
- Janin berkembang dengan baik.
- Tidak ada riwayat perdarahan atau kontraksi dini.
- Ibu sudah terbiasa berolahraga sebelum hamil.
- Aktivitas dilakukan dengan pemantauan medis yang memadai.
Apabila muncul keluhan seperti pusing, sesak napas, nyeri perut, kontraksi, atau perdarahan, aktivitas fisik harus segera dihentikan dan diperiksakan ke dokter.
Baca Juga: Wanita Ini Minum 10 Cangkir Kopi Sehari, Berujung Didiagnosis Gangguan Irama Jantung
Manfaat Olahraga Saat Hamil
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa olahraga yang dilakukan secara tepat selama kehamilan dapat memberikan banyak manfaat, antara lain:
- Membantu menjaga berat badan ideal.
- Mengurangi nyeri punggung.
- Menurunkan risiko diabetes gestasional.
- Meningkatkan kualitas tidur.
- Membantu menjaga kesehatan jantung.
- Meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres.
- Mempermudah proses pemulihan setelah melahirkan.
Karena itu, ibu hamil tidak perlu takut untuk tetap aktif bergerak selama mendapatkan izin dari dokter dan menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan tubuh.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Ngorok Saat Tidur, Dokter Sebut Sleep Apnea Bisa Sebabkan Kematian
Jangan Fokus pada Intensitas, tetapi Keamanan
Fenomena ibu hamil yang mampu mengikuti kompetisi olahraga seperti Hyrox memang menginspirasi banyak orang. Namun, para ahli mengingatkan bahwa tujuan utama olahraga selama kehamilan bukanlah mengejar performa, melainkan menjaga kesehatan ibu dan janin.
Baca Juga: Fenomena Bediding Bikin Suhu di Jawa Makin Dingin, BMKG Ungkap Penyebab dan Daerah Terparah
Setiap ibu hamil memiliki kondisi fisik yang berbeda. Karena itu, program olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi individu dan selalu dikonsultasikan dengan tenaga medis.
Editor : Ubaidillah