RadarBangkalan.id - Seorang wanita bernama Lea Marie mengira dirinya hanya mengalami gangguan kecemasan atau anxiety setelah sering pingsan sejak usia 22 tahun. Namun, setelah bertahun-tahun mengalami berbagai gejala yang semakin memburuk, pemeriksaan MRI akhirnya mengungkap bahwa ia mengidap tumor otak.
Kisah Lea menjadi perhatian setelah ia membagikan pengalamannya menjalani perjalanan panjang menuju diagnosis yang tepat. Wanita yang kini berusia 33 tahun itu awalnya mengalami episode pingsan saat masih duduk di bangku kuliah. Setelah memeriksakan diri ke dokter, ia didiagnosis mengalami anxiety dan diberikan pengobatan untuk mengatasi gangguan tersebut.
Baca Juga: Diabetes Tak Hanya Naikkan Gula Darah, Bisa Picu Stroke dan Gangguan Otak
Pada awalnya, Lea percaya bahwa kondisinya akan membaik dengan terapi yang diberikan. Namun seiring berjalannya waktu, gejala yang dialaminya justru semakin kompleks. Selain sering pingsan, ia mulai mengalami kejang yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Saat sedang hamil dan berjalan bersama putrinya, Lea mengalami gangguan penglihatan seperti melihat melalui terowongan, disertai kesemutan pada mulut dan lidah. Ia juga merasakan jantung berdebar, berkeringat berlebihan, hingga pandangannya menjadi gelap. Di waktu lain, ia sering terbangun pada malam hari karena mual dan muntah.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang, Bisa Jadi Tanda Saraf Kejepit L4-L5
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Lea memutuskan menjalani pemeriksaan MRI seluruh tubuh. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya lesi atau jaringan abnormal di otaknya. Pada pemeriksaan pertama, ukuran lesi tersebut belum dianggap darurat sehingga dokter hanya melakukan pemantauan.
Namun, MRI berikutnya menunjukkan bahwa lesi tersebut masih ada dan terus dipantau. Tiga bulan kemudian, hasil pemeriksaan memperlihatkan lesi telah membesar sehingga Lea segera dirujuk ke dokter spesialis onkologi dan bedah saraf.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Telur Disebut Bikin Bisulan, Ini Penjelasan Dokter
Pada tahun 2024, Lea akhirnya didiagnosis mengidap glioma derajat rendah atau low-grade glioma, yaitu jenis tumor otak ganas yang tumbuh relatif lambat dan lebih sering ditemukan pada anak-anak maupun dewasa muda berusia 20 hingga 40 tahun.
Baca Juga: BPOM Resmi Terapkan Nutri-Level Mulai 2026, Ini Arti Kode Warna A-D pada Minuman Kemasan
Meski diagnosis tersebut mengejutkan, Lea mengaku merasa lega karena tumornya bukan glioblastoma, yaitu salah satu jenis tumor otak paling agresif dan mematikan. Berdasarkan hasil evaluasi medis, risiko tumornya berkembang menjadi kondisi yang lebih ganas dinilai relatif rendah.
Dalam kasus Lea, tindakan operasi belum menjadi pilihan karena lokasi tumor berada di lobus temporal, area otak yang berperan penting dalam fungsi bahasa, memori verbal, dan kemampuan mengingat informasi. Operasi pada area tersebut memiliki risiko yang cukup tinggi.
Karena itu, tim medis memilih strategi "watch and wait" atau pantau dan tunggu. Lea menjalani pemantauan rutin melalui MRI berkala dan pemeriksaan klinis untuk memastikan perkembangan tumornya tetap terkendali.
Baca Juga: Wanita Ini Minum 10 Cangkir Kopi Sehari, Berujung Didiagnosis Gangguan Irama Jantung
Selain tumor otak, Lea juga mengalami epilepsi yang kini dikelola dengan pengobatan. Ia mengaku kualitas hidupnya membaik secara signifikan setelah mendapatkan terapi yang sesuai.
Saat ini, Lea tetap aktif menjalani berbagai aktivitas fisik, termasuk mengikuti beberapa ajang maraton. Ia juga rutin membagikan pengalaman hidupnya melalui media sosial untuk memberikan dukungan kepada orang lain yang menghadapi kondisi serupa.
Baca Juga: Fenomena Bediding Bikin Suhu di Jawa Makin Dingin, BMKG Ungkap Penyebab dan Daerah Terparah
Menurut Lea, berbagi cerita dapat membantu pasien lain merasa tidak sendirian dalam menghadapi penyakit yang mereka alami dan membangun komunitas yang saling mendukung selama proses pengobatan.
Editor : Ubaidillah