RadarBangkalan.id - Keberadaan hantu dan fenomena paranormal masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Sebagian orang mengaku pernah melihat atau merasakan kehadiran sosok gaib, sementara yang lain menganggap pengalaman tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah.
Dari perspektif sains, sejumlah ilmuwan menilai pengalaman melihat hantu atau merasakan kehadiran makhluk tak kasatmata bisa dipengaruhi oleh cara kerja otak manusia dalam menafsirkan lingkungan di sekitarnya. Kesalahan persepsi, gangguan neurologis, hingga fenomena sleep paralysis disebut dapat memunculkan pengalaman yang terasa sangat nyata.
Baca Juga: ChatGPT Sebut Kanker Sangat Tidak Mungkin, Pria Ini Justru Divonis Kanker Stadium 4
Profesor psikologi dari Wake Forest University, Melissa Maffeo, menjelaskan bahwa otak manusia tidak selalu menafsirkan realitas secara objektif. Dalam kondisi tertentu, otak dapat menciptakan pengalaman supernatural akibat salah memahami sinyal yang diterimanya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stimulasi listrik pada area tertentu di otak dapat menimbulkan sensasi aneh. Dalam salah satu studi kasus, seorang pasien melaporkan melihat sosok bayangan yang meniru setiap gerakannya dan seolah menghalangi aktivitas yang dilakukan.
Selain itu, ada pula laporan mengenai pengalaman keluar dari tubuh atau out-of-body experience. Fenomena ini diduga berkaitan dengan gangguan pada area otak yang dikenal sebagai temporoparietal junction, yaitu bagian yang berperan dalam membentuk kesadaran seseorang terhadap posisi dan keberadaan tubuhnya.
Baca Juga: Jangan Abaikan Race Flag Saat Marathon, Ini Fungsi dan Makna Setiap Warnanya
Para ilmuwan meyakini bahwa otak terus menggabungkan berbagai informasi, mulai dari keseimbangan, posisi tubuh, hingga kesadaran diri. Ketika proses integrasi tersebut terganggu, seseorang dapat mengalami sensasi yang tidak biasa dan sering kali dianggap sebagai pengalaman mistis.
Fenomena serupa juga dapat terjadi saat seseorang mengalami sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Kondisi ini muncul ketika seseorang terbangun di tengah fase tidur REM (Rapid Eye Movement), yaitu fase ketika mimpi paling jelas terjadi.
Pada fase REM, otak secara alami menghambat gerakan otot rangka agar tubuh tidak bergerak mengikuti mimpi. Namun, ketika seseorang terbangun sebelum mekanisme tersebut berakhir, ia bisa sadar tetapi tidak mampu menggerakkan tubuhnya.
Baca Juga: KKI Kantongi 10 Tenaga Kesehatan yang Diduga Hina Pasien BPJS, Investigasi Masih Berjalan
Dalam kondisi tersebut, sebagian orang mengalami halusinasi visual, suara, atau sensasi kehadiran sosok lain di dalam ruangan. Karena pengalaman tersebut terasa sangat nyata, tidak sedikit yang mengaitkannya dengan fenomena gaib atau keberadaan hantu.
Menurut para ahli, rasa takut yang muncul selama sleep paralysis dapat memperkuat keyakinan bahwa apa yang dilihat atau didengar benar-benar terjadi. Padahal, kondisi tersebut merupakan kombinasi antara aktivitas mimpi yang masih berlangsung dan kesadaran yang mulai kembali.
Meski demikian, hingga kini ilmu pengetahuan belum sepenuhnya memahami seluruh mekanisme otak yang berkaitan dengan persepsi, kesadaran diri, dan pengalaman paranormal. Namun, banyak fenomena yang sebelumnya dianggap mistis kini mulai dapat dijelaskan melalui penelitian neurologi dan psikologi modern.
Baca Juga: IDI Tunggu Hasil Pemeriksaan Etik Dokter yang Diduga Hina Pasien BPJS, Ini Tahapan dan Sanksinya
Editor : Ubaidillah