RadarBangkalan.id - Rencana evakuasi jenazah pendaki yang dikenal sebagai "Green Boots" kembali menarik perhatian publik. Jenazah yang diyakini milik pendaki asal India, Dorje Morup, telah berada di lereng Gunung Everest sejak 1996 dan masih dapat dikenali hingga kini.
Para ahli menjelaskan bahwa kondisi lingkungan Everest berperan besar dalam menghambat pembusukan tubuh. Suhu yang hampir selalu berada di bawah titik beku membuat aktivitas bakteri pembusuk terhenti.
Baca Juga: Usia 111 Tahun dan Tetap Bugar, Ini Rahasia Sehat Nenek Wang dari China
Selain itu, udara yang sangat kering menyebabkan jaringan tubuh kehilangan cairan secara perlahan dan mengalami proses mumifikasi alami. Ketiadaan hewan maupun serangga pengurai di ketinggian ekstrem juga membuat tubuh tidak mengalami kerusakan seperti di lingkungan normal.
Penelitian ilmuwan forensik dari University of North Dakota menunjukkan bahwa suhu ekstrem mampu memperlambat berbagai proses pascakematian, termasuk pembusukan dan perubahan jaringan tubuh.
Baca Juga: Investasi Industri China di Bangkalan Disambut HIPMI, Dinilai Buka Banyak Lapangan Kerja
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa sejumlah jenazah pendaki yang berada di Everest dapat bertahan selama puluhan tahun dengan bentuk fisik yang masih relatif utuh. Fenomena ini menjadikan Everest sebagai salah satu lokasi dengan konsentrasi jenazah pendaki terbanyak yang tetap terawetkan secara alami oleh lingkungan.
Editor : Ubaidillah