Jantung Tiba-Tiba Berhenti Sesaat lalu Berdetak Kuat, Normal atau Berbahaya?

Ubaidillah • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:00 WIB
lustrasi (Foto: Getty Images/Mvitcelik
lustrasi (Foto: Getty Images/Mvitcelik

 

RadarBangkalan.id - Pernah merasakan jantung seperti berhenti sesaat lalu diikuti satu detakan yang terasa lebih kuat dari biasanya? Kondisi yang sering disebut masyarakat sebagai "jantung loncat satu detak" ternyata memiliki penjelasan medis.

Menurut Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Kardiovaskular, dr. Simon Salim, SpPD-KKV dari Brawijaya Hospital, fenomena tersebut umumnya berkaitan dengan Premature Ventricular Contraction (PVC) atau detak jantung prematur yang berasal dari bilik jantung.

Baca Juga: Usia 111 Tahun dan Tetap Bugar, Ini Rahasia Sehat Nenek Wang dari China

Apa Itu PVC?

PVC merupakan salah satu bentuk aritmia atau gangguan irama jantung yang terjadi ketika muncul impuls listrik lebih cepat dari irama normal jantung.

Akibatnya, jantung berdetak lebih awal dari seharusnya sehingga menciptakan sensasi unik yang sering dirasakan sebagai jantung "meloncat" atau "skip beat".

"Sebenarnya lebih prematur, lebih dini. Munculnya lebih duluan. Karena dia munculnya lebih duluan, maka setelah dia muncul, ada pause," jelas dr. Simon Salim.

Menurutnya, ketika detak prematur muncul lebih awal, jantung akan mengalami jeda singkat sebelum kembali ke ritme normal.

Baca Juga: BPOM Temukan MinyaKita Berbau Solar, Masyarakat Diminta Jangan Gunakan dan Segera Lapor

Mengapa Terasa Seperti Ada Detak yang Hilang?

Sensasi jantung berhenti sesaat terjadi karena adanya jeda setelah detak prematur tersebut.

"Karena dia datangnya lebih dulu, dari detak jantung yang reguler ada satu yang datangnya lebih awal. Karena dia datang lebih awal, otomatis dia jadi skip yang berikutnya," ujar dr. Simon.

Jeda singkat inilah yang membuat seseorang merasa seolah-olah ada satu detak jantung yang hilang, kemudian disusul detakan berikutnya yang terasa lebih kuat.

Baca Juga: Apakah Hantu Benar-Benar Ada? Profesor Psikologi Jelaskan dari Sudut Pandang Ilmiah

Apakah Jantung Loncat Satu Detak Berbahaya?

Tidak semua PVC berbahaya. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat terjadi sesekali tanpa menimbulkan gangguan kesehatan serius.

Namun, menurut dr. Simon, tingkat risiko tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan gejala yang dirasakan.

Diperlukan pemeriksaan medis untuk mengetahui seberapa sering PVC terjadi dan apakah kondisi tersebut berpotensi memengaruhi fungsi jantung.

"Karena kalau kita nggak tahu dia sehari berapa persen, kita nggak tahu dia hanya terasa tapi nggak berbahaya, atau dia potensi berbahaya," katanya.

Baca Juga: ChatGPT Sebut Kanker Sangat Tidak Mungkin, Pria Ini Justru Divonis Kanker Stadium 4

Pemeriksaan yang Dianjurkan

Untuk memastikan kondisi jantung, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).

Jika keluhan muncul berulang atau tidak tertangkap saat pemeriksaan biasa, pasien dapat menjalani Holter Monitor, yaitu rekaman EKG selama 24 jam atau lebih untuk memantau aktivitas listrik jantung sepanjang hari.

"Pemeriksaan paling minimal EKG yang 24 jam," ujar dr. Simon.

Baca Juga: Investasi Industri China di Bangkalan Disambut HIPMI, Dinilai Buka Banyak Lapangan Kerja

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Meski sering kali tidak berbahaya, keluhan jantung loncat satu detak sebaiknya segera diperiksakan jika disertai gejala seperti:

Pemeriksaan dini penting untuk memastikan apakah gangguan irama jantung yang terjadi masih tergolong ringan atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Baca Juga: Titik Api di Bromo Masih Tersisa, Tiga Helikopter Water Bombing Terus Dikerahkan

Editor : Ubaidillah
aritmia pvc detak jantung ekg jantung loncat satu detak