Aritmia dan Anxiety Sama-Sama Bikin Jantung Berdebar, Ini Bedanya Menurut Dokter

Ubaidillah • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:30 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Remains)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Remains)

 

RadarBangkalan.id - Jantung yang tiba-tiba berdebar kencang sering membuat seseorang khawatir mengalami gangguan jantung. Namun, menurut dokter spesialis kardiovaskular, tidak semua keluhan jantung berdebar menandakan aritmia atau gangguan irama jantung.

Spesialis Penyakit Dalam dengan Subspesialisasi Kardiovaskular dari Brawijaya Hospital, dr. Simon Salim, SpPD-KKV, menjelaskan bahwa salah satu penyebab paling umum dari jantung berdebar adalah anxiety atau gangguan kecemasan.

Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah

Menurutnya, hubungan antara kecemasan dan aritmia cukup kompleks. Seseorang bisa mengalami jantung berdebar tanpa aritmia, mengalami aritmia tanpa merasakan debaran, atau bahkan mengalami keduanya secara bersamaan.

"Ansietas bisa membuat seseorang merasa jantungnya berdebar tanpa adanya aritmia. Sebaliknya, ansietas juga dapat memicu aritmia, baik dengan maupun tanpa keluhan berdebar," jelas dr. Simon.

Aritmia sendiri merupakan kondisi ketika irama jantung tidak berdetak secara normal akibat gangguan pada sistem kelistrikan jantung. Denyut jantung bisa menjadi terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau tidak teratur.

Baca Juga: Usia 111 Tahun dan Tetap Bugar, Ini Rahasia Sehat Nenek Wang dari China

Dalam beberapa kasus, aritmia bersifat ringan dan tidak menimbulkan gejala. Namun pada kondisi tertentu, aritmia dapat mengganggu kemampuan jantung memompa darah dan meningkatkan risiko komplikasi serius.

Sementara itu, jantung berdebar merupakan sensasi atau perasaan subjektif yang dirasakan seseorang. Keluhan ini dapat muncul saat stres, cemas, kelelahan, kurang tidur, konsumsi kafein berlebihan, atau setelah aktivitas fisik tertentu.

Karena itu, sensasi berdebar tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk mendiagnosis aritmia.

Menurut dr. Simon, perbedaan utama antara keduanya terletak pada cara diagnosis. Jantung berdebar adalah keluhan yang dirasakan pasien, sedangkan aritmia merupakan temuan objektif yang hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan medis.

Baca Juga: BPOM Temukan MinyaKita Berbau Solar, Masyarakat Diminta Jangan Gunakan dan Segera Lapor

Untuk mengetahui apakah debaran jantung yang dialami berkaitan dengan aritmia atau tidak, diperlukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Pemeriksaan ini merekam aktivitas listrik jantung dan dapat menunjukkan adanya gangguan irama.

Dalam beberapa kasus, dokter dapat menyarankan penggunaan Holter Monitor atau EKG 24 jam. Alat tersebut digunakan untuk merekam aktivitas jantung selama satu hari penuh sehingga peluang mendeteksi aritmia menjadi lebih besar.

Pemeriksaan lebih lanjut sangat dianjurkan apabila jantung berdebar sering terjadi, berlangsung lama, atau disertai gejala lain seperti pusing, sesak napas, nyeri dada, mudah lelah, hingga pingsan.

Para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak langsung panik saat mengalami jantung berdebar. Namun, keluhan yang berulang atau mengganggu aktivitas tetap perlu dievaluasi oleh tenaga medis untuk memastikan penyebabnya dan mencegah risiko komplikasi yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Apakah Hantu Benar-Benar Ada? Profesor Psikologi Jelaskan dari Sudut Pandang Ilmiah

Dengan pemeriksaan yang tepat, dokter dapat membedakan apakah keluhan tersebut hanya dipicu kecemasan atau merupakan tanda adanya gangguan irama jantung yang membutuhkan penanganan khusus.

Editor : Ubaidillah
jantung berdebar aritmia anxiety takikardia bradikardia