RadarBangkalan.id - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akhirnya memberikan tanggapan terkait viralnya konten selebgram Fahira Almira yang membandingkan diagnosis usus buntu dari sejumlah rumah sakit di Indonesia dengan hasil pemeriksaan di rumah sakit Penang, Malaysia.
Ketua Bidang Humas Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr Cashtry Meher, menyatakan pihaknya telah mencermati konten yang beredar luas di media sosial tersebut. Menurutnya, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman dan kritik terhadap pelayanan kesehatan yang diterimanya.
Baca Juga: Bansos Dihentikan untuk Rekening Terindikasi Judi Online, Ribuan KPM Dicoret
Meski demikian, IDI mengingatkan agar pengalaman individu tidak dijadikan dasar untuk menggeneralisasi kualitas seluruh dokter maupun tenaga kesehatan di Indonesia.
"Setiap pasien memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman ketika merasa tidak mendapatkan yang sesuai dengan harapannya," ujar dr Cashtry dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Ia menilai kritik dari pasien merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu layanan kesehatan. Namun, masyarakat diharapkan tetap melihat setiap kasus secara objektif dan proporsional.
Menurut dr Cashtry, pengalaman pribadi yang disampaikan melalui media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi pelayanan kesehatan secara menyeluruh. Karena itu, diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan agar tidak menimbulkan stigma terhadap profesi dokter.
Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah
Terkait munculnya desakan agar konten tersebut disikapi melalui jalur hukum, PB IDI menegaskan tidak berencana mengirimkan somasi maupun membawa persoalan tersebut ke ranah pidana.
IDI menilai tidak setiap kritik yang ditujukan kepada dokter harus berujung pada proses hukum. Sebaliknya, organisasi profesi lebih memilih pendekatan dialog dan evaluasi berdasarkan fakta serta data medis yang tersedia.
"Kami tidak ingin setiap kritik kepada dokter langsung dibawa ke ranah hukum. Yang diperlukan adalah komunikasi yang sehat dan penyelesaian berdasarkan data," jelasnya.
Baca Juga: Usia 111 Tahun dan Tetap Bugar, Ini Rahasia Sehat Nenek Wang dari China
IDI juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada narasi membela pasien atau membela dokter semata. Menurutnya, sistem kesehatan yang baik harus mampu melindungi hak kedua belah pihak secara seimbang.
Lebih lanjut, dr Cashtry menegaskan IDI terbuka terhadap berbagai masukan dan kritik dari masyarakat. Organisasi profesi tersebut berkomitmen melakukan evaluasi apabila terdapat aspek komunikasi atau pelayanan yang dinilai kurang tepat.
Dalam menangani persoalan yang berkaitan dengan layanan medis, IDI menekankan pentingnya melihat dokumen medis dan fakta klinis secara utuh dibandingkan mengambil kesimpulan berdasarkan potongan video atau komentar yang beredar di media sosial.
Baca Juga: BPOM Temukan MinyaKita Berbau Solar, Masyarakat Diminta Jangan Gunakan dan Segera Lapor
"Yang ingin kami bangun adalah komunikasi berbasis data. Jika ada persoalan konkret yang menyangkut pelayanan seorang dokter, kami lebih memilih melihat dokumen medis daripada pengambilan kesimpulan berdasarkan potongan video atau komentar di media sosial," pungkasnya.
Pernyataan tersebut menjadi respons resmi IDI di tengah polemik yang berkembang setelah konten Fahira Almira memicu perdebatan publik mengenai kualitas layanan kesehatan di dalam negeri dan luar negeri.
Editor : Ubaidillah