Viral Kasus Fahira Almira, Benarkah Usus Buntu Bisa Sembuh Tanpa Operasi?

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/sirawit99)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/sirawit99)

 

RadarBangkalan.id - Kasus yang dialami selebgram Fahira Almira kembali memicu perhatian publik terhadap penyakit radang usus buntu atau apendisitis. Banyak masyarakat bertanya-tanya apakah usus buntu selalu harus dioperasi atau masih bisa ditangani tanpa tindakan bedah.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH FINASIM, menjelaskan bahwa pengobatan radang usus buntu tidak selalu harus melalui operasi. Penanganan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi yang dialami pasien.

Baca Juga: IDI Buka Suara soal Konten Fahira Almira, Tegaskan Kritik Pasien Tidak Perlu Dibawa ke Ranah Hukum

Menurut dr Aru, operasi menjadi tindakan yang wajib dilakukan pada kasus apendisitis akut yang disertai gejala khas seperti nyeri perut kanan bawah, mual, hingga demam.

"Kapan operasi usus buntu wajib dikerjakan (cito), pada kondisi apendisitis akut di mana terdapat tanda-tanda nyeri perut kanan bawah yang khas, mual, dan disertai demam," jelas dr Aru.

Pada kondisi tersebut, tindakan operasi dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius, termasuk pecahnya usus buntu yang dapat menyebabkan infeksi berat di rongga perut.

Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah

Meski demikian, tidak semua kasus radang usus buntu memerlukan operasi segera. Pada pasien dengan peradangan ringan dan belum mengalami komplikasi, dokter dapat mempertimbangkan terapi konservatif terlebih dahulu.

Salah satu penanganan yang dapat dilakukan adalah pemberian antibiotik intravena untuk membantu mengendalikan infeksi dan mengurangi peradangan. Pendekatan ini biasanya dilakukan dengan pemantauan ketat terhadap perkembangan kondisi pasien.

"Pada radang usus buntu yang ringan dan tanpa adanya komplikasi, penundaan operasi masih diperbolehkan dan beberapa tindakan seperti pemberian antibiotik intravena bisa mengurangi risiko pemberatan," lanjutnya.

Namun, dr Aru mengingatkan bahwa terapi tanpa operasi memiliki risiko kekambuhan di kemudian hari. Karena sumber peradangan tetap berada di dalam tubuh, pasien masih berpotensi mengalami serangan radang usus buntu berulang.

Baca Juga: Usia 111 Tahun dan Tetap Bugar, Ini Rahasia Sehat Nenek Wang dari China

Oleh sebab itu, operasi pengangkatan usus buntu atau apendektomi hingga saat ini masih dianggap sebagai golden standard atau standar utama dalam tata laksana apendisitis.

Dengan tindakan operasi, risiko kekambuhan dapat dihilangkan karena organ yang menjadi sumber peradangan telah diangkat. Selain itu, prosedur operasi saat ini juga relatif aman dan banyak dilakukan menggunakan teknik laparoskopi yang minim sayatan.

Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami nyeri perut kanan bawah yang menetap, terutama jika disertai demam, mual, muntah, atau penurunan nafsu makan. Diagnosis dan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi serius akibat radang usus buntu.

Baca Juga: BPOM Temukan MinyaKita Berbau Solar, Masyarakat Diminta Jangan Gunakan dan Segera Lapor

Editor : Ubaidillah
fahira almira operasi usus buntu Radang Usus Buntu usus buntu selebgram