RadarBangkalan.id - Kasus selebgram Fahira Almira yang membandingkan layanan kesehatan Indonesia dan Malaysia terkait diagnosis usus buntu masih menjadi perbincangan publik. Salah satu pertanyaan yang banyak muncul dari warganet adalah bagaimana seseorang yang disebut mengalami radang usus buntu masih bisa bepergian ke luar negeri, naik pesawat, hingga beraktivitas normal.
Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Prof Ari Fahrial Syam, menjelaskan bahwa kondisi tersebut memungkinkan terjadi karena tidak semua kasus usus buntu berada dalam fase akut. Menurutnya, pasien dengan apendisitis akut biasanya mengalami nyeri hebat di perut kanan bawah yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Viral di Singapura, Lansia Belajar Parkour untuk Jaga Keseimbangan dan Cegah Cedera
Pada kondisi akut, rasa nyeri sering kali sangat kuat sehingga pasien kesulitan berjalan dan membutuhkan penanganan medis segera. Karena itu, pasien dengan usus buntu akut umumnya tidak dalam kondisi nyaman untuk melakukan perjalanan jauh.
Namun, Prof Ari menjelaskan bahwa gejala usus buntu dapat membaik setelah mendapatkan pengobatan. Dalam beberapa kasus, peradangan yang sebelumnya akut bisa mereda dalam hitungan minggu hingga bulan sehingga pasien tidak lagi merasakan keluhan berat.
Baca Juga: IDI Buka Suara soal Konten Fahira Almira, Tegaskan Kritik Pasien Tidak Perlu Dibawa ke Ranah Hukum
"Kalau waktunya sudah tiga bulan, ada kemungkinan bahwa ketika di awal memang diduga apendiks akut, tetapi setelah diobati sudah membaik dan pasien bisa berubah kondisinya," ujar Prof Ari.
Ia menambahkan bahwa gejala akut bahkan bisa menghilang dalam waktu dua hingga tiga minggu setelah penanganan yang tepat. Oleh karena itu, kondisi pasien saat pemeriksaan pertama dan saat menjalani pemeriksaan lanjutan dapat berbeda.
Baca Juga: Bansos Dihentikan untuk Rekening Terindikasi Judi Online, Ribuan KPM Dicoret
Menurut Prof Ari, tidak tepat jika kemampuan pasien untuk naik pesawat atau berjalan kaki dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai apakah seseorang masih mengalami usus buntu akut atau tidak. Pasalnya, kondisi klinis dapat berubah seiring waktu dan respons terhadap pengobatan.
Baca Juga: Usia 111 Tahun dan Tetap Bugar, Ini Rahasia Sehat Nenek Wang dari China
Selain itu, radang usus buntu tidak selalu memerlukan operasi dalam setiap kasus. Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan terapi konservatif seperti antibiotik untuk mengurangi peradangan dan mengendalikan gejala.
Meski demikian, pasien tetap memerlukan pemantauan medis karena usus buntu yang pernah meradang berisiko kambuh di kemudian hari. Beberapa pasien juga dapat mengalami fase apendisitis kronis yang sewaktu-waktu berubah menjadi serangan akut.
Prof Ari mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam menafsirkan informasi medis yang beredar di media sosial. Menurutnya, perbedaan diagnosis atau perubahan kondisi pasien harus dipahami berdasarkan pemeriksaan medis yang lengkap, bukan hanya dari potongan cerita atau asumsi publik.
Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah
Karena itu, masyarakat disarankan untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan terkait suatu diagnosis tanpa memahami keseluruhan kondisi medis yang dialami pasien.
Editor : Ubaidillah