Kompres Es di Ketiak Bisa Redakan Cemas dan Overthinking? Ini Penjelasan Psikiater

Ubaidillah • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:05 WIB
Foto: Getty Images
Foto: Getty Images

 

RadarBangkalan.id - Tren kesehatan mental di media sosial belakangan ini menyoroti penggunaan kompres es di area ketiak sebagai cara untuk meredakan kecemasan dan overthinking. Namun, metode tersebut ternyata belum terbukti secara medis sebagai terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan.

Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, menjelaskan bahwa sensasi dingin memang dapat memberikan efek menenangkan dalam waktu singkat. Akan tetapi, efek tersebut bukan berarti kompres es dapat mengobati gangguan kecemasan.

Baca Juga: Berapa Langkah Sehari yang Ideal? Riset Ungkap Target Jalan Kaki untuk Tiap Usia

 

Mengapa Kompres Es Bisa Terasa Menenangkan?

Menurut dr. Riati, sensasi dingin yang muncul ketika seseorang menggunakan kompres es dapat memengaruhi respons tubuh terhadap stres. Efek tersebut setidaknya dapat terjadi melalui dua mekanisme.

Pertama, sensasi dingin secara mendadak dapat membantu mengaktifkan respons parasimpatis. Sistem saraf tersebut berperan dalam membantu tubuh kembali ke kondisi yang lebih tenang setelah mengalami respons stres.

Kedua, rasa dingin yang kuat dapat menjadi teknik grounding alami. Sensasi fisik yang muncul membuat perhatian seseorang beralih dari pikiran yang berlebihan menuju apa yang sedang dirasakan tubuh pada saat itu.

Baca Juga: Kondisi Terkini Pria di Lumajang yang Kemaluannya Dipotong Istri, Masih Jalani Perawatan

"Efeknya hanya bersifat sementara, yaitu membantu menenangkan tubuh, bukan mengatasi penyebab kecemasan. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup bahwa kompres es di ketiak merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan," tegas dr. Riati, dikutip dari laman IPB University, Minggu (17/8/2026).

Baca Juga: Ojol Lempar Molotov ke 2 Pos Polisi Surabaya Ternyata Sudah Diintai Selama Dua Hari

Dengan demikian, kompres dingin mungkin dapat membantu seseorang merasa lebih tenang ketika sedang tegang atau panik, tetapi tidak dapat menggantikan penanganan profesional untuk gangguan kecemasan.

Waspadai Risiko Cold Burn

Masyarakat juga perlu berhati-hati jika mencoba menggunakan es sebagai teknik menenangkan diri. Menempelkan es batu secara langsung ke kulit dalam waktu lama dapat menyebabkan iritasi hingga cold burn atau cedera jaringan akibat paparan suhu yang sangat dingin.

Karena itu, kompres dingin sebaiknya digunakan secara hati-hati dan tidak ditempelkan terlalu lama secara langsung pada kulit.

Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai

Metode tersebut pun sebaiknya dipandang sebagai cara sementara untuk membantu mengalihkan perhatian dari rasa panik atau tegang, bukan sebagai pengobatan kecemasan.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Rasa cemas sesekali merupakan hal yang dapat dialami siapa saja. Namun, kondisi perlu mendapatkan perhatian apabila kecemasan dan overthinking berlangsung selama beberapa minggu serta mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Gangguan tidur, pekerjaan yang terganggu, hingga munculnya serangan panik dapat menjadi tanda bahwa seseorang membutuhkan bantuan profesional.

dr. Riati mengimbau masyarakat untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila kondisi tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Jarang Olahraga Bikin Gampang Baper? Ini Penjelasan Psikolog

Penanganan dapat dilakukan melalui psikoterapi, termasuk cognitive behavioral therapy (CBT), dan pemberian obat-obatan apabila memang diperlukan berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.

Kesimpulan

Kompres es di ketiak mungkin memberikan sensasi menenangkan untuk sementara karena membantu mengalihkan perhatian dari pikiran berlebihan dan memengaruhi respons tubuh terhadap stres. Namun, belum terdapat bukti ilmiah yang cukup untuk menjadikannya sebagai terapi gangguan kecemasan.

Jika rasa cemas terus berulang, berlangsung lama, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, penanganan oleh psikolog atau psikiater tetap menjadi pilihan yang lebih tepat.

Editor : Ubaidillah
overthinking kecemasan kesehatan mental