Ikuti Saran ChatGPT, Pria Ini Keracunan Bromida hingga Alami Halusinasi dan Paranoia

Ubaidillah • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Foto: Getty Images/iStockphoto/Sebalos
Foto: Getty Images/iStockphoto/Sebalos

 

RadarBangkalan.id - Seorang pria berusia 60 tahun di Seattle, Amerika Serikat, mengalami halusinasi pendengaran dan penglihatan serta paranoia berat setelah mengganti garam dapur dengan sodium bromida. Pergantian tersebut dilakukan setelah ia berkonsultasi dengan chatbot AI mengenai alternatif garam yang dianggap lebih sehat.

Kasus tersebut dilaporkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine: Clinical Cases melalui artikel berjudul A Case of Bromism Influenced by Use of Artificial Intelligence. Laporan itu menggambarkan bagaimana penggunaan sodium bromida dalam jangka waktu sekitar tiga bulan menyebabkan pria tersebut mengalami bromism, yaitu kondisi keracunan akibat akumulasi bromida dalam tubuh.

Baca Juga: Berapa Langkah Sehari yang Ideal? Riset Ungkap Target Jalan Kaki untuk Tiap Usia

Awalnya Curiga Diracuni Tetangga

Pria tersebut awalnya datang ke ruang gawat darurat dengan kondisi psikologis yang memburuk. Ia mengalami paranoia serta halusinasi pendengaran dan penglihatan.

Dalam 24 jam pertama perawatan, kondisinya justru semakin berat. Ia bahkan berusaha melarikan diri dari rumah sakit sehingga akhirnya dikenai penahanan psikiatri secara paksa karena dinilai mengalami gangguan berat dalam kemampuan menjaga dirinya.

Baca Juga: Kondisi Terkini Pria di Lumajang yang Kemaluannya Dipotong Istri, Masih Jalani Perawatan

Pemeriksaan lebih lanjut kemudian mengungkap penyebab yang tidak terduga. Kadar bromida dalam darah pasien mencapai sekitar 1.700 mg/L, sedangkan kisaran referensi yang dilaporkan adalah sekitar 0,9-7,3 mg/L.

Kondisi tersebut dikenal sebagai bromism. Paparan bromida dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu fungsi sistem saraf dan menyebabkan berbagai gejala, termasuk gangguan neurologis serta perubahan kondisi mental.

Mengaku Mendapat Saran dari ChatGPT

Setelah kondisinya membaik dan gejala halusinasi menghilang, pasien mengungkapkan bahwa sekitar tiga bulan sebelumnya ia berkonsultasi dengan ChatGPT mengenai alternatif sodium klorida atau garam dapur.

Dalam percakapan tersebut, ia kemudian mengganti sodium klorida dengan sodium bromida dan mengonsumsinya secara rutin selama beberapa bulan. Laporan kasus menyebut pasien memperoleh sodium bromida melalui internet.

Baca Juga: Ojol Lempar Molotov ke 2 Pos Polisi Surabaya Ternyata Sudah Diintai Selama Dua Hari

Para peneliti kemudian menyoroti kasus tersebut sebagai contoh risiko ketika informasi kesehatan dari chatbot AI digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan medis tanpa verifikasi profesional. Artikel kasus tersebut secara khusus mencatat adanya bromism setelah pasien berkonsultasi dengan chatbot berbasis AI.

Bromida Pernah Digunakan sebagai Obat

Bromida bukanlah zat yang sepenuhnya asing dalam sejarah kedokteran. Senyawa bromida pernah digunakan sebagai obat penenang dan untuk kondisi tertentu pada masa lalu.

Namun, penggunaannya dapat menyebabkan bromism apabila bromida terakumulasi dalam tubuh. Sebelum obat-obatan modern berkembang, kondisi tersebut bahkan pernah menjadi penyebab sejumlah kasus gangguan psikiatri.

Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai

Dalam kasus pria di Seattle tersebut, tim medis akhirnya mengenali keracunan bromida sebagai penyebab kondisi psikosis yang dialaminya.

Dokter Ingatkan Bahaya Mengandalkan AI untuk Keputusan Medis

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa chatbot AI dapat memberikan informasi yang terdengar meyakinkan meskipun jawabannya dapat keliru atau tidak aman secara medis.

Baca Juga: Jarang Olahraga Bikin Gampang Baper? Ini Penjelasan Psikolog

Para penulis laporan juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kemungkinan keracunan ketika seseorang tiba-tiba mengalami perubahan kondisi mental, terutama jika gejalanya tidak memiliki penjelasan psikiatri yang jelas.

Informasi dari AI sebaiknya tidak digunakan sebagai pengganti diagnosis atau rekomendasi dokter, terlebih ketika menyangkut konsumsi obat, suplemen, bahan kimia, maupun perubahan pola makan yang ekstrem.

Editor : Ubaidillah
halusinasi keracunan bromida paranoia kesehatan mental ChatGPT