Wabah Ebola di Kongo Belum Terkendali, 80 Persen Kasus Baru Tak Terhubung

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Foto: DW (News)
Foto: DW (News)

 

RadarBangkalan.id - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) masih belum terkendali. Sejumlah pakar kesehatan menilai penularan virus masih berlangsung karena sekitar 70-80 persen kasus baru tidak memiliki hubungan yang diketahui dengan pasien Ebola sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa rantai penularan belum sepenuhnya terputus. Virus Ebola diduga masih menyebar tanpa terdeteksi di sejumlah wilayah Kongo, sehingga skala wabah sebenarnya belum dapat diketahui secara pasti.

Baca Juga: RSUD Ruteng Rusak Akibat Gempa, Menkes Kerahkan Dokter Ortopedi dan Bangun RS Lapangan

 

Dr Wessam Mankoula, Kepala Kesiapsiagaan dan Respons Darurat Africa CDC, mengatakan pihaknya masih belum mengetahui secara menyeluruh besarnya wabah Ebola yang sedang terjadi.

"Kita masih jauh dari mengetahui besarnya wabah ini," kata Mankoula.

Ia juga memperkirakan wabah Ebola tersebut tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

"Ini tidak akan berakhir dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan," ujarnya.

Baca Juga: Berapa Langkah Sehari yang Ideal? Riset Ungkap Target Jalan Kaki untuk Tiap Usia

Wabah Ebola Meluas ke Enam Provinsi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya menyatakan wabah Ebola di Kongo masih mungkin dikendalikan dalam waktu tiga bulan. Namun, target tersebut menghadapi berbagai tantangan karena kasus terus ditemukan dan wilayah penyebaran semakin luas.

Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai

Saat ini, wabah Ebola dilaporkan telah menyebar hingga enam provinsi di Kongo.

Thierno Balde, Incident Manager WHO, mengatakan target pengendalian dalam tiga bulan masih mungkin tercapai apabila kebutuhan sumber daya untuk penanganan wabah dapat dipenuhi.

"Untuk rencana tiga bulan ke depan, ya, jika sumber daya yang diperlukan tersedia, saya pikir hal itu masih mungkin dilakukan," kata Balde kepada wartawan di Jenewa dari Bunia, Kongo.

Ebola Tewaskan Sedikitnya 2.325 Orang

Wabah Ebola terbaru disebut sebagai wabah terburuk yang pernah terjadi di Kongo. Dari 17 wabah Ebola yang tercatat di negara tersebut, wabah terbaru ini telah menyebabkan sedikitnya 2.325 kematian.

Besarnya jumlah korban menunjukkan tantangan serius yang dihadapi otoritas kesehatan dalam menghentikan penyebaran virus.

Baca Juga: Jarang Olahraga Bikin Gampang Baper? Ini Penjelasan Psikolog

Penanganan juga terkendala persoalan pendanaan. WHO baru memperoleh sekitar 60 persen dari kebutuhan dana sebesar US$115 juta atau sekitar Rp1,8 triliun untuk merespons wabah Ebola tersebut.

Baca Juga: Viral di Singapura, Lansia Belajar Parkour untuk Jaga Keseimbangan dan Cegah Cedera

Keterbatasan Vaksin Jadi Tantangan

Selain kekurangan dana, respons terhadap wabah Ebola di Kongo menghadapi sejumlah kendala lain. Beberapa di antaranya adalah keterlambatan mendeteksi kasus, tim pemantauan yang kewalahan, konflik bersenjata, serta keterbatasan vaksin dan pengobatan.

Situasi menjadi semakin kompleks karena virus Ebola yang beredar merupakan spesies Bundibugyo yang tergolong langka. Kondisi tersebut menambah tantangan dalam menyediakan vaksin dan terapi yang sesuai.

Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah

Dengan masih tingginya kasus baru yang tidak diketahui sumber penularannya, para ahli menilai upaya pengendalian wabah Ebola di Kongo membutuhkan waktu, sumber daya, serta pemantauan yang jauh lebih besar.

Editor : Ubaidillah
wabah ebola penularan virus kesehatan global organisasi kesehatan dunia kongo