Low Calorie atau Makanan Sehat, Mana yang Bisa Bikin Diet Gagal? Ini Kata Dokter

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 08:30 WIB
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/juststock
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/juststock

 

RadarBangkalan.id - Banyak orang merasa sudah memilih makanan rendah kalori atau makanan yang dianggap sehat, tetapi berat badan tetap sulit turun. Menurut spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, kedua jenis makanan tersebut sama-sama bisa menggagalkan program penurunan berat badan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Dokter Yaze mengatakan label "low calorie" maupun "sehat" tidak otomatis membuat sebuah makanan aman dikonsumsi tanpa memperhatikan jumlah porsinya. Total kalori yang masuk ke tubuh tetap menjadi salah satu faktor penting dalam proses penurunan berat badan.

Baca Juga: RSUD Ruteng Rusak Akibat Gempa, Menkes Kerahkan Dokter Ortopedi dan Bangun RS Lapangan

"Dua-duanya berbahaya sebenarnya, dua-duanya punya kelicikan masing-masing," kata dr Yaze dalam live TikTok detikHealth, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, makanan rendah kalori tetap dapat menyumbang banyak kalori apabila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.

"Jadi kalau misalnya makanan yang low calorie tapi kalau dimakan terlalu banyak, ya pasti akan meningkat juga kalorinya," sambungnya.

Hal yang sama berlaku pada makanan yang memiliki klaim sehat. Jika porsinya tidak dikontrol, jumlah kalori yang dikonsumsi tetap dapat melebihi kebutuhan tubuh dan menghambat penurunan berat badan.

Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai

Baca Juga: Jarang Olahraga Bikin Gampang Baper? Ini Penjelasan Psikolog

Jangan Terjebak Label "Sehat"

Dr Yaze mengingatkan masyarakat agar tidak hanya melihat klaim yang tercantum di bagian depan kemasan makanan. Informasi nilai gizi di bagian belakang juga perlu diperiksa sebelum membeli atau mengonsumsi produk.

Salah satu contoh yang sering membuat konsumen terkecoh adalah granola. Makanan tersebut kerap dianggap sehat, tetapi beberapa produk dapat memiliki kandungan gula yang cukup tinggi.

Baca Juga: Viral di Singapura, Lansia Belajar Parkour untuk Jaga Keseimbangan dan Cegah Cedera

"Sama saja kayak misalnya kita makan granola, terus ternyata enggak dibaca. Di belakangnya kan biasanya ada labelnya tuh, terus ternyata gulanya di atas 10 gram misalnya," jelasnya.

Jika granola dikonsumsi dalam jumlah banyak, kalori yang masuk ke tubuh juga dapat meningkat secara signifikan.

"Akhirnya kamu makan dua bungkus, ya itu pasti akan berlebihan walaupun kamu menganggapnya itu sehat," lanjut dr Yaze.

Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah

Smoothies Juga Perlu Diperhatikan

Smoothies juga menjadi contoh minuman yang sering dianggap sehat hanya karena dibuat dari buah atau sayuran. Padahal, kandungan kalorinya dapat meningkat apabila ditambahkan gula, pemanis, atau bahan lain dalam jumlah banyak.

Menurut dr Yaze, konsumsi smoothies secara berlebihan, terutama produk dengan tambahan gula, dapat membuat asupan kalori harian meningkat tanpa disadari.

"Kalau misalnya ternyata di dalam smoothies itu ada tambahan gula, pemanis buatan, terus kamu minumnya berlebihan, ya sudah pasti akan meningkatkan kalori," ujarnya.

Baca Juga: Ojol Lempar Molotov ke 2 Pos Polisi Surabaya Ternyata Sudah Diintai Selama Dua Hari

Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya mengandalkan klaim "sehat" atau "low calorie" pada kemasan. Informasi nilai gizi perlu dibaca secara menyeluruh agar jumlah kalori dan kandungan nutrisi yang dikonsumsi dapat diketahui.

"Tetap harus dibaca juga label di baliknya, jadi jangan cuma lihat kemasan depannya saja," pungkasnya.

Baca Juga: Polres Bangkalan Amankan Ustaz Diduga Lecehkan Anak di Madrasah Tragah

Editor : Ubaidillah
makanan rendah kalori kegagalan diet kalori berlebih diet sehat