RadarBangkalan.id - Sebanyak 66.679 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat di Kalimantan Tengah (Kalteng) di tengah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut menjadi perhatian karena asap dan memburuknya kualitas udara dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah melaporkan ribuan titik panas atau hotspot terdeteksi di seluruh wilayah provinsi tersebut. Berdasarkan data hingga Kamis (20/8/2026) pukul 18.00, terdapat 2.892 hotspot, 67 kejadian karhutla, dan total lahan terbakar mencapai 268,07 hektare.
Baca Juga: Studi Ungkap Wajah Orang Kaya Bisa Terlihat Berbeda, Ini Penjelasannya
66.679 Kasus ISPA Tercatat
BPBD Kalimantan Tengah menyebut dampak kesehatan akibat karhutla mulai terasa. Hingga data terbaru, tercatat 66.679 kasus ISPA di wilayah tersebut.
Penanganan karhutla terus dilakukan dengan melibatkan personel gabungan. Sebanyak 10.700 personel dikerahkan untuk menangani kebakaran dan dampaknya.
Upaya penanganan juga didukung lima unit helikopter serta satu unit pesawat untuk operasi modifikasi cuaca atau OMC.
Baca Juga: Beasiswa Unggulan 2026 Dibuka 20-24 Agustus, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Baca Juga: Kolesterol Normal Bukan Jaminan Bebas Serangan Jantung, Ini Faktor Risikonya
Kualitas Udara Palangka Raya Sempat Memburuk
Selain asap akibat karhutla, penurunan kualitas udara juga menjadi perhatian. Kondisi udara di Palangka Raya pada Rabu (19/8/2026) dilaporkan mencapai skor 487 berdasarkan Air Quality Index (AQI).
Baca Juga: Berapa Langkah Sehari yang Ideal? Riset Ungkap Target Jalan Kaki untuk Tiap Usia
Kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap karhutla perlu mengurangi paparan asap dan memperhatikan kondisi kesehatan.
Apa Itu ISPA?
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa ISPA merupakan berbagai jenis infeksi yang memengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan bawah.
Bagian tubuh yang dapat terdampak antara lain hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, hingga paru-paru. ISPA dapat disebabkan oleh berbagai agen infeksi, seperti virus, bakteri, maupun jamur.
Selain infeksi, kualitas udara yang buruk juga dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan dan meningkatkan keluhan pada masyarakat yang terpapar asap.
Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai
Baca Juga: Jarang Olahraga Bikin Gampang Baper? Ini Penjelasan Psikolog
Gejala ISPA yang Perlu Diwaspadai
Beberapa gejala ISPA yang dapat muncul antara lain:
- Batuk.
- Hidung tersumbat.
- Sakit tenggorokan.
- Demam.
- Sesak napas atau kesulitan bernapas.
- Sakit kepala.
- Nyeri otot dan sendi.
- Lemas atau mudah lelah.
- Suara serak atau kehilangan suara.
- Pilek atau nyeri sinus.
- Mual, muntah, atau diare.
- Nafsu makan menurun.
Tidak semua orang akan mengalami gejala yang sama. Keluhan juga dapat berbeda berdasarkan penyebab dan kondisi kesehatan masing-masing.
Baca Juga: Benarkah Makan Telur Bikin Bisulan? Kepala BGN dan Dokter Gizi Beri Penjelasan Ilmiah
Waspadai Dampak Asap Karhutla
Meningkatnya kasus ISPA di tengah karhutla menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan selama kualitas udara memburuk. Masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang sesuai saat harus berada di luar, serta menjaga asupan cairan.
Jika muncul sesak napas, kesulitan bernapas, atau gejala yang semakin berat, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Penanganan karhutla dan pemantauan dampak kesehatan perlu dilakukan secara bersamaan agar risiko terhadap masyarakat dapat ditekan, terutama selama hotspot dan kualitas udara buruk masih terjadi.
Baca Juga: Viral di Singapura, Lansia Belajar Parkour untuk Jaga Keseimbangan dan Cegah Cedera
Editor : Ubaidillah