Ponsel Terasa Bergetar Padahal Tak Ada Notifikasi? Kenali Phantom Pocket Vibration

Ubaidillah • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Ilustrasi. (Foto: ilustrasi/thinkstock)

 

RadarBangkalan.id - Pernah merasa ponsel bergetar di saku celana, tetapi ketika diperiksa ternyata tidak ada notifikasi atau pesan masuk? Pengalaman tersebut dikenal sebagai phantom pocket vibration atau phantom vibration syndrome.

Fenomena ini cukup umum terjadi, terutama pada orang yang sering menggunakan ponsel. Sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah universitas di Amerika Serikat menemukan sekitar 89 persen mahasiswa pernah merasakan sensasi tersebut, dengan frekuensi rata-rata dua minggu sekali.

Baca Juga: Cara Menjaga Berat Badan Tetap Stabil Setelah Diet, Dokter Ungkap 4 Kuncinya

 

Apa Itu Phantom Pocket Vibration?

Phantom pocket vibration merupakan sensasi seolah-olah ponsel bergetar meskipun sebenarnya tidak ada notifikasi yang masuk.

Sensasi tersebut dapat muncul ketika tubuh menerima rangsangan kecil di area sekitar saku. Misalnya, gesekan pakaian dengan kulit atau gerakan tubuh tertentu dapat ditafsirkan otak sebagai getaran ponsel.

Sebagian besar orang mungkin hanya menganggapnya sebagai pengalaman sesaat. Namun, sekitar satu dari 11 orang yang mengalami sensasi tersebut dalam penelitian dilaporkan merasa terganggu.

Baca Juga: Bayi 1 Tahun Didiagnosis Sembelit, Ternyata Idap Kanker Langka dengan Tumor 30 Cm

Kecemasan Digital Bisa Menjadi Pemicu

Profesor Emeritus Psikologi di California State University, Dr Larry Rosen, mengaitkan fenomena tersebut dengan apa yang disebut sebagai kecemasan digital.

Menurutnya, seseorang yang terbiasa menunggu notifikasi atau pesan dapat berada dalam kondisi selalu mengantisipasi interaksi dengan ponsel.

Baca Juga: Sering Alami Iyup Saat Pakai Behel? Dokter Ungkap Penyebab dan Kapan Hilang

"Tubuh kita selalu berada dalam kondisi menunggu dan mengantisipasi interaksi teknologi, yang biasanya berasal dari ponsel pintar," ujar Larry, dikutip dari Psychology Today, Selasa (25/8/2026).

Kondisi tersebut membuat otak menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan yang terjadi di sekitar tubuh.

Ketika muncul stimulasi neurologis sederhana, seperti gesekan celana dengan kaki, otak dapat menafsirkannya sebagai tanda bahwa ponsel sedang bergetar.

"Dengan kecemasan antisipatif tersebut, ketika kita mendapatkan stimulasi neurologis apa pun, misalnya celana yang bergesekan dengan kaki, kita dapat menafsirkannya melalui kecemasan tersebut sebagai, 'Oh, ponsel saya bergetar'," lanjutnya.

Baca Juga: Studi Ungkap Wajah Orang Kaya Bisa Terlihat Berbeda, Ini Penjelasannya

Baca Juga: Kolesterol Normal Bukan Jaminan Bebas Serangan Jantung, Ini Faktor Risikonya

Mengapa Otak Seolah Merasakan Notifikasi?

Tubuh terus menerima berbagai sinyal dari lingkungan. Tidak semua sinyal tersebut memiliki arti penting.

Namun, ketika seseorang terlalu terbiasa menunggu notifikasi, otak dapat menjadi lebih waspada terhadap sensasi yang berkaitan dengan ponsel.

Baca Juga: Berapa Langkah Sehari yang Ideal? Riset Ungkap Target Jalan Kaki untuk Tiap Usia

Akibatnya, rangsangan kecil di sekitar saku dapat disalahartikan sebagai getaran ponsel.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana ekspektasi dan kebiasaan menggunakan teknologi dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan sensasi dari tubuh.

Terlalu Waspada Bisa Mengganggu Konsentrasi

Menurut Larry, kondisi ketika otak terus berada dalam keadaan menunggu notifikasi bukan sesuatu yang ideal.

Kewaspadaan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi dan beristirahat. Perhatian pun mudah kembali tertuju kepada ponsel meskipun sebenarnya tidak ada pesan atau pemberitahuan yang masuk.

Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai

Karena itu, salah satu pendekatan yang disarankan adalah memberikan waktu bagi otak untuk beristirahat dari teknologi.

Cara Mengurangi Phantom Pocket Vibration

Salah satu cara yang disarankan adalah melakukan aktivitas tanpa teknologi selama sekitar 10 menit setiap 90 hingga 120 menit.

Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada otak untuk mengurangi kebiasaan selalu mengantisipasi notifikasi.

Baca Juga: Rebutan 300 Kupon Berkat Maulid Nabi di Banyuwangi Berujung Saling Pukul

Seseorang juga dapat membuat jadwal khusus untuk memeriksa komunikasi elektronik. Misalnya, ponsel diperiksa pada waktu tertentu, kemudian tidak digunakan selama periode berikutnya.

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan selama jeda dari teknologi antara lain:

Kurangi Kebiasaan Selalu Menunggu Notifikasi

Phantom pocket vibration pada dasarnya menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan teknologi dapat memengaruhi cara otak merespons berbagai rangsangan.

Baca Juga: Tradisi Lempar Uang Maulid Nabi di Kediri, Jemaah Selipkan Doa Bisa ke Baitullah

Jika seseorang sering merasa ponsel bergetar padahal tidak ada notifikasi, salah satu langkah yang dapat dicoba adalah mengurangi kebiasaan terus-menerus memeriksa ponsel.

Memberikan jeda tanpa teknologi secara berkala dapat membantu mengurangi pola selalu waspada terhadap notifikasi. Dengan begitu, perhatian tidak terus-menerus tertuju pada ponsel dan waktu untuk berkonsentrasi maupun beristirahat dapat menjadi lebih baik.

Baca Juga: Karnaval Sound Horeg di Banyuwangi Dihentikan, Peserta Ambruk dan Meninggal Dunia

Editor : Ubaidillah
phantom pocket vibration syndrome kecemasan digital getaran ponsel notifikasi palsu kesehatan mental