RadarBangkalan.id - Kesepian bukan sekadar perasaan tidak memiliki teman atau kurang berinteraksi dengan orang lain. Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa kurangnya hubungan sosial dapat memengaruhi cara otak bekerja dan memberikan dampak terhadap kesehatan dalam jangka panjang.
Hubungan sosial bahkan dianggap memiliki peran penting bagi manusia. Ketika seseorang mengalami kesepian, otak dapat merespons kondisi tersebut seperti sebuah sinyal bahwa kebutuhan sosial belum terpenuhi. Dikutip dari EveryDay Health, berikut sejumlah perubahan yang dapat berkaitan dengan rasa kesepian.
Baca Juga: Cara Menjaga Berat Badan Tetap Stabil Setelah Diet, Dokter Ungkap 4 Kuncinya
1. Kesepian Bisa Memicu Keinginan Makan
Kesepian ternyata memiliki kemiripan dengan rasa lapar dalam hal respons yang terjadi di otak.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2020 melibatkan 40 peserta sehat. Mereka diminta menjalani isolasi selama 10 jam dan berpuasa selama 10 jam dalam kesempatan berbeda.
Setelah masing-masing periode, peneliti menggunakan functional magnetic resonance imaging atau fMRI untuk melihat aktivitas otak peserta. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan aktivitas otak ketika peserta berada dalam kondisi normal.
Baca Juga: Sering Alami Iyup Saat Pakai Behel? Dokter Ungkap Penyebab dan Kapan Hilang
Peneliti menemukan adanya pola aktivitas otak yang serupa ketika peserta mengalami rasa lapar dan ketika mereka mengalami kesepian.
Para peneliti menduga respons tersebut mungkin merupakan salah satu cara otak mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang dianggap penting. Dalam konteks kesepian, dorongan tersebut dapat berupa keinginan untuk kembali terhubung dengan orang lain.
Baca Juga: Studi Ungkap Wajah Orang Kaya Bisa Terlihat Berbeda, Ini Penjelasannya
2. Kesepian Dapat Memicu Pikiran Negatif
Orang yang mengalami kesepian juga dapat menjadi lebih fokus terhadap hal-hal negatif di sekitarnya.
Salah satu penelitian menemukan bahwa kesepian berkaitan dengan respons pada lobus posterior, bagian otak yang berhubungan dengan perhatian.
Peningkatan perhatian tersebut diduga dapat membuat seseorang lebih berfokus pada diri sendiri maupun berbagai hal yang dianggap mengancam.
Kondisi tersebut kemudian dapat membentuk lingkaran negatif. Kesepian dapat meningkatkan pikiran negatif, sementara semakin banyak pikiran negatif juga dapat berkaitan dengan meningkatnya rasa kesepian.
Pada sebagian orang, kondisi tersebut bahkan dapat memunculkan sikap lebih defensif, bermusuhan, atau agresif.
Baca Juga: Kolesterol Normal Bukan Jaminan Bebas Serangan Jantung, Ini Faktor Risikonya
Sikap tersebut bisa menjadi mekanisme perlindungan karena seseorang yang kesepian mungkin merasa takut kembali mengalami penolakan.
Namun, respons tersebut justru berpotensi membuat orang lain menjauh sehingga hubungan sosial yang sebenarnya dibutuhkan semakin sulit terbentuk.
3. Kesepian Bisa Membuat Sulit Mempercayai Orang Lain
Kesepian juga berkaitan dengan meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi ancaman sosial.
Baca Juga: Berapa Langkah Sehari yang Ideal? Riset Ungkap Target Jalan Kaki untuk Tiap Usia
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih sulit memberikan kepercayaan kepada orang lain.
Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2021, peneliti membandingkan 42 orang yang mengalami kesepian berat dan terus-menerus dengan 42 orang dalam kelompok kontrol.
Peserta diberikan uang secara virtual dan diminta menentukan apakah akan menyimpan seluruh uang atau membagikannya kepada peserta lain. Jika uang dibagikan, nilainya akan menjadi tiga kali lipat dan penerima memiliki kesempatan untuk mengembalikan sebagian dana.
Hasilnya, peserta yang mengalami kesepian membagikan lebih sedikit uang dibandingkan kelompok yang tidak kesepian. Hasil pemindaian fMRI juga menunjukkan aktivitas yang lebih rendah pada sejumlah area otak yang berkaitan dengan pembentukan rasa percaya.
Peneliti juga mengukur kadar oksitosin melalui sampel darah dan air liur. Hormon tersebut antara lain berperan dalam pembentukan ikatan sosial.
Baca Juga: Lomba 17 Agustus Bisa Picu Cedera, Dokter Ortopedi Ungkap Risiko yang Perlu Diwaspadai
Peserta yang tidak kesepian mengalami peningkatan suasana hati setelah percakapan ringan. Perubahan serupa tidak terlihat pada peserta yang mengalami kesepian.
Kelompok yang kesepian juga lebih sering mengaku tidak mempercayai asisten penelitian serta menunjukkan kadar oksitosin yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.
Baca Juga: Bayi 1 Tahun Didiagnosis Sembelit, Ternyata Idap Kanker Langka dengan Tumor 30 Cm
4. Kesepian Dapat Berkaitan dengan Penurunan Fungsi Kognitif
Interaksi sosial juga dapat memberikan stimulasi bagi otak. Ketika seseorang mengalami isolasi dalam waktu lama, kurangnya stimulasi tersebut dapat berkaitan dengan perubahan fungsi kognitif.
Salah satu penelitian mengamati 25 anggota ekspedisi kutub yang menjalani kehidupan terisolasi di Antartika selama 12 bulan.
Setelah menjalani masa isolasi, ditemukan penurunan volume materi abu-abu atau gray matter di sejumlah area otak, termasuk hipokampus dan talamus.
Hipokampus memiliki peran penting dalam proses memori dan pembelajaran, sementara talamus terlibat dalam berbagai fungsi pemrosesan informasi di otak.
Selain perubahan tersebut, isolasi sosial juga dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia dalam sejumlah penelitian.
Baca Juga: Karnaval Sound Horeg di Banyuwangi Dihentikan, Peserta Ambruk dan Meninggal Dunia
Kesepian Perlu Dipandang sebagai Masalah Kesehatan
Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa kesepian bukan hanya persoalan emosional. Kurangnya hubungan sosial dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan perubahan pada aktivitas dan struktur otak, pola pikir, kemampuan mempercayai orang lain, hingga fungsi kognitif.
Baca Juga: Rebutan 300 Kupon Berkat Maulid Nabi di Banyuwangi Berujung Saling Pukul
Namun, hubungan antara kesepian dan perubahan pada otak tidak selalu berarti kesepian merupakan satu-satunya penyebab. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi otak dan kesehatan seseorang.
Karena itu, menjaga hubungan sosial, berinteraksi dengan orang lain, serta mencari dukungan ketika merasa terisolasi dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Editor : Ubaidillah