RadarBangkalan.id - Kebiasaan malas bergerak atau mager dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker, tetapi bukan berarti sedentary lifestyle secara langsung menyebabkan kanker. Hubungan tersebut salah satunya berkaitan dengan obesitas yang dapat muncul akibat kurangnya aktivitas fisik.
Spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi-onkologi, dr Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM, dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, menjelaskan bahwa kanker merupakan penyakit multifaktoral sehingga tidak bisa dikaitkan hanya dengan satu penyebab.
Baca Juga: Ingin Hidup sampai 100 Tahun? Dokter Ungkap 6 Kebiasaan yang Jadi Tandanya
Menurutnya, salah satu jalur yang perlu diperhatikan dari gaya hidup sedentari adalah peningkatan berat badan hingga obesitas. Kondisi tersebut telah dikenal sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kanker.
"Jadi kaitannya dengan obesitas ujungnya. Karena sudah diakui dari penelitian-penelitian yang sudah dipublikasi bahwa obesitas menjadi salah satu faktor risiko untuk memicu terjadinya kanker," kata dr Santi saat temu media di Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026).
Ia menambahkan bahwa kebiasaan hidup yang minim aktivitas fisik dapat membuat indeks massa tubuh atau BMI meningkat. Pada kondisi tersebut, massa otot juga dapat menjadi lebih rendah.
Baca Juga: Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Rahasia Kebugarannya di Usia 39 Tahun
"Jadi gaya hidup yang seperti ini sudah tentu akan membuat orang itu akan bertambah BMI-nya (Body Mass Index), sehingga massa ototnya menjadi kurang," ujarnya.
Baca Juga: Dokter Ungkap Hubungan Berat Badan dan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi
Penelitian Temukan Kaitannya dengan Beberapa Jenis Kanker
Hubungan antara perilaku sedentari dan risiko kanker juga menjadi perhatian dalam penelitian ilmiah.
Salah satu penelitian yang terbit pada 2026 berjudul "Sedentary behaviour and cancer risk: a World Cancer Research Fund International Global Cancer Update Programme (CUP Global) systematic literature review and meta-analysis".
Penelitian tersebut menemukan bukti bahwa perilaku sedentari dalam waktu lama kemungkinan berperan sebagai penyebab kanker payudara dan kanker usus besar.
Sementara itu, bukti yang mendukung hubungan antara perilaku sedentari dengan sejumlah jenis kanker lainnya masih lebih terbatas. Beberapa di antaranya adalah kanker paru-paru dan kanker ovarium.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara kurang bergerak dan kanker perlu dipahami secara hati-hati. Sedentary lifestyle bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang mengalami kanker.
Baca Juga: Cara Menjaga Berat Badan Tetap Stabil Setelah Diet, Dokter Ungkap 4 Kuncinya
Baca Juga: Bayi 1 Tahun Didiagnosis Sembelit, Ternyata Idap Kanker Langka dengan Tumor 30 Cm
Mengapa Kebiasaan Kurang Bergerak Perlu Dihindari?
Kurangnya aktivitas fisik dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan obesitas. Sementara itu, obesitas merupakan salah satu faktor yang telah diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko sejumlah jenis kanker.
Karena itu, mengurangi waktu duduk dan meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, melakukan pekerjaan rumah, berkebun, atau berolahraga secara rutin dapat membantu tubuh tetap aktif. Yang terpenting, kebiasaan bergerak dilakukan secara konsisten dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Dengan demikian, anggapan bahwa "mager menyebabkan kanker" tidak sepenuhnya tepat. Risiko kanker dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi menjalani gaya hidup aktif dapat membantu menjaga berat badan dan mengurangi salah satu faktor risiko yang berkaitan dengan kanker.
Editor : Ubaidillah