Usia 20-an Sudah Berisiko Penyakit Jantung, Riset Ungkap Faktor yang Harus Diwaspadai

Ubaidillah • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 08:00 WIB
Foto ilustrasi: Getty Images/PonyWang
Foto ilustrasi: Getty Images/PonyWang

 

RadarBangkalan.id - Penyakit jantung ternyata tidak hanya menjadi ancaman bagi kelompok lanjut usia. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa sekitar 8 dari 10 orang dewasa muda berusia 20-an sudah memiliki setidaknya satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Temuan tersebut berasal dari riset Future of Families, Cardiovascular Health Among Young Adults (FF-CHAYA) yang melibatkan hampir 1.300 peserta dengan rata-rata usia 23 tahun. Penelitian ini menggunakan kriteria terbaru American Heart Association (AHA) yang memperhitungkan penyakit ginjal kronis sebagai salah satu faktor risiko kardiovaskular.

Baca Juga: Ingin Hidup sampai 100 Tahun? Dokter Ungkap 6 Kebiasaan yang Jadi Tandanya

Pembaruan kriteria AHA pada 2023 juga memperkenalkan konsep cardiovascular-kidney-metabolic (CKM) atau sindrom kardiovaskular-ginjal-metabolik. Konsep tersebut menggambarkan hubungan erat antara gangguan metabolik, penyakit ginjal, dan penyakit kardiovaskular yang dapat muncul secara bersamaan serta saling memengaruhi.

Hanya 21 Persen Anak Muda yang Masuk Kategori Aman

Dalam penelitian tersebut, kondisi kesehatan para peserta dinilai menggunakan skor CKM dengan skala 0 hingga 4. Para peneliti juga melihat indikator Life's Essential 8 yang mencakup perilaku dan parameter kesehatan, serta melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada arteri karotis di leher.

Baca Juga: Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Rahasia Kebugarannya di Usia 39 Tahun

Hasil penelitian menunjukkan hanya 21 persen peserta yang berada pada tahap 0 atau tidak memiliki faktor risiko CKM.

Sementara itu, 40 persen peserta berada pada tahap 1 karena memiliki kelebihan lemak tubuh atau adipositas. Sebanyak 36 persen lainnya masuk tahap 2 karena memiliki faktor risiko metabolik, seperti tekanan darah atau kadar gula darah tinggi.

Adapun sekitar 3 persen peserta sudah berada pada tahap 3. Mereka mengalami penyakit ginjal tingkat lanjut atau menunjukkan tanda awal penyakit kardiovaskular.

Baca Juga: Dokter Ungkap Hubungan Berat Badan dan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi

Dengan demikian, sebagian besar peserta penelitian ternyata sudah memiliki faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular meski masih berada di usia muda.

Semakin Tinggi Risiko, Kondisi Kesehatan Makin Buruk

Para peneliti juga menemukan adanya hubungan antara tingkat CKM dengan kesehatan secara keseluruhan.

Semakin tinggi tahap CKM seseorang, semakin rendah skor Life's Essential 8 yang diperoleh. Pemeriksaan USG juga menunjukkan adanya penebalan pada arteri karotis pada peserta dengan tingkat risiko lebih tinggi.

Penebalan arteri karotis dapat menjadi salah satu tanda awal aterosklerosis, yaitu kondisi ketika terjadi penumpukan plak pada dinding pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyempitan arteri.

Baca Juga: Cara Menjaga Berat Badan Tetap Stabil Setelah Diet, Dokter Ungkap 4 Kuncinya

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan pada pembuluh darah dan faktor risiko penyakit jantung dapat mulai berkembang jauh sebelum seseorang mengalami gejala atau didiagnosis mengidap penyakit kardiovaskular.

Baca Juga: Bayi 1 Tahun Didiagnosis Sembelit, Ternyata Idap Kanker Langka dengan Tumor 30 Cm

Kemenkes Sebut Usia Penderita Penyakit Jantung Bergeser

Fenomena meningkatnya risiko penyakit jantung pada usia muda juga menjadi perhatian Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Kemenkes mengingatkan adanya pergeseran usia penderita penyakit kardiovaskular yang salah satunya berkaitan dengan perubahan gaya hidup.

Baca Juga: Ingin Hidup sampai 100 Tahun? Dokter Ungkap 6 Kebiasaan yang Jadi Tandanya

Sejumlah kebiasaan yang menjadi perhatian antara lain merokok sejak usia dini, mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, kurang melakukan aktivitas fisik, serta meningkatnya angka obesitas.

Kemenkes juga mencatat bahwa 39 persen penderita penyakit jantung di Indonesia berasal dari kelompok usia di bawah 44 tahun. Dari angka tersebut, 22 persen berada pada rentang usia 15-35 tahun.

Data tersebut menjadi pengingat bahwa usia muda tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari risiko penyakit jantung.

Jangan Menunggu Gejala untuk Mulai Mencegah

Penyakit jantung dapat berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Karena itu, menjaga kesehatan jantung sebaiknya dimulai sejak usia muda, bukan menunggu hingga muncul keluhan.

Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan antara lain memperbanyak konsumsi buah, sayuran, dan biji-bijian utuh yang kaya serat. Sumber protein juga dapat dikombinasikan dari protein nabati dan protein hewani tanpa lemak.

Penggunaan lemak tak jenuh, seperti minyak zaitun atau minyak alpukat, juga dapat menjadi pilihan. Sebaliknya, konsumsi daging olahan, makanan tinggi lemak jenuh, gula tambahan, dan natrium sebaiknya dibatasi.

Selain pola makan, aktivitas fisik juga penting. Rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu, tidur sekitar 7-8 jam sehari, tidak merokok, serta mengelola stres dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.

Pesan penting dari penelitian ini adalah pencegahan penyakit jantung sebaiknya tidak menunggu seseorang memasuki usia lanjut. Bahkan sejak usia 20-an, kebiasaan sehari-hari sudah dapat berperan dalam menentukan kesehatan jantung di masa mendatang.

Editor : Ubaidillah
masalah jantung penyakit kardiovaskular penyakit jantung usia muda kesehatan jantung