Masker Dibasahi untuk Tangkal Abu Vulkanik? Dokter Paru Ungkap Risikonya

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 14:12 WIB
Momen masyarakat saat membeli masker (Foto: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)
Momen masyarakat saat membeli masker (Foto: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)

 

RadarBangkalan.id - Masker yang dibasahi disebut-sebut lebih efektif untuk menangkal paparan abu vulkanik. Namun, anggapan tersebut justru perlu dihindari karena masker yang lembap dapat menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan virus, bakteri, hingga jamur.

Dokter spesialis paru dan pernapasan dr Agus Dwi Susanto SpP(K) dari RSUP Persahabatan mengatakan masker yang lembap berisiko meningkatkan gangguan kesehatan, terutama jika digunakan selama berjam-jam di luar ruangan.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Warga Blitar Antre Air Bersih hingga Bawa Jerigen

"Kan biasanya virus dan bakteri itu suka yang lembab-lembab. Kalau dipakai selama sekian jam di luar, justru ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) akan lebih cepat terjadi. Bahkan bisa tumbuh jamur juga," kata Agus dalam program detikPagi, Senin (7/9/2026).

Masker Tidak Perlu Dibasahi

Agus menjelaskan penggunaan masker respirator dalam kondisi khusus, termasuk saat terjadi kebakaran hutan atau bencana abu vulkanik, tetap harus memperhatikan waktu pemakaian.

Masker yang digunakan untuk menyaring udara dari luar perlu diganti secara berkala. Sebab, masker secara alami akan menjadi lembap setelah digunakan dalam waktu tertentu akibat uap air dari napas.

Baca Juga: Motor Pasien Dicuri di Depan Klinik Probolinggo, Aksi Pelaku Terekam CCTV

"Artinya secara waktu tertentu harus diganti. Karena udara yang kita hirup itu dari luar banyak kotorannya, tapi dari dalam, napas kita itu mengandung uap air. Uap air itu akan membuat masker terasa lembab setelah sekian jam," jelasnya.

Menurut Agus, masker sebaiknya diganti sekitar setiap 6-8 jam dan tidak perlu dibasahi terlebih dahulu.

Baca Juga: Ustaz di Pasuruan Diamankan, Diduga Cabuli Dua Murid Perempuan Usia 11 Tahun

"Nah, kalau lembab itu menjadi sumber infeksi. Oleh karena itu harus diganti misalnya 6 sampai 8 jam sekali, dan tidak boleh dibasahi ya," sambungnya.

Masker Basah Bisa Membuat Abu Vulkanik Menempel

Agus juga menjelaskan alasan lain mengapa masker tidak dianjurkan untuk dibasahi ketika digunakan menghadapi abu vulkanik.

Abu vulkanik mengandung berbagai material, salah satunya silika. Ketika masker dalam kondisi basah, partikel abu justru dapat lebih mudah menempel pada permukaan masker.

"Nempel bisa jadi kayak semen. Bayangkan kalau masker kita jadi padat, itu akan membuat sesak napas, udaranya nggak bisa masuk karena ada lapisan tebal yang seperti semen akibat debu nempel di masker yang basah tadi," ujarnya.

Baca Juga: Usai 49 Siswa dan Guru Keracunan MBG, SPPG Begadung 2 Nganjuk Tutup

Kondisi tersebut dapat membuat aliran udara melalui masker semakin sulit. Karena itu, membasahi masker bukanlah cara yang dianjurkan untuk meningkatkan perlindungan terhadap abu vulkanik.

Penggunaan masker yang sesuai dan penggantian secara berkala menjadi langkah yang lebih tepat untuk membantu melindungi saluran pernapasan ketika berada di wilayah yang terdampak abu vulkanik.

Editor : Ubaidillah
kesehatan paru masker basah silika abu vulkanik bencana alam