Gunung Anak Krakatau Erupsi, IDAI Ingatkan Orang Tua Lindungi Anak dari Abu Vulkanik

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 14:18 WIB
Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

 

RadarBangkalan.id - Erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung sejak 4 September 2026 dan statusnya berada di Level III atau Siaga. Sebaran abu vulkanik telah mencapai sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek, Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.

Kondisi tersebut membuat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua untuk meningkatkan perlindungan anak dari paparan abu vulkanik. Anak yang terpaksa harus keluar rumah dianjurkan menggunakan perlindungan yang dapat mengurangi paparan partikel abu ke saluran pernapasan, mata, dan kulit.

Baca Juga: Benarkah Minum Susu Bikin Gemuk? Dokter Gizi Ungkap Faktanya

 

Anak Perlu Menggunakan Masker

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Wahyuni Indawati, SpA, Subsp Respi (K), mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan pada anak.

Jika anak harus keluar rumah, pastikan masker khusus digunakan dan terpasang dengan baik. Masker dapat membantu menyaring partikel abu sehingga mengurangi jumlah abu yang terhirup.

"Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," kata Wahyuni.

Baca Juga: Masker Dibasahi untuk Tangkal Abu Vulkanik? Dokter Paru Ungkap Risikonya

Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi anak setelah kembali dari luar rumah. Jika muncul keluhan pernapasan atau gejala lain yang mengkhawatirkan, anak perlu segera mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga: Viral Tambal Gigi Sendiri Pakai Bahan Online, Dokter Ungkap Risiko Infeksi dan Radang

Lindungi Mata dan Kulit Anak

Paparan abu vulkanik tidak hanya berisiko mengganggu saluran pernapasan. Partikel abu juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Karena itu, anak yang harus berada di luar ruangan dianjurkan menggunakan pelindung mata seperti kacamata. Pakaian tertutup juga dapat digunakan untuk mengurangi kontak langsung antara abu vulkanik dengan kulit.

Setelah anak kembali ke rumah, orang tua sebaiknya segera membersihkan tubuh anak dan mengganti pakaian yang digunakan saat berada di luar. Langkah tersebut membantu mengurangi sisa partikel abu yang menempel pada tubuh dan pakaian.

Anak dengan Asma Perlu Perhatian Lebih

Perlindungan perlu lebih diperhatikan pada anak yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran pernapasan. Orang tua dianjurkan memastikan obat rutin dan obat darurat yang biasa digunakan anak tersedia.

Selain paparan abu vulkanik dari luar rumah, sumber polusi di dalam rumah juga perlu dihindari. Asap rokok dan asap dari aktivitas memasak dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan anak yang sudah mengalami iritasi.

Baca Juga: Wanita Ini Hampir Buta 4 Bulan karena Lensa Kontak, Ternyata Dipicu Kebiasaan Mandi

Orang tua juga perlu memastikan anak mendapatkan cukup air putih untuk membantu mencegah dehidrasi. Asupan makanan bergizi seimbang juga penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh anak.

Jangan Tunggu Gejala Berat

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio (K), meminta perlindungan terhadap anak dilakukan sejak dini selama abu vulkanik masih mengancam.

Baca Juga: Motor Pasien Dicuri di Depan Klinik Probolinggo, Aksi Pelaku Terekam CCTV

"Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Ditengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat. Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatannya di masa depan," tegas Piprim.

Dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih tinggi dan sebaran abu yang telah mencapai sejumlah wilayah, orang tua perlu membatasi aktivitas anak di luar rumah jika kondisi tidak memungkinkan.

Jika anak mengalami napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Warga Blitar Antre Air Bersih hingga Bawa Jerigen

Editor : Ubaidillah
gunung anak krakatau abu vulkanik kesehatan anak anak perlindungan anak