Bukan Cuma Teka-teki, Ini 7 Aktivitas yang Sering Disukai Orang Ber-IQ Tinggi

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 05:59 WIB
Pemilik IQ tinggi punya kebiasaan unik. Foto: Getty Images/iStockphoto/metamorworks
Pemilik IQ tinggi punya kebiasaan unik. Foto: Getty Images/iStockphoto/metamorworks

 

RadarBangkalan.id - Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghabiskan waktu luang. Namun, sejumlah aktivitas sederhana dapat menjadi pilihan menarik bagi orang yang senang mendapatkan stimulasi intelektual, mulai dari memecahkan teka-teki hingga membaca literatur yang menantang.

Aktivitas seperti bermain puzzle, melakukan deep talk, mempelajari bahasa baru, hingga menjelajahi budaya lain tidak hanya dapat menjadi hiburan. Kegiatan tersebut juga memberi kesempatan untuk berpikir, belajar, berkreasi, dan mendapatkan pengalaman baru.

Baca Juga: Petani Bojonegoro Ambil 2 Kayu Jati, Upaya Restorative Justice Ditolak Perhutani

1. Memecahkan Masalah dan Teka-teki yang Kompleks

Permainan seperti catur, puzzle, teka-teki silang (TTS), atau berbagai tantangan yang membutuhkan pemecahan masalah dapat menjadi aktivitas yang menarik bagi orang yang menyukai tantangan intelektual.

Menurut Marcel Danesi, PhD, profesor semiotika dan antropologi di Victoria College, University of Toronto, teka-teki dapat merangsang bagian-bagian tertentu dari otak.

"Teka-teki yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa- seperti teka-teki dan akrostik-cenderung merangsang area bahasa di otak. Sedangkan teka-teki yang berkaitan dengan aspek berpikir logis-seperti menempatkan simbol dengan cara tertentu dalam sebuah kisi-cenderung merangsang area pemrosesan logika," katanya.

Baca Juga: Rp101 Miliar untuk 56 Ruas Jalan Bangkalan, FPB Minta Pengawasan Diperkuat

Aktivitas pemecahan masalah juga dapat memberikan tantangan mental karena seseorang perlu mencari pola, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan menemukan solusi.

TTS dan puzzle kerap dianggap sebagai aktivitas yang dapat membantu menjaga keterlibatan kognitif. Namun, manfaatnya terhadap pencegahan penyakit otak tidak sebaiknya dipahami sebagai jaminan dapat mencegah demensia atau gangguan daya ingat.

Baca Juga: Insiden Diare di HYROX Beijing, Joanna Wietrzyk Putuskan Mundur

2. Melakukan Deep Talk

Sebagian orang memilih mengisi waktu luang dengan percakapan yang bermakna dan menggugah pikiran bersama orang-orang terdekat.

Deep talk memungkinkan seseorang membicarakan berbagai hal secara lebih mendalam, mulai dari pengalaman pribadi, pandangan hidup, hingga berbagai persoalan yang sedang dipikirkan.

Nicholas Epley, PhD, profesor ilmu perilaku di University of Chicago Booth School of Business, menjelaskan bahwa percakapan yang bermakna dapat berkaitan dengan kebahagiaan dan hubungan sosial.

"Terhubung dengan orang lain dengan cara yang bermakna cenderung membuat orang lebih bahagia, namun orang juga tampaknya enggan untuk terlibat dalam percakapan yang lebih dalam dan bermakna," kata Nicholas Epley, PhD, seorang profesor ilmu perilaku di University of Chicago Booth School of Business, menurut penelitian yang diterbitkan oleh American Psychological Association.

"Manusia adalah makhluk sosial yang cenderung saling membalas dalam percakapan. Jika Anda berbagi sesuatu yang bermakna dan penting, kemungkinan besar Anda akan mendapatkan sesuatu yang bermakna dan penting sebagai balasan, yang mengarah pada percakapan yang jauh lebih baik," lanjut Epley.

Baca Juga: Rp101 Miliar untuk 56 Ruas Jalan Bangkalan, FPB Minta Pengawasan Diperkuat

Baca Juga: Kemarau Panjang Picu Kebakaran Lahan di Towuti, TNI-Polri dan Damkar Bergerak Cepat

3. Mempelajari Bahasa Baru

Mempelajari bahasa baru merupakan aktivitas yang membutuhkan proses belajar secara aktif. Seseorang perlu memahami kosakata, tata bahasa, struktur kalimat, hingga konteks penggunaannya.

Bagi orang yang menikmati tantangan mental, proses tersebut dapat menjadi aktivitas yang menarik sekaligus membuka kesempatan untuk mengenal budaya lain.

Baca Juga: Gol Dianulir VAR! Arema FC Gagal Kalahkan Persik Kediri di Kanjuruhan

Belajar bahasa juga membutuhkan kemampuan mengingat dan menerapkan informasi baru. Karena itu, kegiatan ini dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan stimulasi mental dalam kehidupan sehari-hari.

4. Melakukan Kegiatan Kreatif

Kecerdasan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berpikir logis. Aktivitas kreatif seperti melukis, membuat keramik, memahat, bermusik, dan fotografi juga dapat menjadi kegiatan yang memberikan stimulasi mental.

Proses menciptakan karya mengharuskan seseorang mengembangkan ide, menghubungkan berbagai konsep, serta mencari cara berbeda untuk menyampaikan sesuatu.

"Aktivitas apa pun yang melibatkan pikiran kreatif-kemampuan menghubungkan berbagai hal yang sebelumnya tidak berkaitan dan membayangkan cara baru untuk menyampaikan sesuatu-itu baik untuk Anda," ujar Girija Kaimal, profesor di Drexel University sekaligus peneliti terapi seni, kepada National Public Radio.

Baca Juga: 500 Personel Dikerahkan, Karhutla Gunung Wilis di Nganjuk Dipastikan Mereda

5. Mengoleksi Barang

Mengoleksi buku langka, karya seni, barang antik, atau benda tertentu juga dapat menjadi hobi yang memberikan kesempatan untuk belajar.

Baca Juga: PERDOSKI Buka Suara soal Skin Booster 'Kulit Mayat' dari Korea

Bagi kolektor, sebuah benda tidak selalu dinilai hanya dari harga atau kelangkaannya. Sejarah, cerita, budaya, serta nilai estetika yang melekat pada benda tersebut dapat menjadi bagian yang menarik untuk dipelajari.

Sebuah benda antik, misalnya, dapat menghubungkan seseorang dengan cerita masa lalu. Radio tua bisa mengingatkan seseorang pada anggota keluarga, sementara kartu pos lama dapat memberikan gambaran mengenai kehidupan dan komunikasi pada masa berbeda.

Dengan demikian, aktivitas mengoleksi juga dapat menjadi pintu masuk untuk mempelajari sejarah, budaya, dan perkembangan masyarakat.

6. Bepergian dan Menjelajahi Berbagai Budaya

Bepergian bukan hanya tentang mengunjungi destinasi wisata. Perjalanan juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenal seni, sejarah, arsitektur, bahasa, makanan, dan tradisi masyarakat setempat.

Menjelajahi budaya yang berbeda memungkinkan seseorang melihat kehidupan dari perspektif yang tidak selalu ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Insiden Diare di HYROX Beijing, Joanna Wietrzyk Putuskan Mundur

Sebagian orang bahkan lebih tertarik berinteraksi dengan masyarakat lokal daripada sekadar mengunjungi lokasi wisata populer. Dari pengalaman tersebut, mereka dapat memperoleh wawasan mengenai kebiasaan, nilai, dan cara pandang masyarakat di tempat yang dikunjungi.

Baca Juga: Pria di Bondowoso Ditangkap, Diduga Perkosa Anak Tiri Selama 4 Tahun

Pengalaman tersebut dapat memperluas pengetahuan sekaligus membuat seseorang memahami bahwa satu persoalan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

7. Membaca Literatur yang Menantang

Membaca menjadi salah satu aktivitas yang dapat dilakukan untuk terus mendapatkan pengetahuan baru. Bagi pembaca yang menyukai tantangan intelektual, pilihan bacaan tidak terbatas pada satu bidang.

Seseorang dapat membaca filsafat, sejarah, sains, teknologi, sastra, hingga buku mengenai pemrograman secara bergantian.

Sebuah studi tahun 2016 yang diterbitkan dalam Social Science & Medicine dan melibatkan peserta berusia di atas 50 tahun menemukan bahwa membaca buku berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah selama masa tindak lanjut dibandingkan dengan mereka yang tidak membaca buku.

Namun, hasil penelitian tersebut merupakan temuan asosiasi dalam kelompok penelitian dan tidak berarti membaca buku secara langsung menjamin seseorang memiliki umur lebih panjang.

Baca Juga: Real Betis Menang 1-0 atas Getafe, Start Positif Pellegrini Berlanjut

Orang yang gemar membaca juga dapat menggunakan buku untuk memahami berbagai sudut pandang dan cara berpikir. Karena itu, mereka bisa berpindah dari satu topik ke topik lain sesuai dengan rasa ingin tahu dan minat yang sedang berkembang.

Editor : Ubaidillah
kecerdasan memecahkan teka-teki aktivitas orang ber-iq tinggi deep talk