Agnes Ngetich Pecahkan Rekor Dunia Half Marathon Wanita, Catat Pace 3:34

Ubaidillah • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 05:58 WIB
Agnes Jebet Ngetich (Foto: World Athletics via Getty Images/Gaelle Mobuchon)
Agnes Jebet Ngetich (Foto: World Athletics via Getty Images/Gaelle Mobuchon)

 

RadarBangkalan.id - Pelari Kenya, Agnes Ngetich, membuat sejarah dengan memecahkan rekor dunia Half Marathon (HM) wanita. Ia mencatat waktu 1 jam 5 menit 15 detik atau 1:05:15, dengan rata-rata pace sekitar 3 menit 34 detik per kilometer.

Dikutip dari Al Jazeera, Agnes menjadi juara di World Athletics Road Running Championships di Copenhagen pada Minggu (20/9). Pelari berusia 25 tahun itu tampil dominan sejak awal perlombaan dan mampu mempertahankan posisi terdepan hingga melewati garis finis.

Baca Juga: Guru Yoga 103 Tahun Ungkap 5 Kebiasaan Sederhana yang Membuatnya Tetap Bugar

Catatan tersebut membuat Agnes menorehkan rekor dunia HM khusus kategori wanita.

Rekor Sebelumnya Juga Milik Pelari Kenya

Rekor Half Marathon wanita sebelumnya dipegang pelari Kenya, Peres Jepchirchir. Ia mencatatkan waktu tercepat dalam ajang World Half Marathon di Polandia pada 2020.

Namun, terdapat pembagian kategori dalam pencatatan rekor dunia Half Marathon oleh organisasi atletik dunia.

Baca Juga: Bukan Cuma Teka-teki, Ini 7 Aktivitas yang Sering Disukai Orang Ber-IQ Tinggi

Agnes Ngetich merupakan pemegang rekor untuk kategori women only, sedangkan kategori mixed gender masih menjadi milik pelari Etiopia, Letesenbet Gidey.

Gidey mencatat waktu 1 jam 2 menit 52 detik atau 1:02:52 ketika tampil di Valencia Half Marathon pada 24 Oktober 2021.

Baca Juga: PERDOSKI Buka Suara soal Skin Booster 'Kulit Mayat' dari Korea

Mengapa Banyak Pelari Hebat Berasal dari Kenya?

Kenya selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu negara yang menghasilkan banyak pelari jarak jauh kelas dunia. Faktor yang mendukung prestasi tersebut tidak hanya berasal dari latihan, tetapi juga kebiasaan hidup, lingkungan, hingga persiapan atlet.

Dikutip dari laman World Athletics, masyarakat Kenya memiliki kedekatan yang kuat dengan aktivitas lari. Bahkan, sebagian anak-anak terbiasa berlari dalam perjalanan menuju sekolah.

"Lari adalah sesuatu yang datang secara alami kepada kita karena itu telah menjadi bagian dari gaya hidup kita sejak lahir," kata juara dunia setengah maraton tiga kali dan juara Maraton New York City dua kali, Geoffrey Kamworor.

Pengalaman berlari sejak usia muda juga diceritakan Kamworor ketika dirinya masih bersekolah.

"Saat masih kecil, saya biasa berlari dari rumah ke sekolah yang berjarak tiga kilometer setiap hari, jadi Anda akhirnya berlari hingga 12 kilometer sehari sebagai remaja tanpa menyadarinya."

Baca Juga: Insiden Diare di HYROX Beijing, Joanna Wietrzyk Putuskan Mundur

Baca Juga: 500 Personel Dikerahkan, Karhutla Gunung Wilis di Nganjuk Dipastikan Mereda

Faktor Genetika dan Ketinggian

Selain kebiasaan, faktor genetika juga disebut turut berperan dalam keberhasilan sejumlah pelari Kenya.

Banyak pelari jarak jauh terbaik Kenya berasal dari wilayah Lembah Rift dan suku Kalenjin. Dibandingkan sejumlah kelompok lain di Kenya, masyarakat Kalenjin kerap dikaitkan dengan karakteristik fisik yang mendukung lari jarak jauh, seperti tubuh ramping dan kaki panjang.

Baca Juga: Petani Bojonegoro Ambil 2 Kayu Jati, Upaya Restorative Justice Ditolak Perhutani

Faktor tersebut menjadi salah satu bagian dari berbagai aspek yang dapat membantu seorang atlet dalam olahraga lari. Namun, keberhasilan atlet tidak hanya ditentukan oleh faktor fisik.

Lingkungan tempat para pelari Kenya berlatih juga menjadi faktor penting. Kawasan antara Kaptagat dan Iten dikenal memiliki banyak kamp pelatihan bagi atlet elite.

Wilayah tersebut berada di ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut. Kondisi dengan kadar oksigen lebih rendah membuat latihan di dataran tinggi dapat mendorong adaptasi tubuh, termasuk peningkatan konsentrasi sel darah merah dan hemoglobin.

Adaptasi tersebut dapat memberikan keuntungan fisiologis ketika atlet kembali bertanding di dataran yang lebih rendah.

Baca Juga: Derby Madrid Memanas: Atletico Bisa Salip Real Madrid, Mbappe Jadi Ancaman Serius

Baca Juga: 24 Daerah Jatim Darurat Kekeringan, Salat Istisqa' Mulai Digelar untuk Memohon Hujan

Latihan dan Recovery Jadi Bagian Penting

Para pelari Kenya tidak hanya mengandalkan latihan untuk meningkatkan performa. Recovery dan pemenuhan nutrisi juga menjadi bagian penting dalam persiapan mereka.

Baca Juga: Pemuda Gresik Histeris Saat Digerebek Polisi, 15 Paket Sabu Ditemukan di Kos Surabaya

Dengan kombinasi latihan, pemulihan, nutrisi, lingkungan, serta kebiasaan berlari sejak usia muda, sejumlah atlet Kenya mampu berkembang menjadi pelari jarak jauh dengan prestasi internasional.

Agnes Ngetich kini menambah panjang daftar tersebut setelah mencetak rekor dunia Half Marathon wanita dengan catatan waktu 1:05:15 di Copenhagen.

Editor : Ubaidillah
half marathon agnes ngetich world athletics suku kalenjin atletik